drh. Chaidir, MM | Menteri Urusan Mudik | MUDIK lebaran pasti membawa banyak kisah. Ada rasa bahagia setelah bersua orang-orang tercinta, ayah-bunda, sanak famili, karib kerabat. Lega setelah ziarah. Perasaan rindu terhadap suasana dan bau kampung halaman, tuntas terobati. Ada suasana segar alam pegunungan yang tak ditemui di kota. Pokoknya
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menteri Urusan Mudik

Oleh : drh.chaidir, MM

MUDIK lebaran pasti membawa banyak kisah. Ada rasa bahagia setelah bersua orang-orang tercinta, ayah-bunda, sanak famili, karib kerabat. Lega setelah ziarah. Perasaan rindu terhadap suasana dan bau kampung halaman, tuntas terobati. Ada suasana segar alam pegunungan yang tak ditemui di kota. Pokoknya sejuta rasa. Juga tentu tak ketinggalan, kisah seru berdesak-desakan di terminal, di stasiun, dan di feri penyeberangan. Berebut tempat duduk di bus dan di kereta api, bau apak kerumunan, terjebak macet, dan seterusnya.

Tapi juga tak sedikit kisah duka. Andai rahasia tentang skenario duka-lara itu bocor sebelum berangkat mudik, pasti korban dan keluarganya membatalkan rencana mudik. Tapi, yang namanya duka tak pernah tiba berkirim berita. Tak ada aba-aba. Dia begitu saja hadir dalam hitungan detik, dan segala sesuatu berubah. Orang-orang tercinta tiba-tiba saja pergi selamanya. Sandaran penyangga hidup keluarga mendadak rubuh membawa pesan buruk sebuah masa depan yang kelam. Tragedi kecelakaan mudik lebaran demikian saja membelokkan sejarah kehidupan sebuah keluarga.

Sesungguhnya kita hanya ingin berbicara yang manis-manis dalam suasana Idul Fitri ini, seperti manisnya kue-mue yang terhidang. Tapi fakta di depan mata membuat kita tercenung. Tradisi mudik lebaran tak henti-hentinya menelan korban. Tragisnya, angka korban tewas, sebagaimana dimuat berbagai media cetak dan media sosial, amat menyedihkan. Persoalan nyawa manusia, jangankan dalam jumlah puluhan, satu orang saja tewas akibat kelalaian bisa disebut tragedi. Apatah lagi jumlah yang dilaporkan berbagai media mencapai ratusan orang. Angkanya bervariasi. Pada 2010 jumlah korban tewas tercatat sebanyak 632 orang, pada 2011 sebanyak 587 korban (Nasional.news.viva.co.id 4 September 2011). Angka tersebut berada di bawah angka pemudik yang tewas pada 2009 yang mencapai jumlah 702 orang. Namun pada 2012 tahun ini dari berbagai sumber tercatat, jumlah pemudik yang tewas di jalan mencapai 820 orang. Jumlah korban luka berat dan ringan akibat kecelakaan lalu-lintas selama prosesi mudik setiap tahun mencapai jumlah ribuan orang. Mengerikan.

Berdasarkan pengalaman dari tahun ke tahun, jumlah pemudik yang tewas dan mengalami luka berat dan ringan akibat kecelakaan lalu-lintas tidak menunjukkan penurunan. Tahun 2012 ini pemudik yang tewas bahkan mencapai angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Pertanyaannya, tidakkah ada perbaikan sarana dan prasarana transportasi sehingga bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pemudik lebaran? Rasanya mustahil tidak ada perbaikan, termasuk berbagai jenis moda transportasi (darat, laut dan udara). Sebab, aparatur pemerintah dan aparat keamanan terkait tentu setiap tahun melakukan evaluasi dan setiap kali memperoleh umpan balik untuk perbaikan. Bukankah setiap tahun peristiwa mudik lebaran ini selalu berulang? Dari berbagai laporan disebut, angka kecelakaan tertinggi adalah pada pemudik yang menggunakan sepeda motor. Dan pemudik yang menggunakan sepeda motor setiap tahun jumlahnya meningkat. Keadaan ini tentu mencemaskan.

Tragedi korban mudik lebaran ini harus dicegah. Angkat seorang Menteri Urusan Mudik Lebaran untuk menyusun perencanaan yang matang dan mengendalikan tradisi mudik lebaran ini supaya berjalan aman, nyaman, tertib dan lancar. Pemudik itu manusia.

kolom - Riau Pos 27 Agustus 2012
Tulisan ini sudah di baca 972 kali
sejak tanggal 27-08-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat