drh. Chaidir, MM | I Love You Full | UNGKAPAN Latin, fugientes fumum in ignem incidimus, kendati tidak tepat benar, tapi hampir mengena dengan keadaan yang kita hadapi sekarang. Maksudnya, lebih kurang, lari dari asap, malah jatuh ke dalam api. Barangkali itu terlalu ekstrim, tetapi daerah kita memang dihadapkan kepada beberapa masalah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

I Love You Full

Oleh : drh.chaidir, MM

UNGKAPAN Latin, fugientes fumum in ignem incidimus, kendati tidak tepat benar, tapi hampir mengena dengan keadaan yang kita hadapi sekarang. Maksudnya, lebih kurang, lari dari asap, malah jatuh ke dalam api. Barangkali itu terlalu ekstrim, tetapi daerah kita memang dihadapkan kepada beberapa masalah serius sekaligus.

Misalnya asap. Benda seperti hantu itu - bahkan lebih parah dari tahun lalu - kembali mengepung kita tak kenal belas kasihan. Kita sebut hantu itu kiriman dari provinsi tetangga, pada kenyataannya titik api di wilayah jajahan kita lebih banyak. Mau menggunakan metoda quick count atau manual, hasilnya sama saja, dalam jumlah titik api ini kita memang lebih unggul.

Untung tuah badan, dalam beberapa hari ini turun hujan asli, alias hujan alam bukan hujan buatan sehingga sang hantu berkurang. Tapi coba lihat, begitu hujan tak turun, kita kembali terkepung. Setiap tahun selalu begitu, kita hanya mengharapkan kasihan hujan menyirami bumi. Kita memang belum menyerah, tetapi sebenarnya kita sudah menyerah. Saya tiba-tiba terkenang cerita Keledai Buridan-nya Aristoteles. Sang keledai harus mati kelaparan karena bingung memilih satu diantara dua bal jerami yang harus dimakan terlebih dahulu. Sang keledai yang malang tidak menemukan alasan yang kuat untuk lebih menyukai bal yang satu daripada bal lainnya.

Pengepung berikutnya adalah kegelapan malam karena ketiadaan listrik. Giliran pemadaman listrik lebih sering dan lama daripada sebelum-sebelumnya. Ini semata hanya masalah kurangnya pasokan daya, bukan masalah rumus-rumus. Kebutuhan jauh lebih besar ketimbang suplai daya. Untung ada interkoneksi dengan Sumbar dan Sumsel, kalau tidak, defisit kita akan jauh lebih besar.

Mau mengadu kemana kita? Biar Mbah Surip sekali pun yang menggendong kemana-mana pengaduan itu, tetap juga tak akan ada solusi. PLN dari jauh-jauh hari telah mengatakan, mereka tidak akan sanggup membangun pembangkit. Kitalah yang harus membangun pembangkit, PLN yang mendistribusikannya. Kenapa begitu? Karena undang-undang mengatur demikian, dan ini berlaku di seluruh Indonesia. Sanggupkah kita membangun pembangkit? Sanggup! Batu bara ada, gas ada, sungai ada. Semua ada termasuk uang! Asal penggunaan anggaran lebih fokus. Jadikan masalah listrik super prioritas.

Pengepung berikutnya adalah ambisi kita untuk menjadi tuan rumah PON yang baik pada 2012 nanti. Memang PON masih tiga tahun lagi, tetapi segala sesuatunya harus disiapkan dari sekarang. Venues alias tempat-tempat pertandingan, air bersih, listrik (nah...listrik lagi kan?), wisma atlit, jalan, jembatan, bandar udara, pelabuhan laut, atlit-atlit, tidak bisa disiapkan bak meniup lampu aladin, sim salabim abrakadabra. Semua butuh waktu dan dana. Untuk stadion utama (main stadium) saja memerlukan dana Rp900 milyar, belum jelas dari mana dananya. Kalau 100 persen APBD Riau, beratlah. Sebelumnya, Riau optimis pusat membantu. Tapi ternyata dalam APBN 2010 tidak tercantum. Dijanjikan masuk APBN-Perubahan 2010, tapi pesimislah. Contoh, diberitakan DIPA Riau akan ditambah Rp5 triliun dalam APBN-Perubahan 2009, nyatanya nol koma nol. Alih-alih, justru DBH Riau yang dikurangi. Itu baru satu stadion utama, kan masih banyak yang lain? Kasihanlah rakyat kita di desa.

Lantas, apa nak jadi? Duduklah stakeholder satu meja: petinggi negeri, orang-orang kaya, profesor-profesor terpercaya, dan orang-orang kuat negeri. Selektif, informal, egaliter, bicara pelan-pelan dari hati ke hati sampai semuanya berbisik seperti Mbah Surip bilang, I love you full. Yakin usaha sampai.

kolom - Riau Pos 27 Juli 2009
Tulisan ini sudah di baca 1283 kali
sejak tanggal 27-07-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat