Agenda Reformasi






chaidir

ADA orang bilang reformasi mati muda. Mahzab moderat bilang reformasi mati suri. Mereka-mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang mencintai reformasi namun mengartikulasikannya secara hiperbolis. Mereka geram. Mereka tidak rela agenda reformasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa dengan nyawa dan air mata masuk ke bilik sejarah dan terlelap abadi dalam tidurnya.

Agenda reformasi yang mempertautkan hati seluruh mahasiswa se nusantara itu sangat mulia: demokratisasi, penegakan supremasi hukum, pemerintahan yang bersih dan anti Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), otonomi seluas-luasnya daerah, dan adili mantan Presiden Soeharto dan kroni-kroninya.
Jujur, apa yang kita nikmati hari ini adalah buah gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa pada 1998 dengan gagah berani dan berdarah-darah. Beberapa mahasiswa jantung hati ayah-bundanya, gugur sebagai martir reformasi, sebagian lagi hilang tak tentu rimbanya. Pemilu multi partai yang sudah tiga kali kita dilenggarakan (1999, 2004 dan 2009) adalah bagian dari agenda demokratisasi. Pemilihan langsung presiden adalah juga buah manis dari proses demokratisasi. Rakyat diberi kebebasan berkumpul dan mendirikan partai politik dengan persyaratan yang sangat mudah. Keterbukaan pers dibuka selebar-lebarnya dan sejadi-jadinya.

Pilkada langsung adalah bagian dari proses demokratisasi. Pemberantasan korupsi dan pembentukan badan super bodi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah buah dari agenda reformasi. Demikian pula penegakan hukum dan HAM serta pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah juga buah reformasi.

Otonomi Daerah yang sekarang kita nikmati adalah buah harum agenda reformasi. Kebijakan desentralisasi sangat membedakan pemerintahan pasca gerakan reformasi dengan pemerintahan sebelumnya yang sangat sentralistik. Ada satu agenda yang belum kesampaian, yakni mengadili mantan Presiden Soeharto. Agenda ini tentu gugur dengan sendirinya ketika mantan Presiden RI itu wafat.

Pada awal gerakan reformasi ketika itu, masyarakat terbagi dalam faksi-faksi. Sesungguhnya faksi juga terjadi di tubuh mahasiswa. Ada tiga kelompok yang terpantau. Kelompok pertama, kelompok pro reformasi; kelompok kedua, anti reformasi dan kelompok ketiga, penikmat reformasi. Kelompok pertama dan kedua jelas berbeda secara diametris. Tapi kelompok ketiga? Kelompok ini adalah orang-orang yang mencari keuntungan dalam euforia reformasi. Mereka kian kemari menepuk dada, sambil menembak di atas kuda. Intimidasi merupakan amunisi sehari-hari kelompok ini. Situasi yang nyaris bak revolusi pada awal reformasi membuat banyak pihak ketakutan seperti penguasa, pengusaha dan "penguasaha" (penguasa-pengusaha). Mereka-meraka ini adalah makanan empuk kelompok penikmat reformasi.

Sesungguhnya, banyak agenda reformasi yang sudah terwujud, tapi ada yang belum secara substantif. Saksi-saksi sejarah reformasi itu kelompok pro, kontra, penikmat kini sudah bertebaran di berbagai bidang, ada yang jadi pejabat, politisi, dan juga jadi pengusaha. Sebagian mereka tentu masih ingat agenda reformasi, tapi tak dipungkiri ada yang sudah lupa, ada pula yang pura-pura lupa.

Tanggal 8 Juli, esok lusa, Indonesia menyontreng. Agenda reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa itu agaknya bisa jadi suluh. Contrenglah!!

kolom - Riau Pos 6 Juli 2009
Tulisan ini sudah di baca 2142 kali
sejak tanggal 06-07-2009