drh. Chaidir, MM | SBBM: M K M K | ADAT pantai ada ombaknya. Ada ombak kecil, ada ombak besar yang siap melamun. Kenaikan harga BBM adalah ibarat ombak. Cepat atau lambat dia pasti datang dan terpaksa harus dihadapi betapa besar pun lamunannya. 

Situasinya menjadi dramatis karena negeri kita negeri penghasil minyak. Sayang, produk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

SBBM: M K M K

Oleh : drh.chaidir, MM

ADAT pantai ada ombaknya. Ada ombak kecil, ada ombak besar yang siap melamun. Kenaikan harga BBM adalah ibarat ombak. Cepat atau lambat dia pasti datang dan terpaksa harus dihadapi betapa besar pun lamunannya.

Situasinya menjadi dramatis karena negeri kita negeri penghasil minyak. Sayang, produksinya tak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri yang makin lama makin besar. Untuk menutupi kekurangan, kita harus impor dan ini memerlukan subsidi yang sangat besar. Semakin tinggi harga minyak dunia semakin besar subsidi yang harus dikeluarkan.

Pemerintah ibarat makan buah simalakama, dimakan mati bapak, tak dimakan mati emak. Maju kena mundur kena, diam pun kena. Harga BBM tidak akan naik bila subsidi BBM dalam APBN tidak dikurangi. Tetapi pasti menimbulkan defisit yang sangat besar dan tak tertanggungkan. Mengurangi subsidi BBM adalah opsi mudah untuk menyelamatkan APBN bagi kepentingan bangsa, tetapi dampaknya langsung menaikkan harga BBM. Dan malangnya, ketika kenaikan harga BBM baru isu, spekulan sudah mulai menumpuk BBM, pemilik kendaraan bermotor mulai antrian panjang di setiap SPBU, dan harga sembako langsung merangkak naik. Suasana menjadi provokatif ketika penumpang gelap (free rider) mulai pasang aksi memanfaatkan sentimen politik melalui berbagai media yang seakan memperoleh mainan baru.

Sekurang-kurangnya ada tiga mitos usang. Pertama, subsidi yang membebani APBN ratusan triliun rupiah itu sebagian besar justru dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Sebab kalangan inilah yang menjadi konsumen terbesar BBM. Kalangan ini memerlukan BBM untuk beberapa buah kendaraan pribadinya. Masyarakat kecil atau masyarakat miskin hampir tidak menikmati BBM murah (bersubsidi) tersebut, karena sebagian besar dari kalangan ini tak pernah membeli BBM. Di beberapa SPBU di Batam, terpampang spanduk unik ukuran besar, "premium hanya untuk orang tidak mampu." Tapi siapa peduli? Sindiran itu dianggap angin lalu. Mitos kedua, harga BBM yang murah akibat subsidi justru diselundupkan oleh jaringan mafia smokel ke luar negeri untuk memperoleh keuntungan selisih harga yang cukup besar. Mitos ketiga, BBM murah bersubsidi sering mengalir secara illegal ke industri.

Beberapa hal sebenarnya bisa dilakukan oleh pemerintah supaya keadaan tidak berkembang eksplosif. Pertama, harga sembako dan barang-barang kebutuhan lainnya ditekan untuk tidak ikut-ikutan naik; kedua, tunjukkan angka yang rasional dan mudah dimengerti bahwa yang menikmati subsidi BBM itu adalah golongan menengah ke atas bukan rakyat miskin; ketiga, ungkapkan kasus penyelundupan BBM bersubsidi; keempat, beberkan industri yang sering menggunakan BBM bersubsidi; kelima, ungkapkan pengusaha-pengusaha raksasa yang ngemplang pajak, yang kalau pajak itu diterima utuh oleh Negara bisa untuk menambah BLT untuk rakyat miskin; keenam, lelang segera aset koruptor untuk ditambahkan ke BLT; dan ketujuh, sita segera rekening-rekening jumbo illegal itu untuk menambah BLT.

Last but not least, para politisi dan cerdik pandai kita mau memandang persoalan secara jernih dan menggunakan akal sehat. Seberat-berat mata memandang, lebih berat lagi bahu memikul.

kolom - Riau Pos 25 Maret 2012
Tulisan ini sudah di baca 1761 kali
sejak tanggal 26-03-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat