drh. Chaidir, MM | Kebesaran Kaca Spion | SEJARAH adalah guru kehidupan. Filsuf zaman Kekaisaran Romawi kuno, Cicero menyebut, historia magistra vitae. Dalam semangat yang hampir sama, Bung Karno, Presiden pertama RI, menyebut
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kebesaran Kaca Spion

Oleh : drh.chaidir, MM

SEJARAH adalah guru kehidupan. Filsuf zaman Kekaisaran Romawi kuno, Cicero menyebut, historia magistra vitae. Dalam semangat yang hampir sama, Bung Karno, Presiden pertama RI, menyebut "Jasmerah" - jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Sejarah adalah tanda zaman yang dapat kita buka hari ini, tempat kita berkaca. Sejarah adalah rangkaian peristiwa masa silam yang memiliki nilai sesuatu banget.(sekali lagi pinjam frasa Syahrini).

Dari sejarah kita tahu perjalanan bangsa, betapa besar pengorban yang telah diberikan tanpa pamrih oleh para pejuang. Dari sejarah kita tahu, ribuan pejuang gugur sebagai pahlawan dan namanya kini terukir di makam pahlawan, dan ribuan lagi gugur sebagai pahlawan tak dikenal. Ternyata...oh ternyata...meriam Belanda berani dilawan dengan bambu runcing oleh pemuda-pemuda kita. Opo ora hebat? Ternyata, semboyan "merdeka atau mati" bukan main-main seperti tantangan "wani piro" yang sering kita dengar sekarang.

Dari sejarah kita tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan buah dan puncak perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Ternyata, Belanda yang memiliki tim sepakbola bertabur bintang yang memperkenalkan total football itu, dulu pernah menjajah kita selama tiga setengah abad. Dari sejarah kita tahu kakek-kakek pemain Tim Samurai Jepang yang bermain penuh semangat menyingkirkan Juara Dunia Spanyol dan semalam menghantam Mesir 3-0 di Olimpiade London, pernah menjajah Indonesia selama tiga setengah tahun. Jangan-jangan semangat Tim Samurai muda itu meniru semangat bambu runcing kita. Kenapa ya, talenta sepakbola penjajah itu tak menulari daerah jajahannya?

Setelah belajar sejarah kita memahami bahwa empat pilar kebangsaan yang sekarang sering didialogkan untuk pemahaman dan pendalamannya, adalah empat pilar penyangga utama Proklamasi Kemerdekaan kita, yang memungkinkan anak-cucu kita tumbuh menjadi dewasa sebagai bagian dari sebuah bangsa yang merdeka. Negara Kesatuan Republik Indoensia, Pancasila, UUD Negara Repbulik Indonesia 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, semuanya menjadi pilar utama, yang kalau salah satu saja rubuh, maka rubuhlah Negara kita. Sejarah mengajarkan kepada kita, semua bangsa di dunia ini memerlukan tanah air tempat penduduknya tinggal dan berkembang biak. Sejarah mengajarkan, sebagai sebuah bangsa yang terlahir sudah beraneka ragam suku bangsa dan agama, kita memerlukan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Pancasila itu ternyata nilai-nilai luhur bangsa yang berfungsi sebagai perekat. Dari sejarah kita tahu bahwa UUD 1945 dirumuskan dengan arif dan bijaksana oleh para pendiri bangsa kita.

Tapi seperti ungkapan bijak, We are not living for the past, we are living for the future. Mempelajari sejarah harus, agar kita tidak tersesat di masa depan. Bahkan ada yang menyebut sejarah cenderung berulang. Bukankah tidak ada yang baru di bawah sinar mentari? Tetapi kaca spion untuk melihat ke belakang sebaiknya jangan terlalu besar, sehingga setiap saat kita menghabiskan waktu mengagumi masa silam dan terbuai. Kita tidak hidup untuk masa lalu, kita hidup untuk masa depan. Lihatlah kaca depan mobil selalu jauh lebih besar daripada kaca spion, maksudnya supaya kita mudah memandang ke depan melihat jalan yang mungkin berlubang, melihat rintangan atau mungkin ada tikungan berbahaya.

kolom - Riau Pos 6 Agustus 2012
Tulisan ini sudah di baca 1220 kali
sejak tanggal 06-08-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat