drh. Chaidir, MM | Stadion Bintang Empat  | STADION Utama Riau di Pekanbaru belum lagi sempurna selesai, tetapi sepuluh  pertandingan internasional AFC U-22 Championship 2013 Qualifiers (Kualifikasi Piala Asia U-22 Grup E) yang diikuti oleh Australia, Jepang, Singapura, Macao, Timur Leste dan Indonesia, yang berlangsung sangat meriah, telah m
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Stadion Bintang Empat

Oleh : drh.chaidir, MM

STADION Utama Riau di Pekanbaru belum lagi sempurna selesai, tetapi sepuluh pertandingan internasional AFC U-22 Championship 2013 Qualifiers (Kualifikasi Piala Asia U-22 Grup E) yang diikuti oleh Australia, Jepang, Singapura, Macao, Timur Leste dan Indonesia, yang berlangsung sangat meriah, telah memberi isyarat: pentas baru sepakbola tanah air telah lahir.

Dalam lima hari pertandingan (5 - 15 Juli 2012), masing-masing dua partai pertandingan, stadion ini dipadati puluhan ribu penonton, puncaknya terjadi dalam pertandingan timnas Indonesia melawan timnas Jepang (12/7) ketika 43.000 tempat duduk yang tersedia tak mampu menampung penonton. Ribuan penonton yang masuk dengan tiket atau dengan fasilitas, tak dapat tempat duduk, dan ribuan lainnya tertahan di luar stadion. Dari berbagai komentar di media pers dan media jejaring sosial, terlihat persepsi masyarakat bahwa keiinginan menyaksikan pertandingan internasional adalah satu sisi, keiinginan menyaksikan stadion dan merasakan aroma pertandingan di sebuah stadion megah, adalah sisi lain.

Hiruk-pikuk dan sorak sorai penonton, suara tambur berdentum-dentum, suara terompet vuvuzela yang memekakkan telinga, gerakan gelombang penonton (Mexican Wave) tanpa komando tapi diikuti oleh seluruh penonton, tak ubahnya seperti pertandingan Piala Dunia di Afrika Selatan, atau pertandingan Piala Eropa. Menjadi bagian dari puluhan ribu penonton, terasa seperti menyaksikan pertandingan di Nou Camp, Barcelona, stadion Santiago Bernabeu, Madrid, stadion San Siro, Milano, Italia, atau di Allianz Arena di Munich. Aroma pertandingan terasa megah membuat kita seolah-olah tidak sedang berada di Pekanbaru.

Gambaran itu mungkin berlebihan. Tapi apa yang kita saksikan di Stadion Utama seakan mengukuhkan, stadion ini layak masuk daftar stadion papan atas. Bahkan bila semua sarana dan prasarana pendukung selesai menjelang PON XVIII awal September mendatang, stadion ini sangat layak segera diusulkan PSSI ke FIFA untuk mendapatkan akreditasi stadion bintang empat internasional. Indonesia memang memiliki stadion lain yang megah seperti Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Stadion Palaran Samarinda, Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Stadion Jakabaring Palembang, Stadion Maguwoharjo Yogyakarta, tetapi sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Umum PSSI Prof Djohar Arifin, Stadion Utama Riau adalah yang termegah.

Namun, pesan dari penyelenggaraan AFC U-22 Championship 2013, jelas. Ini perlu menjadi bahan introspeksi dan evaluasi, bila kita sungguh-sungguh ingin menjadikan Stadion Utama Riau sebagai pentas baru sepakbola internasional yang membanggakan. Pertama, menyangkut penonton. Sportivitas harus dijunjung tinggi, ini harga mati. Perilaku tidak terhormat seperti pelemparan, caci maki, spanduk-spanduk yang tidak sopan, dan sebagainya, akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk menyelenggarakan pertandingan-pertandingan internasional di masa datang. Kedua, kita perlu membangun sebuah tradisi sepakbola di daerah. Sekolah-sekolah sepakbola usia dini perlu digalakkan untuk menjaring bibit-bibit berbakat. Idealnya juga, kita memiliki dua klub yang bertanding di pentas tertinggi liga sepakbola nasional yang menggunakan Stadion Utama Riau sebagai markasnya. Dengan kehadiran sebuah stadion megah, sebenarnya kita sudah berada pada lintasan bangkitnya sebuah tradisi sepakbola di negeri laut sakti rantau bertuah ini. Kita perlu melahirkan bintang-bintang sepakbola pujaan. Bisa? Bila seluruh pencinta sepakbola di daerah ini bergandengan tangan, apapun bisa!

kolom - Riau Pos 16 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 1405 kali
sejak tanggal 16-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat