drh. Chaidir, MM | Adios RAL | MENGHITUNG hari. Itulah yang bisa dilakukan oleh Riau Airlines menanti saat memasuki bilik sejarah dalam pekan ini. Pada 7 April 2012 lima hari lagi, izinnya menjadi kadaluarsa. Dan sejak saat itu RAL akan menjadi bagian masa lalu, senasib dengan maskapai domestik lainnya, Sempati Air, Bouraq Indone
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Adios RAL

Oleh : drh.chaidir, MM

MENGHITUNG hari. Itulah yang bisa dilakukan oleh Riau Airlines menanti saat memasuki bilik sejarah dalam pekan ini. Pada 7 April 2012 lima hari lagi, izinnya menjadi kadaluarsa. Dan sejak saat itu RAL akan menjadi bagian masa lalu, senasib dengan maskapai domestik lainnya, Sempati Air, Bouraq Indonesia, Adam Air, Jatayu Airlines dan Mandala Airlines.

Rasanya masih segar dalam ingatan, dengan bangga masyarakat Riau menyaksikan maskapai penerbangan milik daerah ini mengangkasa. Pada bulan Desember 2002 silam, dalam penerbangan perdana uji coba Pekanbaru-Batam, di atas angkasa Riau, Fokker 50 RAL sempat terbang berdampingan dengan pesawat tempur Skyhawk yang dipiloti langsung oleh Kolonel Penerbang Eris Heryanto, Komandan Pangkalan TNI AU Pekanbaru (sekarang Sekjen Kementerian Hankam dengan pangkat Marsekal Madya). Dari jendela RAL masih terbayang Kol Penerbang Eris Heryanto melambai tangan mengacungkan jempol.

Masih segar juga dalam ingatan ketika RAL kembali menebar optimisme dengan masuknya armada pesawat jenis Boeing 737-500. Pesawat ini menerbangi rute komersil Pekanbaru-Tanjung Pinang-Natuna. Pada 4 Januari 2011 tahun lalu, Boeing 737-500 RAL dengan nomor penerbangan RIU 522 telah membawa 74 penumpang untuk jurusan tersebut. Dari Bandara Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, maskapai itu membawa pula 108 penumpang menuju Natuna, Kepulauan Riau. Direktur Utama Riau Airlines Teguh Triyanto menyatakan, sebagaimana dimuat Kompas.com (4/1/2010), beroperasinya kembali RAL menandai babak baru setelah badai krisis keuangan terus menghantam yang membuat dihentikannya operasional perusahaan. "Memasuki awal 2011 merupakan babak baru bagi kami untuk menekuni bisnis transportasi udara setelah kondisi yang tidak menguntungkan terjadi pada tahun lalu," ujar Teguh.

Sejak September 2010 RAL memang berhenti beroperasi karena dua pesawat Fokker 50 milik Aero Century ditarik oleh pemiliknya akibat RAL menunggak sewa Rp17 miliar.

Akhir Februari lalu, Gubernur RZ kembali menghidupkan harapan. Setelah mati suri (beberapa kali mati suri), Riau Air direncanakan akan kembali terbang. "Insya Allah, bulan depan Riau Air sudah bisa terbang kembali. Mohon dukungannya. Saat ini kita sudah menyewa tiga pesawat lagi," ujar Gubernur RZ (Riau Pos 28/2/2012 halaman 32). Namun pada kenyataannya, Riau Air ternyata belum memenuhi syarat untuk kembali terbang. Pada 7 April 2012 ini genap 12 bulan Riau Air tidak beroperasi secara nyata dan dengan demikian surat izin usahanya akan tercabut secara otomatis.

Memang waktu masih ada lima hari lagi. Asisten II Sekdaprov Riau Emrizal Pakis menyatakan, hingga saat ini Pemprov Riau masih mengupayakan bagaimana Riau Air dapat dapat dioperasionalkan. Namun untuk memenuhi persyaratan, Riau Air harus memiliki 10 unit pesawat, lima unit diantaranya wajib dimiliki sendiri. Emrizal mengakui hingga saat ini belum ada. (Harian VOKAL 2/4/2012 halaman 1). Bila kondisinya demikian, hanya mukjizatlah yang bisa menyelamatkan RAL dan itu logika profetik yang tak mungkin lagi wujud di era modern yang karut marut seperti sekarang.

Apa hendak dikata, nasi sudah jadi bubur. Maskapai penerbangan komersial satu-satunya yang dimiliki oleh pemerintah daerah dan berada di luar Jakarta, harus menyerah, bukan karena persaingan sebagai satu-satunya alasan. Tapi karena manajemen tak mampu menyusun sebuah program penyehatan perusahaan secara fundamental dengan melibatkan konsultan world class, kecuali setiap tahun minta suntikan dana segar dari APBD. Adios RAL.


kolom - Harian Vokal 2 April 2012
Tulisan ini sudah di baca 1843 kali
sejak tanggal 03-04-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat