drh. Chaidir, MM | Mimpi-mimpi RAL | SEPULUH tahun lampau, di sebuah tabloid lokal, saya menulis artikel tentang maskapai Riau Air Lines (RAL) dengan penuh kebanggaan. Judulnya pun sama,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mimpi-mimpi RAL

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPULUH tahun lampau, di sebuah tabloid lokal, saya menulis artikel tentang maskapai Riau Air Lines (RAL) dengan penuh kebanggaan. Judulnya pun sama, "Mimpi-mimpi RAL." Seorang pengusaha dari Hongkong terbang ke Singapura, dari Singapura mendarat di Pekanbaru. Dan dari Pekanbaru, dengan pesawat kecil yang nyaman sang pengusaha terbang ke Tembilahan, Indragiri Hilir, untuk memantau industrinya di sana.

Imajinasi tersebut menjadi mimpi saya tentang RAL. Sesaat kemudian maskapai RAL benar-benar didirikan oleh Gubernur Saleh Djasit. Bermodal dua buah pesawat turboprop Fokker 50, RAL kemudian menerbangi angkasa Riau. Pekanbaru-Batam, Pekanbaru-Tanjung Pinang-Ranai, Pekanbaru-Padang, Pekanbaru-Dumai, bahkan Pekanbaru-Melaka dijelajahi secara reguler. Bandara-bandara perintis yang jarang didarati pesawat, disinggahi oleh RAL dalam penerbangan khusus, seperti bandara Japura di Rengat, bandara di Tanjung Balai Karimun, bandara Matak di Tarempa, bandara Dabo, bandara di Sungai Pakning, dan bandara di Pasir Pengaraian. Masyarakat di sekitar bandara perintis menyambut RAL dengan riang gembira. RAL semula memang dimaksudkan sebagai jembatan udara guna merangkai kota-kota di Riau yang letaknya berjauhan satu dengan lainnya. Kemudahan transportasi diharapkan menjadi solusi kendala angkutan orang dan barang sehingga iklim usaha akan lebih baik.

Khayalan tentang pengusaha Hongkong itu kelihatannya akan jadi kenyataan ketika Gubernur Rusli Zainal membangun bandara di Tembilahan dan kemudian mendaratkan RAL di sana. Apalagi kemudian armada Fokker 50 RAL bertambah dari semula dua unit menjadi lima unit. Lima tahun setelah berdiri, satu-satunya maskapai penerbangan milik pemerintah daerah ini telah berani menyewa pesawat jet. Opo ora hebat?

Namun apa daya, dibalik kemilau sayap RAL yang tampak dari bawah, maskapai itu menyimpan penyakit menahun miss-management alias salah urus, sehingga terjadi pendarahan secara terus menerus yang sulit dihentikan. Riau Airlines kemudian dinilai tidak melakukan penerbangan selama 12 bulan berturut-turut dari Januari 2011 sampai Januari 2012. Pihak manajemen maskapai tersebut juga tidak memberikan laporan kegiatannya secara terbuka. Maka setelah beberapa kali mendapatkan peringatan keras, izin RAL dicabut. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan maskapai milik pemerintah Propinsi Riau, PT Riau Airlines sudah ditutup. "Surat Ijin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal juga sudah dicabut," katanya. (www.tempo.com 1/4/2012).

Menurut Pasal 119 UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, SIUAU RAL akan tercabut secara otomatis. Dan izin RAL memang sudah tercabut.

Aneh bin ajaib, ketika RAL sudah sekarat menjelang jatuh tempo kematiannya 7 April 2012 beberapa bulan lalu, tiba-tiba kita mendengar dibentuknya Tim Penyelamatan RAL yang diketuai oleh Sekda Prov Riau, yang juga adalah Komisaris Utama RAL. Konon tim ini berusaha mencari calon investor yang akan bekerjasama untuk kembali menerbangkan RAL. Seperti diberitakan di berbagai media, ada calon investor dari Singapura, di lain hari disebut pula PT Merpati Nusantara Air lines untuk melebarkan sayap di kawasan barat Indonesia. Riau Invesment Corporation yang dipegang oleh raja media Rida K Liamsi konon juga berminat mengambil maskapai penerbangan ini. Bagi masyarakat yang paham, cerita tentang investor ini adalah mimpi.

Mimpi ini kemudian diperdalam ketika beberapa hari lalu, situs berita www.tribunpekanbaru.com, sebagaimana dikutip oleh Banjarmasinpost.co.id (9/7/2012) memuat berita yang menyayat hati. Tiga unit pesawat Riau Airlines (RAL) yang berada di bandara Halim Perdana Kusuma yang semula disebut-sebut sedang dirawat ternyata tidak satupun bisa dioperasikan. Parahnya, semua pesawat dalam kondisi rusak berat tanpa pemeliharaan sama sekali. "Kondisi pesawat kalau saya bisa katakan tinggal bangkai saja. Baling-balingnya tidak ada, bahkan mesinnya pun tidak tampak lagi. Sungguh kondisi tersebut sangat kita sayangkan, " ungkap Wakil Ketua Komisi B DPRD Riau, Ramli Fe.

Padahal, lewat APBD Perubahan tahun 2011, Pemprov Riau sudah mengalokasikan anggaran Rp 30 miliar untuk RAL. Dana tersebut Rp 10 miliar diperuntukkan perbaikan pesawat yang ada di Halim. Situs berita tersebut juga mewartakan, dalam LHP BPK, PT. Riau Air tahun 2010 kumulatif telah menerima dana Rp.102.200.000.000. Tahun 2011 Rp. 45.000.000.000 total RAL sudah menerima Rp.147.200.000.000,-

Kini, RAL sungguh-sungguh tinggal mimpi. Tim Penyelamat RAL yang diketuai Sekda Prov Riau tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tiga tahun lalu harusnya ditunjuk sebuah konsultan internasional yang punya nama untuk mengkaji masalah RAL dan merumuskan rekomendasi fundamental untuk penyelamatan. Sekarang sudah terlambat, nasi sudah jadi bubur. Permintaan tambahan dana dalam APBD Riau untuk RAL pasti jadi urusan KPK.

Jika SIUAU milik RAL itu mau dihidupkan lagi, izinnya harus diurus dari awal dari nol, mulai dari mengurus SIUAU sampai dengan izin menerbangkan pesawat (Air Operator Certificate atau AOC). Maskapai ini juga akan langsung terkena aturan baru dari UU No. 1 Tahun 2009, diantaranya terkait keharusan kepemilikan 5 pesawat plus 5 pesawat lain yang siap dipakai sewaktu-waktu. Ondeh mandeh...

kolom - Berita Terkini 12 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 1377 kali
sejak tanggal 12-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat