drh. Chaidir, MM | Jangan Kibarkan Bendera Putih | Orang kita bilang, kalau dapur tak lagi berasap itu pertanda gawat darurat. Berarti tak ada lagi sesuatu untuk dimasak. Asap sesuatu yang positif bagi dapur. Tapi asap yang menyelimuti Riau dalam pekan ini bukan berasal dari dapur umum kenduri nasional tujuh hari tujuh malam (seperti kebiasaan daera
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jangan Kibarkan Bendera Putih

Oleh : drh.chaidir, MM

Orang kita bilang, kalau dapur tak lagi berasap itu pertanda gawat darurat. Berarti tak ada lagi sesuatu untuk dimasak. Asap sesuatu yang positif bagi dapur. Tapi asap yang menyelimuti Riau dalam pekan ini bukan berasal dari dapur umum kenduri nasional tujuh hari tujuh malam (seperti kebiasaan daerah kita). Asap yang menyesakkan paru-paru warga jelas bukan berasal dari dapur. Asap ini berasal dari pembakaran hutan dan lahan.

Tragisnya, kendati asap menjadi masalah hampir setiap tahun selama sepuluh tahun terakhir, tak juga ditemukan cara yang paling mangkus untuk mengatasinya. Setiap tahun semua marah-marah dengan cara yang sama, bahasa yang sama, dan retorika yang sama. Semua seakan hendak menggantung leher biangnya, semua diminta membantu termasuk membuat hujan buatan yang mahal itu, bahkan termasuk minta bantuan pasukan bomba Malaysia. Tapi itu hanya sekedar memadamkan api, bukan mencegah dengan sungguh-sungguh mencari akar masalahnya. Akibatnya setiap tahun asap muncul lagi, lagi dan lagi.

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan memang menjengkelkan masyarakat. Tapi sesungguhnya masyarakat wajar mencari perlindungan. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada pemerintah? Bahkan wajar pula bila masyarakat meminta pertanggung jawaban pemerintah. Clash-action melawan pemerintah pun bukan sesuatu yang diharamkan bila lingkungan hidup masyarakat terus menerus terganggu, membuat mereka seperti pengidap penyakit menahun. Sebab, kewenangan pengaturan itu ada di tangan pemerintah. Pemerintah punya dana, sistem dan punya sumber daya manusia untuk memikirkan, meneliti dan mencari solusi.

Daerah kita memiliki sebuah institusi yang bernama Pusdalkarhutla (Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan). Artinya, kebakaran hutan dan lahan - dengan adanya Pusdalkarhutla - harusnya bisa dikendalikan sampai pada derajat tidak membahayakan masyarakat. Bukankah tidak elok kedengarannya, setiap tahun petinggi-petinggi kita selalu marah-marah perihal asap ini sementara pada sisi lain sebenarnya pemerintah punya semua perangkat yang diperlukan baik untuk koordinasi maupun institusi pelakasana kebijakan.

Aktivis lingkungan hidup kita di daerah ini juga terkenal vokal, mereka tak henti-hentinya melengking menyuarakan kebakaran hutan dan lahan ini. Pers kita pun selalu galak.

Kebakaran hutan sebagian besar sesungguhnya akibat ulah manusia (disengaja atau tidak disengaja). Dulu tidak ada asap yang massive seperti sekarang. Bukankah alamnya yang ini juga? Tapi pembukaan kebun, penebangan hutan, pemberian izin penebangan hutan gambut untuk hutan tanaman industri tidak sehebat sekarang.

Kendati bencana asap muncul setiap tahun, tolong, jangan kibarkan bendera putih dan angkat tangan. Jangan menyerah, kita tak mungkin pindah dari kawasan pantai timur Sumatera di pesisir Selat Melaka yang legendaris ini, apapun yang terjadi. Walau sekelam apa pun asap yang menyelimuti, walau tak ada lagi ruang oksigen di paru-paru. Kawasan hutan tropis dan kawasan hutan gambut yang kaya akan plasma nutfah ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dan sudah menjadi takdir kehidupan kita.

Berpikirlah out of the box, susun program terobosan prioritas bersama tim ahli, diskusikan dengan pemerintah pusat. Atasi kebakaran hutan dan lahan dengan memberdayakan masyarakat miskin di sekitar wilayah hutan. Program seperti ini akan lebih mudah meraih DIPA ketimbang program-program mercu suar.

kolom - Riau Pos 20 Juli 2009
Tulisan ini sudah di baca 1249 kali
sejak tanggal 20-07-2008

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat