drh. Chaidir, MM | Sihir Sepakbola | PERTANDINGAN sepakbola pada level apapun, mulai dari Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champion, sampai pertandingan tarkam alias antar kampung, selalu memiliki magnit sehingga mampu menarik banyak penonton. Bermutu atau tidak itu perkara nomor tujuh, perkara pertama adalah aroma pertandingan. Tua-muda
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sihir Sepakbola

Oleh : drh.chaidir, MM

PERTANDINGAN sepakbola pada level apapun, mulai dari Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champion, sampai pertandingan tarkam alias antar kampung, selalu memiliki magnit sehingga mampu menarik banyak penonton. Bermutu atau tidak itu perkara nomor tujuh, perkara pertama adalah aroma pertandingan. Tua-muda, besar kecil, laki-laki-perempuan, tak peduli.

Pertandingan sepakbola bahkan sering menyebabkan terjadinya perkelahian antar kampung akibat fanatisme yang berlebihan. Kekalahan tim sebuah kampung dirasakan seakan kekalahan seisi kampung, dan itu menyangkut harga diri kampung. Maka, tak selesai di padang bola pertandingan pun dilanjutkan dengan adu jotos, supaya diketahui jantan betinanya.

Sepakbola juga sering dikaitkan dengan semangat nasionalisme. Ulasan tentang kaitan sepakbola dan nasionalisme banyak ditemukan di berbagai media. Sepakbola mampu membangkitkan rasa nasionalisme sebuah bangsa. Tim nasional yang berjaya tampil sebagai kampiun akan membangkitkan kebanggaan sebuah bangsa, rasa bangga terhadap lambang negara yang tertempel di dana pemain dan rasa hormat terhadap bendera negara. Tim nasional sepakbola yang berprestasi juga menyebabkan masyarakat akan melupakan sejenak masalah sosial, politik, masalah pemilukada yang ak berkesudahan, masalah perbedaan suku bangsa, agama, dan segala macam perbedaan lainnya. Sepakbola seakan mampu memberi kekuatan kepada masyarakat dalam menghadapi himpitan berbagai masalah kehidupan.

Brasil adalah sebuah cermin. Negara yang memiliki tradisi sepakbola sangat kuat ini, pernah merasakan betapa sepakbola telah menyelamatkan Brazil dari dampak kemiskinan hebat yang dialami bangsa ini pada kurun waktu 1950-1970. Dalam kurun waktu itu, tim nasional Brazil menampilkan prestasi spektakuler dengan memboyong Piala Dunia tiga kali (1958, 1962, 1970). Pele tampil menjadi "dewa". Dan masyarakat Brazil melupakan perut mereka yang keroncongan. Masyarakat asyik bersorak-sorai sambil bersamba-ria di jalan-jalan. Dengan rasa bangga yang luar biasa terhadap tim nasionalnya, sebagian masalah yang dihadapi bangsanya terasa berkurang.

Gubernur Riau Saleh Djasit (1988-2003) jujur mengatakan dalam berbagai kesempatan ketika itu, prestasi PSPS Pekanbaru di era Bima Sakti, Kurniawan Dwi Julianto, Bejo Sugiantoro, dan kawan-kawan, telah membuat masyarakat pencinta bola di Pekanbaru terbuai dengan perbincangan sepakbola, sehingga mereka lupa berunjuk rasa. Ketika itu memang sedang gencar-gencarnya aksi unjuk rasa pasca gerakan reformasi pada 1988. Masyarakat terhibur dengan kiprah pemain-pemain nasional di tubuh PSPS Pekanbaru. Sepakbola telah menyebabkan pemimpin dan rakyatnya duduk bersama, bersorak sorai bersama, berteriak dalam suasana egaliter.

Piala Asia "AFC U-22" babak kualifikasi Grup E yang usai Ahad malam dua hari lalu di Stadion Utama Riau, Pekanbaru, meninggalkan kesan serupa. Selama sepuluh hari masyarakat terbuai dengan perbincangan Piala Asia, terpesona dengan tajamnya tim Samurai Jepang, dan kagum dengan semangat juang Tim Nasional Indonesia yang sering memperagakan permainan tiki-taka ala Spanyol, walaupun mereka gagal menjadi dua tim terbaik.

Ada banyak alasan untuk permisif terhadap sikap para pemain timnas Garuda Muda yang kadang-kadang terlihat emosional. Mungkin karena mereka masih muda, sehingga mudah terpancing. Namun secara umum penampilan mereka menjanjikan. Pelatih Aji Santoso dan Asistennya, Widodo C Putro, tentu mampu membangun mental garuda muda ini sehingga di masa datang tidak temperamental dan tidak cengeng. Mengenakan seragam timnas dengan lambang Negara di dada tentulah tidak ringan.

Kritik Presiden Prancis Francois Hollande terhadap timnas Prancis yang tampil tidak memuaskan sepanjang Piala Eropa 2012 bulan lalu, agaknya menarik. "Ketika seseorang memakai seragam timnas, ia wajib memikirkan orang-orang yang menderita. Ketika Anda menjadi anggota timnas Prancis, Anda harus menghormati seragam timnas, menghormati para penonton, dan menghormati tim lain," kata Hollande. Suai...suai...

kolom - Harian Vokal 17 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 1258 kali
sejak tanggal 17-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat