drh. Chaidir, MM | Pekanbaru Kota Madani | PEKANBARU merayakan hari jadinya yang ke-228 pada hari Sabtu 23 Juni 2012 beberapa hari lalu. Rasanya tak percaya Pekanbaru sudah berusia lebih dari dua abad. Tapi catatan tentang itu terpelihara sampai sekarang dan sejak beberapa puluh tahun terakhir ini, terutama sejak pelaksanaan otonomi daerah s
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pekanbaru Kota Madani

Oleh : drh.chaidir, MM

PEKANBARU merayakan hari jadinya yang ke-228 pada hari Sabtu 23 Juni 2012 beberapa hari lalu. Rasanya tak percaya Pekanbaru sudah berusia lebih dari dua abad. Tapi catatan tentang itu terpelihara sampai sekarang dan sejak beberapa puluh tahun terakhir ini, terutama sejak pelaksanaan otonomi daerah selalu diperingati dengan meriah sebagai salah satu wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang telah berjasa.

Usia 228 tahun tentu bukan rentang waktu perjalanan yang pendek. Apalagi untuk sebuah pertanggungjawaban. Para penghuninya datang dan pergi silih berganti dari generasi ke generasi menggores kenangan. Novelis bangsa Ceko, Milan Kundera, menulis kata-kata indah, tugas manusia adalah menghimpun sejumlah kenangan yang bisa disebut dengan manis pada masa mendatang. Burung waktu (pinjam frasa penyair Idrus Tintin) memang tak pernah kenal kompromi, dia akan terus mengepakkan sayap, tak peduli apakah ada yang memaknai atau tidak.

Peringatan hari jadi Pekanbaru tahun ini adalah tahun pertama di bawah kepemimpinan Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi. Siapapun di Rantau Riau paham betapa berlika-likunya jalan yang ditempuh oleh pasangan ini. Jalan-jalan yang berliku-liku itu telah menjadi catatan tersendiri bagi sejarah kontemporer Kota Pekanbaru. Catatan itu penting, tapi tak akan lebih penting dari hari esok. Catatan itu bermakna bila langkah demi langkah ke depan memberi sesuatu yang dirasakan lebih baik oleh warga kota. Kaca spion besar dapat membantu kita untuk melihat ke belakang dengan jelas, tetapi tetap saja kita harus lebih banyak memandang ke depan menatap lintasan yang akan kita lalui.

Pesan dari kaca spion itu jelas, warga kota berharap banyak kepada pemimpin baru Pekanbaru, yakni harapan akan kehidupan yang lebih nyaman lahir batin. Harapan terhadap fasilitas umum yang lebih bermartabat, harapan terhadap berbagai kemudahan untuk berusaha dan bepergian. Harapan terhadap hilangnya rasa kekhawatiran karena kurangnya rasa aman, harapan terhadap hilangnya diskriminasi dan nepotisme, dan seterusnya, dan seterusnya. Warga kota mendambakan sebuah kota yang memanjakan warganya dengan peopohonannya yang rimbun dan tamannya yang indah berbunga-bunga. Warga juga mendambakan jalan-jalan yang bersih terang benderang, drainasenya lancer dan bebas dari banjir.

Pemimpinnya akrab dengan warganya, ramah bertegur-sapa dengan santun, mendengarkan dan menghargai masyarakatnya. Masyarakatnya pula tahu menempatkan diri. Semua saling hormat menghormati, segan-menyegani. Kota menyediakan ruang publik berupa taman-taman kota tempat warga bercengkrama denga npemimpinnya. Potret seperti itulah sebenarnya gambaran masyarakat madani yang kita idam-idamkan bersama. Mayarakat madani (civil society) dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya.

Secara umum masyarakat madani adalah tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri. Mereka memerlukan pemimpin tetapi tidak dalam posisi ketergantungan. Sang pemimpin juga tidak merasa yang paling tahu dan paling bisa. Komunikasi dialogis tetap terjaga. Dan insitusi pemerintah terpercaya. Bisakah iklim seperti itu terwujud? Bisa. Langkah pertama dimulai dari birokrasi dan pemimpin yang senantiasa jadi teladan. Bila demikian maka tema hari jadi ke-228 Pekanbaru tahun ini tidak akan tinggal menjadi slogan semata. Budaya hidup bersih dan sehat dengan mencintai lingkungan yang bersih, sehat dan asri menuju Pekanbaru kota metropolitan yang madani, tidak hanya untaian kata-kata. Semoga.


kolom - Harian Vokal 28 Juni 2012
Tulisan ini sudah di baca 1440 kali
sejak tanggal 26-06-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat