drh. Chaidir, MM | Kawah Candradimuka | SECARA fisik, kawah Candradimuka terletak di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Tidak mudah untuk sampai ke sana. Para pendaki harus melewati jalan dengan kemiringan 45 derajat. Agak berbahaya, namun kawah Candradimuka bisa didekati. Suasana kawah diselimuti oleh bau belerang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kawah Candradimuka

Oleh : drh.chaidir, MM

SECARA fisik, kawah Candradimuka terletak di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Tidak mudah untuk sampai ke sana. Para pendaki harus melewati jalan dengan kemiringan 45 derajat. Agak berbahaya, namun kawah Candradimuka bisa didekati. Suasana kawah diselimuti oleh bau belerang menyengat dan asap dari kawah yang berhawa panas.

Namun menurut cerita pewayangan Mahabrata, kawah Candradimuka adalah tempat dimana Gatotkaca (anak Wrekudara dan Arimbi) di rebus supaya kuat. Setelah keluar dari Kawah Candradimuka, Gatotkaca konon memiliki otot kawat, tulang besi, kebal dari segala senjata, dan sakti mandraguna. Gatotkaca berubah menjadi ultraman atau superman. Dia menjadi superhero.

Konsep kawah candradimuka bermakna, bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya dilahirkan (leader are born) tapi pemimpin juga harus dibentuk (leader are made) melalui penggemblengan, penggonjlokan. Pemimpin dapat dibentuk melalui jenjang pendidikan dan pelatihan, bahkan juga melalui suatu ujian berat. Para pendahulu, orang tua-tua kita telah memprediksi, masa depan penuh dengan tantangan dan cobaan yang makin lama makin berat dan makin canggih. Globalisasi adalah tantangan umum dari luar berupa pengaruh ekonomi, politik dan kebudayaan. Globalisasi menghadirkan sebuah kesadaran dan kekuatan-kekuatan baru yang melampaui paham-paham dan otoritas-otoritas tradisional. Ke dalam, godaan perebutan "3 ta"(tahta, harta dan wanita) dalam masyarakat hedonis, suatu masyarakat yang mengagung-agungkan semangat kebendaan dan kemewahan, tidak kalah dahsyatnya. Semua ingin cepat kaya, semua ingin cepat dapat posisi jabatan basah, semua ingin meraih keuntungan yang sebesar-besarnya, tak peduli jalan yang ditempuh. Di tengah gejolak itulah calon pemimpin tumbuh, dalam masyarakat, dimana norma baik-buruk terlihat kabur.

Dalam perspektif kekinian, kawah candradimuka dimaknai sebagai sebuah lembaga untuk menggodok atau menggembleng pemuda-pemuda sebagai kader bangsa supaya menjadi pemimpin yang memiliki kepribadian yang kuat, tahan uji, jiwa yang bersih, terlatih dan tangkas. Seorang pemimpin yang kuat dan teruji tidak hanya mampu bertarung melawan serigala yang berkeliaran di hutan, tetapi jauh lebih penting harus mampu mengalahkan serigala yang bersembunyi di dalam dirinya sendiri, dan itu bisa satu lawan seribu. Tidak seperti serigala yang melolong, yang bisa mati, serigala yang bersembunyi di dalam hati, takkan pernah bisa mati, mereka hanya bisa ditundukkan. Dimanakah kawah candradimuka modern itu? Adakah kawah candradimuka tersebut wujud berupa wadah Pramuka, Karang Taruna, sekolah, madrasah, ponpes, perguruan tinggi, Akmil, Akpol, STPDN, organisasi pencinta alam, dan lain-lain?

Kalau jawabannya "ya" maka kawah candradimuka kita itu tak lagi mangkus menghasilkan pemimpin yang tangguh dan tahan uji. Sebab pada kenyataannya, jebolan kawah candradimuka modern itu, satu demi satu tumbang oleh kerikil-kerikil tajam yang ditabur sendiri. Satu demi satu anak negeri dimangsa oleh pembangunan yang dirancang sendiri. Kita hampir tak lagi menemukan kader-kader muda yg memiliki integritas.

Politisasi kehidupan yang amat berlebihan yang menawarkan banyak lampu aladin, ternyata sangat menggiurkan. Sentuhan politik dan kekuasaan bisa menyulap seseorang berubah bermandi kemewahan dalam sekejap. Akhirnya mentalitas instan menjadi budaya. Sayangnya masyarakat yang materialistik memberi tepuk tangan bagi kader-kader muda yang karir politiknya melejit instan itu. Padahal, partai politik dan lembaga-lembaga politik seperti DPR dan DPRD sarat dengan kepentingan pribadi atau kelompok yang umumnya cenderung menegakkan pembenaran bukan menegakkan kebenaran.

Tapi kita tak boleh patah arang. Anak-anak muda kita senantiasa harus diberi semangat bahwa predikat pemimpin di masa depan yang mereka sandang, bukan hanya untaian kata tak bermakna. Mereka sungguh-sungguh akan menjadi pemimpin kalau mereka memiliki karakter yang kuat, memiliki komitmen kebangsaan yang kokoh, demokratis, dan egaliter, serta berani berpihak terhadap kepentingan rakyat. Hindarilah aji mumpung.

kolom - Harian Vokal 17 April 2012
Tulisan ini sudah di baca 3336 kali
sejak tanggal 17-04-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat