drh. Chaidir, MM | Politik Dasa Muka | DALAM sebuah ceramah bertajuk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Dasa Muka

Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM sebuah ceramah bertajuk "Paguyuban Kumuh Koruptor dan Polusi Kebudayaan" di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, 10 November 2011 lalu, Busyro Muqoddas (ketika itu masih menjabat sebagai Ketua KPK) menyebut sejumlah politisi kita sebagai politisi dasa muka alias memiliki sepuluh muka. Maksudnya, sejumlah politisi memiliki karakter ganda atau karakter yang bisa berubah-ubah. Pagi lain, siang lain, malam lain lagi wajahnya.

Dalam sastra Hindu, Dasa Muka adalah gambaran yang diberikan kepada Rahwana, raksasa iblis Raja Alengka yang menyeramkan rival berat Rama. Sangat sulit bagi Rama untuk menundukkan Rahwana, sampai suatu ketika Rama pernah mendengar cerita bahwa Dasa muka adalah raksasa yang bodoh. Karena bodoh, otak Rahwana berada di dengkul dan tidak pernah di gunakan untuk berpikir. Secepat kilat Rama menghujamkan anak panah ke lutut Dasa muka dan ternyata mangkus. Seketika itu juga Dasa muka tumbang menghantam bumi dan mati.

Politisi dasa muka bukanlah seperti raksasa bodoh yang otaknya di dengkul itu, politisi dasa muka justru memiliki sepuluh kepala yang masing-masing berisi otak dan selalu digunakan berpikir cepat untuk menangkap segala macam peluang bagi keuntungan pribadi atau kelompok baik legal maupun illegal, termasuk menggunakan muka yang berbeda-beda terhadap satu masalah yang sama. Salah satu contoh yang mudah dibaca tapi sulit dipahami masyarakat awam adalah ketika beberapa waktu lalu politisi di DPR menghajar habis-habisan KPK, hanya karena KPK memeriksa beberapa orang Pimpinan Badan Anggaran DPR dalam kasus dugaan mafia anggaran. Terlepas dari cerita miring yang berhembus, bahwa lembaga superbodi KPK dinilai tidak bersih-bersih amat, apa yang mereka lakukan dalam pemberantasan korupsi di Tanah Air sudah mulai menampakkan hasil. KPK telah tumbuh menjadi sosok yang menakutkan dan membuat orang berpikir seribu kali untuk melakukan korupsi.

Kontroversi teranyar adalah soal moratorium remisi koruptor. Seperti diketahui, akhir tahun lalu Kementerian Hukum dan HAM mengeluarkan kebijakan untuk sementara menghentikan pemberian remisi terhadap terpidana korupsi. Artinya tidak ada lagi pemotongan masa tahanan. Alasannya sederhana. Banyak koruptor divonis ringan oleh pengadilan. Terpidana ini pun tak perlu lama-lama di penjara karena mereka akan segera mendapatkan remisi alias hadiah pengurangan hukuman. Keringanan yang diperoleh koruptor ini, tentu saja menyinggung rasa keadilan masyarakat. Masyarakat kita sudah letih menghadapi koruptor yang selalu punya jurus untuk lolos dari lubang jarum. Koruptor sangat merugikan masyarakat, tetapi ketika mereka diadili di meja hijau, hukuman yang ditimpakan kepada mereka ringan dan nanti setelah di tahanan, mereka pasti dapat remisi.

Oleh karena itu kebijakan sementara (moratorium) menghentikan pemberian remisi kepada koruptor disambut baik oleh masyarakat yang menginginkan negeri ini bebas dari korupsi. Koruptor tidak boleh diberi kemudahan, koruptor harus dihukum berat dan harus dibuat jera, begitu kira-kira persepsi masyarakat. Namun mengherankan, kebijakan itu ternyata ditentang oleh sejumlah politisi, bahkan sejumlah Anggota DPR menggalang dukungan untuk mengajukan interpelasi kepada Pemerintah. Ada pula yang mengajukan uji materi kepada Mahkamah Konstitusi. Kita menjadi terbengong-bengong, ketika beberapa hari lalu, gugatan agar moratorium itu dibatalkan, ternyata dimenangkan oleh Mahkamah Konstitusi. Artinya, remisi alias hadiah pengurangan hukuman kepada koruptor harus tetap diberikan.

Ternyata banyak pihak yang membela koruptor. Agaknya, sebanyak yang tak suka sebanyak itu pula yang suka. Jangan-jangan banyak yang seperti Dasa Muka itu. Oh tidaaak....

kolom - Riau Pos 12 Maret 2012
Tulisan ini sudah di baca 2229 kali
sejak tanggal 12-03-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat