drh. Chaidir, MM | Cermin-cermin Pilpres | PILPRES 8 Juli 2009 menyisakan pesan singkat menarik dari dua provinsi yang bertetangga dekat, Riau dan Sumatera Barat. Pesan tersebut tak ada kaitannya dengan SARA, sama sekali hanya masalah sensitifitas akademis. Ada sesuatu yang diametris dipertontonkan oleh Bumi Lancang Kuning dan Bumi Bundo Kan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cermin-cermin Pilpres

Oleh : drh.chaidir, MM

PILPRES 8 Juli 2009 menyisakan pesan singkat menarik dari dua provinsi yang bertetangga dekat, Riau dan Sumatera Barat. Pesan tersebut tak ada kaitannya dengan SARA, sama sekali hanya masalah sensitifitas akademis. Ada sesuatu yang diametris dipertontonkan oleh Bumi Lancang Kuning dan Bumi Bundo Kanduang yang agaknya menarik untuk kajian akademis terhadap perilaku sosial masyarakat dalam kaitannya dengan apresiasi terhadap pilpres 2009.

Tontonan dari Riau: siapapun tahu, pertama, pada pemilu legislatif 9 April 2009 Partai Golkar tak tergoyahkan untuk tampil sebagai pemenang di Riau dengan 27 persen lebih perolehan suara (walaupun turun dibanding hasil pemilu 2004); kedua, Gubernur Riau adalah Ketua Partai Golkar Provinsi Riau, kemudian tiga Bupati (Rohil, Kampar dan Kuansing) adalah Ketua Partai Golkar Kabupaten, empat Bupati (Rohul, Bengkalis, Inhil, Pelalawan) dan satu Walikota (Pekanbaru) adalah kader Partai Golkar yang diusung Partai Golkar memenangkan pilkada di daerahnya masing-masing. Hanya Walikota Dumai, Bupati Siak dan Bupati Inhu yang tidak diusung Partai Golkar. Wakil Bupati Inhu yang kemudian menjadi Bupati definitif adalah juga kader Partai Golkar. Dengan demikian maka sebenarnya, target Tim Sukses JK-Win untuk memenangkan Ketua Umum DPP Partai Golkar dengan meraih 50% suara di Riau adalah sesuatu yang realistis.

Kenyataannya, taget tak tercapai, bahkan angkanya pun jauh tertinggal. Capres JK-Win hanya menempati urutan ketiga perolehan suara setelah SBY-Boediono dan Mega-Pro. Betul, rakyat bebas menggunakan hak pilihnya untuk menjatuhkan pilihannya kepada salah satu capres; betul yang dipilih dalam pilpres adalah figur, tetapi dengan perolehan suara JK-Win jauh dibawah perolehan suara partai pada pemilu legislatif (yang hanya tiga bulan berselang), ini berarti, pendukung setia partai lebih memperhatikankan figur ketimbang capres yang didukung partainya. Gambaran dukungan terhadap partai politik ternyata tidak paralel dengan dukungan terhadap figur capres dalam pemilihan presiden secara langsung.

Lain tontonan di Riau, lain pula di Sumbar. Melalui berbagai pemberitaan, kita mencatat, sebagian besar tokoh-tokoh Minang secara terbuka memberikan dukungan terhadap "urang sumando", yakni Capres JK. Dukungan tokoh ternyata tidak paralel dengan dukungan masyarakat umum. Sekali lagi pada kenyataannya, pasangan JK-Win memperoleh suara yang sangat sedikit dibanding perolehan suara SBY-Boediono dan Mega-Pro. SBY-Boediono bahkan memperoleh dukungan 80% lebih. Terlihat jelas di sini adanya "gap" antara sikap para tokoh dengan cucu kemenakan di kampung halaman. Gambaran seperti ini hampir belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, sang tokoh cukup "mendehem", cucu kemenakan sudah tahu maksudnya.

Pertanyaannya, benarkah rakyat tidak mau lagi didikte parpol? Benarkah rakyat tidak lagi patuh diarah-arahkan para tokoh? Benarkan cucu kemenakan tidak lagi percaya kepada petuah datuknya? Coba lihat, tokoh sekaliber Din Syamsudin pun yang pada masa tenang sengaja pasang badan, tak direspon positif oleh rakyat pemilih. Kenapa? Benarkah elit parpol terlalu mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok? Benarkah tokoh-tokoh kita tidak lagi steril terhadap makhluk yang bernama kepentingan? Benarkah selalu ada udang di balik batu?

Demokratisasi gencar pasca reformasi kelihatannya telah membawa perubahan yang mendasar dalam perilaku politik dan cara pandang masyarakat. Rakyat ternyata tidak hanya semakin cerdas, mereka bahkan semakin kritis.

Ketika presiden terpilih mengucapkan sumpah dia tidak lagi menjadi presiden dari tim sukses dan mereka-mereka yang menyontreng untuknya. Tapi menjadi presiden bagi semua, tim pemenang maupun tim yang kalah, dan preisden bagi pendukung atau tidak pendukung.

kolom - Riau Pos 13 Juli 2009
Tulisan ini sudah di baca 1322 kali
sejak tanggal 13-07-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat