drh. Chaidir, MM | Adat Manusia Tersesat | ZAMAN berganti zaman, puasa Ramadhan selalu hadir setiap tahun bersama umat muslim. Di era kehidupan masyarakat modern, nilai-nilai puasa Ramadhan senantiasa kontekstual dengan permasalahan serius yang dihadapi manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Tak pernah sekali pun kehilangan kon
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Adat Manusia Tersesat

Oleh : drh.chaidir, MM

ZAMAN berganti zaman, puasa Ramadhan selalu hadir setiap tahun bersama umat muslim. Di era kehidupan masyarakat modern, nilai-nilai puasa Ramadhan senantiasa kontekstual dengan permasalahan serius yang dihadapi manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Tak pernah sekali pun kehilangan konteks. Sekali tempo nilai itu berhadapan dengan masalah kemiskinan, di lain masa masalah SARA, di lain tahun berhadapan dengan solidaritas sosial. Bahkan nilai-nilai Ramadhan juga menyapa kehampaan spiritual masyarakat modern ketika manusia menyadari kemajuan yang diciptakannya, telah memangsa manusia itu sendiri.

Tentu saja permasalahan itu tidak berdiri tunggal, selalu berkait kelindan. Namun selalu ada benang merah pokok permasalahan. Lalu dewasa ini apa kira-kira pokok permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ternyata banyak., Tergantung improvisasi ustadz penceramah santapan Ramadhan yang datang dari berbagai disiplin ilmu. Dan semuanya, rasa-rasanya tidak ada yang salah, hanya masalah sudut pandang bahasan saja.

Kenapa permasalahan itu muncul tak ada habis-habisnya? Karena manusia suka tersesat di berbagai "persimpangan jalan". Di jalan yang lurus saja bisa tersesat apatah lagi di jalan yang berimpang-simpang. Tersesat itu adat manusia. Tak ada manusia yang luput dari salah dan khilaf, apalagi bila berurusan dengan hawa nafsu. Perang terbesar menurut Rasulullah bukanlah Perang Badar, tetapi perang melawan hawa nafsu. Dalam diri manusia itu bersemayam kebaikan dan keburukan. Bisikan datang silih berganti. Ada penceramah bilang, kaum laki-laki dibutakan mata hatinya oleh "3 TA", yakni tahta, harta dan wanita. Sementara ibu-ibu dibutakan mata hatinya oleh "3 D", yakni duit, duit dan duit....ha..ha..ha.... Yang pertama sebenarnya serius, tapi yang disebut terakhir, tiga D itu, adalah sebuah seloroh agar khalayaknya tidak ngantuk.

Nabi Muhammad sangat mengkhawatirkan umatnya terhadap godaan harta dan kekuasaan. Kekhawatiran yang pernah diungkapkan Rasulullah pada abad ketujuh, ketika Beliau masih hidup, ternyata masih aktual sampai hari ini, setelah seribu empat ratus tahun berlalu. Demi memperebutkan harta dan kekuasaan (tahta) orang tak segan-segan menggunakan segala macam cara, halal atau tidak halal, terpuji atau tidak. Kita seringkali tidak menyadari bahwa musuh utama kita memang ada di dalam diri kita sendiri. Dorongan hawa nafsu itu bersarang dan berkembang biak di dalam pikiran kita, merusak dan mengganggu segala pemikiran positif dan akal sehat. Peribahasa Latin menyebut, Eget semper qui avarus est. Orang yang rakus selalu menginginkan lebih banyak, orang yang serakah tak pernah terpuaskan kebutuhannya. Dan kedua sifat itu rakus dan serakah kini bersimaharajalela dalam masyarakat kita. Sedikit lagi melewati garis demarkasi, kita akan terperangkap dalam wilayah jahiliyah, ketika norma-norma tak lagi berlaku.

Untung wilayah berkembang biaknya hawa nafsu itu hanya sebelas bulan, tak sampai dua belas bulan. Dan selamanya tak akan pernah genap dua belas bulan, karena ada satu bulan dimana kita harus melakukan instrospeksi. Ada satu titik setelah sebelas bulan kita dituntun untuk kembali ke pangkal jalan. Nilai-nilai kebajikan puasa Ramadhan menyadarkan kita, tak usah bersusah payah menyewa konsultan terpandang untuk merumuskan solusi terhadap pokok permasalahan yang kita hadapi. Kesederhanaan, kejujuran, keteladanan, kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, toleransi, saling tolong menolong, saling hormat menghormati, yang terkandung dalam puasa Ramadhan adalah sebuah solusi praktis, tak mengawang-awang. Wallahualam.

kolom - Harian Vokal 31 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 909 kali
sejak tanggal 31-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat