drh. Chaidir, MM | STRONG  LEADERSHIP | APA beda pemimpin dan pejabat? Pemimpin masuk penjara dulu baru menjabat, sedang pejabat, menjabat dulu baru masuk penjara. Contoh yang menjadi legenda adalah Presiden Afrika Selatan (1994-1999), Nelson Mandela, ia memenangkan pemilihan umum dan menjadi presiden kulit hitam pertama setelah dipenjara
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

STRONG LEADERSHIP

Oleh : drh.chaidir, MM

APA beda pemimpin dan pejabat? Pemimpin masuk penjara dulu baru menjabat, sedang pejabat, menjabat dulu baru masuk penjara. Contoh yang menjadi legenda adalah Presiden Afrika Selatan (1994-1999), Nelson Mandela, ia memenangkan pemilihan umum dan menjadi presiden kulit hitam pertama setelah dipenjara selama 27 tahun oleh rezim apartheid.

Kim Dae-jung, Presiden Korea Selatan (1998-2003), pernah dipukul, diculik, dipenjara dan pernah dijatuhi hukuman mati, tapi kemudian karena keteguhan pendiriannya dalam membela kebebasan dan keadilan di negerinya, Kim Dae-jung terpilih menjadi Presiden Korea Selatan. Sama dengan Nelson Mandela, Kim Dae-jung juga dianugerahi hadiah prestisius Nobel Perdamaian. Pemimpin lain yang mengalami nasib serupa adalah Pemimpin India, Mahatma Gandhi (1869 - 1948). Tidak usah jauh-jauh, sejarah nasional kita pun mencatat, Presiden Ir Soekarno, Presiden pertama Indonesia, juga pernah ke luar masuk penjara, dibuang ke sana ke mari sebelum menjadi Presiden Republik Indonesia pada 1945.

Secara diametris di sisi lain, tentu masih segar dalam ingatan kita, Presiden Mesir Husni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun, sekarang terpaksa meringkuk dalam penjara. Nasib yang sama juga menimpa Presiden Tunisia Ben Ali. Kedua Presiden kaya raya ini ditumbangkan oleh people power. Sebenarnya ada satu contoh lagi, yakni Presiden Libya Kolonel Muammar Qadafi. Tetapi yang disebut terakhir ini tewas tertembak sebelum sempat dipenjara.

Menjadi penguasa di sebuah negeri atau daerah, sepanjang sejarah, memang tidak akan pernah sepi dari godaan tahta dan harta. Yang telah merasakan nikmatnya singgasana akan selalu berusaha untuk mempertahankannya, maka muncullah kemudian politik otokrasi, oligopoli atau politik dinasti. Yang telah kaya berusaha untuk menumpuk harta tujuh keturunan. Sebenarnya kalau rakyat dijamin memperoleh kesejahteraan dan keadilan, keadaan akan aman-aman saja. Masalah muncul ketika rakyat tidak meningkat kesejahteraannya dan ketidakadilan merajalela.

Kenapa penguasa yang selalu menjadi sasaran kritik? Karena penguasalah yang memiliki pedang kekuasaan. Dengan pedang kekuasaan tersebut semua fungsi-fungsi manajemen organisasi bisa digerakkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Kalau sang penguasa tidak tepat menggunakan kekuasaannya, maka hasilnya tidak sebagaimana diharapkan oleh rakyat. Ketika harusnya bersikap otokratis, pemimpin bersikap demokratis. Ketika harusnya bersikap demokratis, sang pemimpin bersikap otokratis. Penerapan gaya kepemimpinan yang tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi, hasilnya pasti mengecewakan.

Disinilah diperlukannya kepemimpinan yang kuat (strong leadership). Mitos kepemimpinan yang kuat itu muncul dari seorang pemimpin yang gagah perkasa, memiliki keberanian tak tertandingi, bersikap tegas tanpa pandang bulu, bertampang sangar dengan kumis melintang, pemberang, tak sepenuhnya benar. Kepemimpinan yang kuat lebih dari sekadar mitos itu. Kepemimpinan yang kuat harus secara sungguh-sungguh menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan sportivitas sehingga mampu memberi inspirasi kepada organisasinya. Pejabat dengan kepemimpinan yang kuat tak perlu khawatir dengan bayang-bayang karma.

kolom - Harian Vokal 29 Mei 2012
Tulisan ini sudah di baca 2192 kali
sejak tanggal 29-05-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat