drh. Chaidir, MM | Ketuku Batang Ketakal | PERISTIWA Sampang, Madura, laksana alarm jam weaker yang berdering kencang mengejutkan dan membangunkan. Kita pun sontak terduduk limbung di tepi katil. Ada pekerjaam rumah yang belum diselesaikan sementara matahari sudah tinggi sepenggalah.  Sebenarnya, pekerjaan rumah itu sudah dikerjakan sejak la
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ketuku Batang Ketakal

Oleh : drh.chaidir, MM

PERISTIWA Sampang, Madura, laksana alarm jam weaker yang berdering kencang mengejutkan dan membangunkan. Kita pun sontak terduduk limbung di tepi katil. Ada pekerjaam rumah yang belum diselesaikan sementara matahari sudah tinggi sepenggalah. Sebenarnya, pekerjaan rumah itu sudah dikerjakan sejak lama, tapi tak terselesaikan dengan baik. Barangkali sengaja dibiarkan tak rampung, atau barangkali juga dikerjakan asal-asalan.

Apapun namanya, kekerasan yang berbau agama telah terjadi. Semakin dinyatakan peristiwa itu bukan berbau agama, semakin dimafhumi itu kekerasan agama. Semakin diseret ke wilayah eufemisme semakin membuat kita terhenyak galau. Kekerasan agama yang menurut kita sudah lama hanyut dan terkubur dalam bilik sejarah masa silam yang kelam, ternyata masih ada. Ternyata kerukunan antar umat beragama yang selama ini mantap aman terkendali, mudah sekali koyak. Selaput itu rupanya rapuh. Kita seperti kembali ke kilometer nol, berjalan lagi dari awal, sayangnya beban di pundak semakin berat. Masyarakat kita persis seperti Sysipus dalam mitos Yunani Kuno yang dikutuk harus mendorong batu besar ke puncak bukit kemudian menggelindingkannya ke bawah untuk kemudian kembali mendorongnya ke puncak bukit, begitu seterusnya sepanjang masa.

Dalam masyarakat modern yang cenderung anomie dewasa ini, agama seharusnya menjadi solusi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin. Agama seharusnya tampil dalam wajah lembut menentramkan, penuh senyuman, bukan dalam wajah garang dengan kumis panjang melintang. Agama, sesungguhnya, tidak ada urusan dengan kerusuhan. Bahkan agama - tak terkecuali agama apapun - tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan tindakan mungkar. Agama selalu memberi nasihat fundamental kepada umatnya untuk senantiasa menegakkan kebaikan dan mencegah kejahatan. Beberapa ulama menyebut, bila agama itu bisa diringkas, maka rumusannya adalah akhlak mulia. Manusia yang berakhlak mulia tak akan melakukan kejahatan dan perbuatan-perbuatan tercela. Oleh karena itulah wajar bila Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof Mahfud MD, sebagaimana dirilis oleh berbagai media, mengatakan: "Sekarang ini selamatkan orang-orang yang terancam. Tidak boleh ada pengadilan oleh rakyat untuk rakyat. Itu biadab," ujarnya. Sebagai seorang tokoh yang berasal dari Madura, Mahfud MD wajar geram.

Tantangan terbesar kerukunan beragama adalah rendahnya apresiasi kelompok tertentu dalam masyarakat terhadap keberagaman. Padahal keberagaman itu merupakan hukum sejarah, sesuatu yang given (kodrati). Dalam masyarakat Melayu, keberagaman itu juga sudah menjadi kesadaran sejak zaman nenek moyang dan diekspresikan dalam pantun: "Ketuku batang ketakal, kedua batang keladi moyang, sesuku kita seasal, senenek kita semoyang."

Kita tak henti-hentinya harus berikhtiar mengelola perbedaan secara lebih terhormat. Bisa? Harus bisa. Karena manusia dibekali akal budi, sesuatu yang membedakannya dengan satwa yang hanya dibekali naluri dan hawa nafsu.

kolom - Riau Pos 3 September 2012
Tulisan ini sudah di baca 1027 kali
sejak tanggal 03-09-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat