drh. Chaidir, MM | Tak Perlu Harakiri | DALAM sejarah peradaban manusia, hanya bangsa Jepang yang menempatkan rasa hormat sangat  tinggi terhadap penebusan marwah dengan bunuh diri. Seppuku yang lebih dikenal dengan istilah harakiri,  merupakan tradisi bunuh diri para samurai, terutama jenderal perang pada zaman bakufu, zaman Jepang kuno.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tak Perlu Harakiri

Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM sejarah peradaban manusia, hanya bangsa Jepang yang menempatkan rasa hormat sangat tinggi terhadap penebusan marwah dengan bunuh diri. Seppuku yang lebih dikenal dengan istilah harakiri, merupakan tradisi bunuh diri para samurai, terutama jenderal perang pada zaman bakufu, zaman Jepang kuno. Harakiri dimaksudkan untuk memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat.

Ritual harakiri yang dipersiapkan dengan penuh keterhormatan itu resmi dihapus segera setelah restorasi Meiji menjelang akhir abad ke-19. Namun harakiri secara sukarela belum sepenuhnya mati. Dalam tradisi Jepang, harakiri tidak hanya milik para samurai, harakiri dilakukan oleh siapa saja untuk menjaga kehormatan keluarga atau jika seseorang telah merasa tidak kuasa untuk menanggung beban hidup atau menanggung malu. Prinsip lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup menanggung malu, bagi orang Jepang sungguh-sungguh dilakukan. Bagi mereka, tidak ada gunanya lagi melanjutkan hidup bila sudah kehilangan kehormatan. Oleh karena itulah di Jepang, tradisi harakiri bukan sesuatu yang tabu.

Namun demikian seperti dibidalkan, lain padang lain belalang. Tradisi Jepang itu dianggap ambigu. Masyarakat di luar Jepang tak bisa memahami tradisi itu sebagai cara kesatria untuk menutup malu. Mengakhiri hidup dengan bunuh diri tak menyelesaikan masalah dan tak menghilang aib yang sudah tercoreng. Di dunia barat, sikap kesatria ditunjukkan dengan mundur secara sukarela dari posisinya. Di masyarakat Melayu semenanjung, situasi itu biasanya disikapi dengan membawa diri, menepi. Tetapi jelas bukan bunuh diri.

Dalam dua pekan terakhir ini masyarakat kita tersengat dengan rencana 10 orang relawan Serikat Tani Riau (STR) yang merencanakan bunuh diri dengan membakar diri di Jakarta. Mereka mewakili komunitasnya di Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Kekecewaan mereka sudah sampai di ubun-ubun. Tuntutan revisi SK Menhut 327 Tahun 2009 tak digubris oleh pihak terkait. Padahal esensi revisi itu hanyalah untuk sedikit memberi ruang kehidupan bagi masyarakat di Pulau Padang.

Namun apapun alasannya, seberat apapun masalah terpikul di bahu, aksi bakar diri tentulah tak dapat dibenarkan sama sekali, tetapi menyeret masalah Pulau Padang ke wilayah perdebatan hukum bunuh diri, jelas tidak substansial. Sebab masalah pokoknya, mampu atau tidak para pembantu presiden di pusat dan di daerah membuat keputusan yang berpihak kepada rakyat. Kalau tidak sanggup, lebih baik mundur. Jangan sedikit-sedikit membawa nama Presiden.

Para samurai itu, bertempur dulu habis-habisan, kalau masih tetap kalah, mereka baru harakiri, tak rela ditaklukkan. Para aktivis STR jelas bukan samurai. Kita tak punya tradisi harakiri. Dan lagi pula, tak ada malu yang harus ditanggungkan. Aktivis STR justru sangat diperlukan untuk terus bertempur melawan kezaliman. Mati sebagai petarung dalam tradisi kita lebih terhormat daripada bakar diri. Jangan sia-sia, arang habis besi binasa.

kolom - Riau Pos 9 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 1966 kali
sejak tanggal 09-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat