drh. Chaidir, MM | In Memoriam Si Puntung | TAK selamanya gajah mati meninggalkan gading. Nasib itu dialami oleh Si Puntung, gajah terbesar di Sumatera dalam satu dasawarsa ini dan telah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

In Memoriam Si Puntung

Oleh : drh.chaidir, MM

TAK selamanya gajah mati meninggalkan gading. Nasib itu dialami oleh Si Puntung, gajah terbesar di Sumatera dalam satu dasawarsa ini dan telah "dikukuhkan" sebagai kepala suku gajah liar di luhak Mandau, Riau, yang tewas beberapa hari lalu, di wilayah kekuasaannya. Ketika bangkainya ditemukan petugas di tengah hutan belukar Dusun Belading, Desa Petani, Kecamatan Mandau, gajah mati itu tak lagi bergading.

Sesungguhnya, Si Puntung ketika masih hidup, menurut catatan petugas Balai Besar Koservasi SDA (BBKSDA) Riau, memiliki satu gading. Gading lainnya mungkin patah. Tapi bukan karena bergading satu maka "sang penguasa" Luhak Mandau itu dijuluki Si Puntung. Julukan itu diberikan konon karena ekornya puntung. Tanda ini, yang kemudian dikombinasikan dengan tanda-tanda lain, memberikan keyakinan bahwa gajah yang mati itu adalah sang penguasa, Si Puntung.

Menurut Syamsuardi, petugas WWF di Riau, (Riau Pos, 30/6 halaman 21), berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan pada 2010, dengan bantuan peralatan yang lumayan canggih, mereka sudah mengukur tinggi badan gajah tersebut. Hasilnya, tinggi badan Si Puntung 3,5 meter, dan beratnya sekitar lima ton lebih. Dengan ukuran yang spektakuler tersebut, diyakini tak ada gajah lain di Sumatera yang mampu menandingi ukuran Si Puntung. Menurut sumber tersebut, Si Puntung diyakini sebagai pemimpin gajah liar yang malang melintang di wilayah Mandau dan sekitarnya.

Uniknya, menurut Syamsuardi, Si Puntung tak hanya disegani oleh rekan-rekannya sesama gajah, bahkan warga setempat pun turut "menyegani" Si Puntung. Kalau Si Puntung lewat dekat pemukiman, biasanya warga berpesan agar tanaman mereka tak dimakan habis. Didengarkah aspirasi warga itu oleh Si Puntung, hanya Si Puntunglah yang tahu. Sebagai pemimpin, Si Puntung memiliki karisma. Aneka cerita tentang Si Puntung ini, sudah melegenda di tengah masyarakat Kecamatan Mandau dan Kecamatan Pinggir, dan wilayah lain yang menjadi pelintasan gajah sampai di wilayah Kabupaten Rokan Hilir. Kekuasaan itu konon tidak diperoleh Si Puntung melalui praktik mafia, nepotisme, atau dengan money politic. Kekuasaan itu diperoleh melalui pertarungan jantan, satu-lawan-satu dengan gajah besar lainnya yang bernama Si Bongkok. Dalam pertarungan yang berlangsung beberapa masa silam untuk membuktikan siapa yang lebih berhak menjadi kepala suku gajah liar di luhak Mandau itu, Si Puntung menang. Maka jadilah dia penguasa tunggal yang disegani.

Kini Si Puntung telah tewas. Bagi Si Puntung berlaku hukum alam, di atas langit ada langit. Tapi rasanya pasti bukan karena perseteruannya dengan Si Bongkok. Dugaan sementara Tim Medis BBKSDA, drh Rini Deswita, yang melakukan otopsi, Si Puntung tewas karena diracun atau termakan makanan yang mengandung racun. Secara alamiah hewan punya naluri untuk tidak memakan tanaman yang beracun, kecuali kalau mereka ditipu. Dan yang ahli dalam tipu menipu itu adalah makhluk lain yang bernama manusia. Konflik perebutan habitat gajah dan manusia sudah banyak membawa korban kedua belah pihak, dan belum ada tanda-tanda adanya resolusi konflik. Atau, ada yang berani satu-lawan-satu?

kolom - Riau Pos 2 Juli 2012
Tulisan ini sudah di baca 2348 kali
sejak tanggal 02-07-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat