drh. Chaidir, MM | Urat Nadi Ekonomi Desa | Beberapa waktu lalu, kolega saya, Ketua DPRD Jambi, bergurau. Apa tanda kita memasuki ruas jalan di Provinsi Riau? Tandanya, kalau kita terbangun karena goncangan. Kenapa? Karena jalannya berlubang-lubang. Kami ketawa, dalam hati saya kecut. Sesungguhnya itu sebuah realitas. Saya telah mengalami sen
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Urat Nadi Ekonomi Desa

Oleh : drh.chaidir, MM

Beberapa waktu lalu, kolega saya, Ketua DPRD Jambi, bergurau. Apa tanda kita memasuki ruas jalan di Provinsi Riau? Tandanya, kalau kita terbangun karena goncangan. Kenapa? Karena jalannya berlubang-lubang. Kami ketawa, dalam hati saya kecut. Sesungguhnya itu sebuah realitas. Saya telah mengalami sendiri pengalaman tersebut.

Umumnya ruas jalan negara lintas timur, ruas Riau-Jambi, Riau-Sumut, kondisinya memprihatinkan. Sempit dan berlubang-lubang. Di wilayah Sumut dan Jambi sambungan ruas jalan negara kita itu mulus. Kalaulah ini saja yang dipakai sebagai ukuran, maka artinya, Sumut dan Jambi lebih istimewa di mata pusat.

Kalaulah boleh memilih, membangun jalan negara atau jalan desa? Saya akan pilih keduanya sekaligus. Keduanya urat nadi ekonomi. Yang satu urat nadi ekonomi nasional karena lintas provinsi, yang lainnya urat nadi ekonomi desa karena merupakan jalan desa, prasarana warga desa.

Sesungguhnya infrastruktur jalan di desa kita intra desa dan antar desa kondisinya sangat memprihatinkan. Dalam kesempatan berkunjung ke beberapa desa, beberapa waktu lalu, masyarakat desa mengekspresikan kesedihannya dalam berbagai bentuk. Ada yang mafhum, ada yang frustrasi, ada juga yang apatis. Di desa Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, masyarakatnya minta dibangunkan salah satu ruas jalan desa. Bila jalan desa itu dibangun oleh pemerintah, maka sampai dunia kiamat masyarakat tidak akan minta lagi kepada pemerintah. Segitunya.

Di Desa Mahato, Tambusai Utara, Rokan Hulu, masyarakat minta jalannya diperbaiki. Bila musim hujan, jalan itu seperti kubangan. Jangankan mobil, gajah pun tak bisa lewat, kata mereka dalam bahasa sarkasme. Tidak jauh dari Pekanbaru, kalau ditarik garis lurus lebih kurang 25 km, ada sebuah desa tua yang bernama Bencah Kelubi, Tapung, Kabupaten Kampar. Desa ini hampir tidak pernah tersentuh pembangunan jalan desa. Kalau kita mau berkunjung ke Desa Bencah Kelubi, harus mengambil jalan memutar melalui Jl Garuda Sakti, melewati rakit penyeberangan dan kemudian jalan kaki. Kata orang Bencah Kelubi, Pekanbaru itu dekat di hati tapi sulit di transportasi.

Dan masih banyak lagi desa-desa kita yang terisolir di berbagai kabupaten, belum tersentuh pembangunan, utamanya prasarana jalan. Padahal jalan desa ini merupakan urat nadi ekonomi desa. Di desa Pemandang, Kec Rokan IV Koto, Rokan Hulu, hasil tanaman penduduk seperti durian, manggis, langsat, duku, rambutan, piang, biji kopi, biji coklat baru memiliki nilai ekonomi setelah ruas jalan tanah dibuka beberapa tahun lalu. Kalau tidak buah-buahan tersebut hampir tidak memiliki nilai ekonomi; dokonsumsi sendiri atau dibiarkan busuk.

Pemerintah provinsi dan kabupaten sesungguhnya telah menempatkan pembangunan infrastruktur jalan desa sebagai prioritas, namun komitmen tersebut lebih banyak dalam retorika, dalam pelaksanaannya masih tercecer. Memang dilematis. Kepala daerah umumnya ingin menorehkan sejarah sebelum meletakkan jabatan berupa proyek-proyek raksasa yang prestisius dan menelan biaya besar. Proyek ini mudah dilihat hasilnya. Apalagi dana cukup tersedia. Jalan-jalan desa tidak prestisius, tapi yakinlah akan lebih banyak berguna bagi masyarakat kecil.

kolom - Tribun Pekanbaru 6 Agustus 2009
Tulisan ini sudah di baca 1630 kali
sejak tanggal 06-08-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat