drh. Chaidir, MM | Mahasiswa dan Pers | BENTROKAN dua kubu mahasiswa di kampus Universitas Riau beberapa hari lalu meninggalkan bau tak sedap.  Beberapa wartawan yang memiliki kartu pers resmi yang sedang melakukan tugas jurnalistiknya dipukul dan diancam oleh oknum mahasiswa. Apapun alasannya kejadian itu sangat disayangkan dan membuat k
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mahasiswa dan Pers

Oleh : drh.chaidir, MM

BENTROKAN dua kubu mahasiswa di kampus Universitas Riau beberapa hari lalu meninggalkan bau tak sedap. Beberapa wartawan yang memiliki kartu pers resmi yang sedang melakukan tugas jurnalistiknya dipukul dan diancam oleh oknum mahasiswa. Apapun alasannya kejadian itu sangat disayangkan dan membuat kita sangat prihatin.

Pertama, sang oknum mahasiswa tidak memahami bahwa wartawan yang sedang melaksanakan tugas jurnalistiknya dilindungi oleh undang-undang. Jangankan di kampus, di medan perang sekali pun, wartawan tidak boleh diserang. Tapi kalau wartawan terkena peluru nyasar, itu risiko profesi namanya. Nasib.

Kedua, dan ini yang paling substansial. Pers bukan musuh mahasiswa dan mahasiswa bukan musuh pers. Pers dan mahasiswa (bila keduanya sehat walafiat lahir batin) memiliki daftar panjang kesamaan dan hampir tidak ada perbedaan. Sama-sama memiliki idealisme, sama-sama anti korupsi, sama-sama anti persekongkolan yang merugikan masyarakat. Sama-sama anti nepotisme. Sama-sama anti politik dinasti, dan sama-sama anti politik oligopoli. Secara umum juga sama-sama terbatas ekonominya, sama-sama selalu kehabisan pulsa, dan sama-sama punya bon makan di warung pojok. Seperti halnya mahasiswa yang satu dua ada yang hidup mewah, hedonis,, wartawan pun demikian. Dalam hal gadung menggadung, ada oknum mahasiswa gadungan, wartawan pun tak kalah, ada pula oknum wartawan gadungan.

Keduanya, mahasiswa dan pers, bahkan ibarat kuku dengan daging, tak terpisahkan dan tidak akan berpisah. Demikian erat hubungannya, sehingga keduanya hanya bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan. Pers dan mahasiswa berada dalam suatu hubungan simbiose mutualistik, hubungan yang serasi saling menguntungkan satu sama lainnya. Kenapa demikian terikat dalam sebuah persebatian? Karena keduanya berangkat dari ideologi perjuangan yang sama, menegakkan kebenaran dan keadilan serta melakukan kontrol sosial melalui idealisme. Mahasiswa senantiasa memerlukan pers sebagai corong untuk memperbesar aspirasi yang diperjuangkan mahasiswa. Percuma saja artikulasi sang mahasiswa bila tidak tidak didengar oleh pembuat kebijakan. Para kalangan terpelajar perlu menyadari bahwa pers adalah tiang keempat pilar demokrasi. Paradigma pers bebas dan merdeka tidak hanya berlaku sebagai oposisi bagi kekuasaan, tetapi juga berlaku bagi mahasiswa. Dan pers memerlukan mahasiswa untuk mendapatkan aspirasi murni, bukan aspirasi yang terbungkus dalam berbagai kepentingan kelompok, parpol dan sebagainya.

Idealisme adalah mantra wajib bagi mahasiswa dan pers. Kalau mantra ini dilupakan akibat pengaruh kepentingan-kepentingan sempit, atau bahkan tergadaikan, maka negeri ini akan takluk di bawah kekuasaan otoriter dan rakyat akan kehilangan kedaulatannya. Dan peluang itu akan terus terbuka karena kekuasaan tak bernah berhenti berikhtiar melakukan provokasi sampai semuanya bertekuk lutut.

Thomas Hobbes menggambarkan kekuasaan itu sebagai makhluk yang mengerikan. Dan sesungguhnya kekuasaan yang tidak menyejahterakan dan tidak berkeadilan itulah yang harus dimusuhi oleh mahasiswa dan pers, bukan angkat senjata berupa pentungan untuk baku pukul antar sesama.

Tentang Penulis : http://drh.chaidir.net

kolom - Harian Vokal 19 Juni 2012
Tulisan ini sudah di baca 1970 kali
sejak tanggal 19-06-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat