drh. Chaidir, MM | Fajar Pasti Menyingsing | RIAU berusia 52 tahun pada 9 Agustus 2009. Bagi sebuah negeri, usia 52 tahun terhitung masih muda, tapi untuk sebuah pertanggung jawaban, 52 tahun bukanlah masa sekejap, apalagi bagi pemangku amanah.

Tentu tidak adil bila disebut negeri ini belum memberi manfaat apa-apa bagi warganya. Banyak yang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Fajar Pasti Menyingsing

Oleh : drh.chaidir, MM

RIAU berusia 52 tahun pada 9 Agustus 2009. Bagi sebuah negeri, usia 52 tahun terhitung masih muda, tapi untuk sebuah pertanggung jawaban, 52 tahun bukanlah masa sekejap, apalagi bagi pemangku amanah.

Tentu tidak adil bila disebut negeri ini belum memberi manfaat apa-apa bagi warganya. Banyak yang sudah dibangun. Kabupaten/kota mekar berkembang. Pendidikan maju, sekolah-sekolah unggul semakin banyak, pendidikan dasar digratiskan, puskesmas gratis, rumah sakit modern ada, gedung-gedung bagus tak ketinggalan, lebuh raya tambah panjang tak terkata, jembatan megah, dan sebagainya. Banyak yang sudah dikerjakan.

Namun jujur, ada lautan masalah, seperti penyediaan air bersih, penyediaan energi listrik, infrastruktur desa yang masih minim, bencana asap, penyakit menular (malaria, demam berdarah, tbc, polio, flu burung, flu babi, HIV/AIDS), anak-anak kurang gizi, dan juga anak-anak terlantar. Sayatan masalahnya terasa semakin pedih manakala kita dihadapkan pada kenyataan bahwa negeri ini sesungguhnya adalah negeri yang tidak perlu menggendong masalah tersebut kemana-mana (maaf, pinjam idiom Alm Mbah Surip). Ini sebenarnya lagu lama. Negeri ini negeri kaya yang berjuang untuk menjadi kaya, negeri yang samar-samar merasakan angin surga ketika surga akan segera berlalu.

Riau hampir sama dengan nasib Keledai Buridan seperti yang ditulis filsuf Aristoteles (tiga abad Sebelum Masehi). Sang keledai harus mati kelaparan karena bingung memilih satu diantara dua bal jerami yang harus dimakan terlebih dahulu. Sang keledai yang malang tidak menemukan alasan yang kuat untuk lebih menyukai bal yang satu daripada bal lainnya.

Kita tidak perlu pesimis dan kehilangan asa. Sesungguhnya, hanya diperlukan sedikit lebih berkonsentrasi dan lebih fokus pada prioritas program untuk kebutuhan rakyat yang mendesak seperti misalnya air bersih dan listrik itu. Manfaatkan dengan baik jasa lembaga-lembaga pendampingan yang sungguh-sungguh profesional. Ajak stakeholder (bukan basa-basi) untuk aktif mencari solusi masalah, membuat perencanaan yang bagus dan mengawal kinerja pembangunan. Dengan demikian kesejahteraan yang lebih baik yang menjadi dambaan masyarakat 52 tahun lalu, akan terwujud.

Kita optimis. Tak pun ayam jantan berkokok, fajar pasti menyingsing di negeri ini. Sesekali memang tertutup kabut asap, tapi itu sementara. Justru kalau bukan karena kabut asap kita tak akan pernah merasa betapa indahnya fajar menyingsing. Syabas!!

kolom - Tribun Pekanbaru 5 Agustus 2009
Tulisan ini sudah di baca 1313 kali
sejak tanggal 05-08-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat