drh. Chaidir, MM | Rindu Soe Hok Gie | HIRUK pikuk berita pemeriksaan dan peradilan kasus korupsi yang melibatkan sejumlah politisi, penguasa dan pengusaha di Tanah Air akhir-akhir ini, meninggalkan sebuah pesan. Apatah lagi kasus demi kasus yang terungkap, melibatkan tokoh-tokoh muda yang sesungguhnya diharapkan menjadi pemimpin di masa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rindu Soe Hok Gie

Oleh : drh.chaidir, MM

HIRUK pikuk berita pemeriksaan dan peradilan kasus korupsi yang melibatkan sejumlah politisi, penguasa dan pengusaha di Tanah Air akhir-akhir ini, meninggalkan sebuah pesan. Apatah lagi kasus demi kasus yang terungkap, melibatkan tokoh-tokoh muda yang sesungguhnya diharapkan menjadi pemimpin di masa depan.

Apa gerangan yang salah dengan kawah candradimuka bangsa, sehingga tak lagi menghasilkan pemimpin-pemimpin muda yang tangguh dan trengginas? Yang muncul di panggung politik justru para politisi dan pemimpin-pemimpin muda yang ringkih, kehilangan idealisme, rentan terhadap godaan harta dan kekuasaan.

Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib, adalah dua orang anak muda (kelahiran 1942) aktivis mahasiswa Angkatan 66, yang harum namanya. Mereka mati muda. Soe Hok Gie, meninggal bersama Idhan Lubis, ketika memimpin pendakian di Gunung Semeru (1969). Ahmad Wahib reporter muda majalah Tempo, meninggal di Jakarta (1973). Idealisme kedua anak muda ini menjadi inspirasi bagi aktivis mahasiswa era 1970-an. Mereka digodok oleh kawah candradimuka berbeda, Gie di UI Jakarta dan Wahib di Yogyakarta, tapi keduanya adalah aktivis mahasiswa yang teguh dalam memegang prinsip. Mereka penulis produktif dan kritis. Keduanya intelektual muda yang memiliki benteng idealisme kokoh. Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah, tapi kemudian setelah lulus mereka tak lagi kritis. "Kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan." Tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya. Gie mendapat apresiasi internasional. John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).

Ahmad Wahib, dikenal sebagai pemikir dan pembaharu Islam. Tulisannya tajam, mendalam dan menggigit. Dalam satu wawancara, Douglas E. Ramage, University of South Carolina, AS, menyebut Wahib sebagai salah satu pemikir baru Islam yang revolusioner. "Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat."(Catatan Harian 9 Oktober 1969)

Sayang, politisi dan pemimpin-pemimpin muda kita sekarang terperangkap dalam mentalitas instan (ingin cepat kaya dan pegang jabatan). Persepsi umum juga menjerumuskan. Seorang aktivis dianggap sukses bila terjun ke politik dan duduk sebagai gubernur atau bupati/walikota, atau anggota DPR/DPRD, kendati untuk itu harus menggadaikan idealisme.

Kawah candradimuka kita kelihatannya tak lagi mangkus membentuk Soe Hok Gie Soe Hok Gie lain atau Ahmad Wahib Ahmad Wahib lain. Galau.

kolom - Riau Pos 16 April 2012
Tulisan ini sudah di baca 2325 kali
sejak tanggal 16-04-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat