drh. Chaidir, MM | Tuah Burung Serindit | ENTAH mimpi apa nenek moyang burung serindit. Tak dinyana burung ini harum namanya sehingga membuat orang Melayu Riau mabuk kepayang dan menjadikannya satwa identitas daerah Riau. Padahal ada ratusan jenis burung yang tersebar di hutan Riau, mulai dari yang berbunyi merdu, sampai yang berbulu indah.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tuah Burung Serindit

Oleh : drh.chaidir, MM

ENTAH mimpi apa nenek moyang burung serindit. Tak dinyana burung ini harum namanya sehingga membuat orang Melayu Riau mabuk kepayang dan menjadikannya satwa identitas daerah Riau. Padahal ada ratusan jenis burung yang tersebar di hutan Riau, mulai dari yang berbunyi merdu, sampai yang berbulu indah.

Untung burung serindit tak besar kepala, tak pongah, dan tak pandai pula minta royalty kepada Pemerintah Provinsi Riau atas penggunaan patung mereka sebagai maskot, padahal kalau diminta pasti diberi, atau paling tidak bisa cincai-cincai tak penuh ke atas penuh ke bawah. Alasan burung serindit tak mendapatkan royalty sederhana saja, bukan karena burung serindit tidak butuh fulus, tapi karena burung serindit tak punya rekening bank apalagi rekening gendut. Jadi, kemana uang hendak dikirim?

Di Riau, karena dianggap memiliki tuah atau hoki, burung serindit tidak hanya dijadikan icon burung daerah, tetapi juga dijadikan maskot PON XVIII. Pilihan icon tersebut terinspirasi dari bentuk burung serindit yang konon melambangkan semangat, keberanian dan enerjik. Perihal burung serindit ini, Gubernur Riau Rusli Zainal menulis dalam Catatannya di Riau Pos, "Melayunya Riau di Gerbang Segala Pintu" (Riau Pos, 3/8/2012 halaman 1). Bagi orang Melayu Riau, demikian Gubernur RZ menulis, serindit sudah lama dimitoskan bahkan diabadikan dalam berbagai cerita rakyat dan dijadikan lambang-lambang: kebijaksanaan, keindahan, keberanian, kesetiaan, kerendahan hati, dan juga lambang kearifan. Unsur burung serindit ini dimasukkan pula ke dalam lambang Provinsi Riau, yakni pada "Hulu Keris" yang disebut "Hulu Keris Kepala Serindit", yang melambangkan keberanian, arif dan bijaksana di dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Keris sebagai bagian pakaian lengkap adat Riau, hulunya bermotif burung Serindit. Di dalam cerita-cerita rakyat Riau, terutama kisah mengenai dunia fauna, burung ini disebut dengan gelar "Panglima Hijau". Di dalam kehidupan orang Melayu Riau, sangkar berisi Serindit digantungkan di bagian depan rumah, tidak jauh dari ambang pintu muka. Penempatan ini dikaitkan pula dengan adanya kepercayaan, bahwa serindit dapat menolak "sihir", "penyakit ayan" dan sebagainya.

Semua serba burung serindit. Bandara Pekanbaru Sultan Syarif Kasim II yang baru selesai dibangun, arsitekturnya juga menggambarkan burung serindit yang sedang mengepakkan sayap. Maka jangan heran, menjelang PON XVIII bulan depan, patung burung serindit terlihat di segala penjuru Riau, khususnya di Pekanbaru. Boneka burung serindit dalam berbagai pose, seperti sedang menendang bola, sedang memegang raket badminton, sedang bermain basket, bermain voli, terpampang mencolok. Di Stadion Utama Riau, demikian besarnya patung tersebut sehingga terkesan sebagai sebuah berhala. Untung burung serindit tidak ikut dalam pilgub Riau 2013 yang akan datang. Sebab boleh jadi serinditlah yang paling populer dibandingkan dengan beberapa bakal calon lain yang sekarang perang baliho.

Sayangnya, belum ada kajian yang mendalam mengapa burung serindit dicitrakan memiliki mitos tentang kebijaksanaan, keindahan, keberanian, kesetiaan, kerendahan hati, dan juga kearifan. Burung serindit memang memiliki keindahan warna. Bulu sayapnya berwarna hijau tua, dan pada ujungnya terdapat warna merah dan hitam. Badannya berwarna hijau muda bercampur kekuning-kuningan, sedangkan di punggungnya terdapat warna kuning dan kecoklatan. Ekor herwarna hijau tua bercampur dengan merah dan hitam. Di puncak kepalanya terdapat warna biru.

Kebiasaan unik serindit adalah menggantung dengan kepala ke bawah pada waktu tidur. Mungkin di sinilah tuahnya. Tapi sebaiknya jangan ditiru.

kolom - Koran Riau 7 Agustus 2012
Tulisan ini sudah di baca 7966 kali
sejak tanggal 08-08-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat