drh. Chaidir, MM | Hantam Kromo | KORUPTOR kini sungguh-sungguh tak pandang bulu dan tak punya malu. Agaknya benar plesetan yang sering kita dengar,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hantam Kromo

Oleh : drh.chaidir, MM

KORUPTOR kini sungguh-sungguh tak pandang bulu dan tak punya malu. Agaknya benar plesetan yang sering kita dengar, "yang haram saja tinggal sedikit, apalagi yang halal." Artinya, yang halal sudah lama ludes, habis. Tapi yang namanya barang hasil korupsi mana ada yang halal, entah itu berupa benda padat atau cair, atau benda setengah cair alias lendir, semua benda itu terlarang.

Sungguh ibarat petir di siang bolong, tak terbayangkan dengan akal sehat, pengadaan kitab suci Al Quran saja dimainkan. Kemana perginya hati, kemana hilangnya rasa? (maaf, pinjam frasa lagu lawas penyanyi semenanjung, Ahmad Jais). Ya, kemana perginya hati? Tentu tak ada yang salah dengan kitab suci itu, kitab itu tetap berisi ayat-ayat Tuhan. Tapi tangan-tangan manusia? Tangan-tangan kotor yang berlumuran noda itulah yang telah mengotori Al Quran. Dugaan korupsi pengadaan Al Quran di Kementerian Agama tidak saja menimbulkan kerugian bagi keuangan negara, tetapi juga telah mencoreng aib di kening umat Islam Indonesia. Demikian kusut masaikah wajah kita?

Sebagaimana diberitakan kompas.com (1/7/2012) dan berbagai media cetak/online, KPK telah mengumumkan dua tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran, yaitu anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi Partai Golkar  Zulkarnaen Djabar, dan seorang keluarganya, yang juga seorang pengusaha. Zulkarnaen diduga korupsi di tiga proyek Kementerian Agama, yaitu pengadaan Al Quran pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Islam tahun anggaran 2011 dan 2012, serta pengadaan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah pada Ditjen Pendidikan Islam tahun anggaran 2011.

Berita suram tidak hanya itu. Di Riau, vaksin untuk jemaah umrah juga dikorupsi. Dugaan korupsi dilakukan oleh oknum lembaga Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas IIA Pekanbaru ketika memberikan vaksin meningitis pada 2662 jemaah umrah pada Januari dan Februari 2012. Konon mark-up harga vaksin meningitis ini telah terjadi pada tahun 2011. Kasus ini sekarang sedang disidik oleh Kejaksaan Tinggi Riau.

Maka menjadi renungan mendalam bagi kita umat Islam dan umat beragama pada umumnya di negeri ini, kenapa masih saja ada politisi dan birokrasi kita yang berperilaku seperti itu, yang main hantam kromo? Main sikat main embat seperti perilaku kucing garong yang kelaparan berat tujuh hari tujuh malam tidak makan? Tak takutkah dengan sistem pemeriksaan dan audit yang berlapis-lapis? Lebih dari itu tak takutkah terhadap hukaman dari Yang Maha Pencipta karena telah mempermainkan kitab suci Alquran?

"KPK diharapkan menuntaskan masalah ini sampai ke akar-akarnya, dan semua pelaku yang terlibat dihukum seberat-beratnya," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Saleh P Daulay, di sela acara Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama (MUI) se-Indonesia, Sabtu (30/6/2012) di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Kita tentu sependapat dengan Daulay. Ketika koruptor tak pandang bulu, KPK pun harus tak pandang bulu menuntaskan masalah yang memalukan ini dan segera menyeretnya ke meja hijau. Lanyau.

kolom - Harian Vokal 3 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 1382 kali
sejak tanggal 03-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat