drh. Chaidir, MM | Pintu Angin | BAGI etnis Melayu Semenanjung, atau masyarakat yang tinggal di kepulauan Riau, atau yang bermukim di sepanjang pantai Selat Melaka, angin adalah menu penyedap sehari-hari. Memang bukan menu utama, tapi kurang lengkap bila tak ditutup dengan makan angin. Orang Melayu memang paling doyan makan angin.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pintu Angin

Oleh : drh.chaidir, MM

BAGI etnis Melayu Semenanjung, atau masyarakat yang tinggal di kepulauan Riau, atau yang bermukim di sepanjang pantai Selat Melaka, angin adalah menu penyedap sehari-hari. Memang bukan menu utama, tapi kurang lengkap bila tak ditutup dengan makan angin. Orang Melayu memang paling doyan makan angin.

Entah ada hubungannya atau tidak, demikian seksinya menu makan angin, di Pekanbaru ada Pintu Angin. Tak ada seorang pun yang bisa menceritakan secara meyakinkan, kenapa nama pintu angin itu melekat dan kenapa diberi nama pintu angin. Adakah melalui pintu itu saja angin bisa masuk? Kenapa misalnya tidak dinamakan Pintu Sinama Datuk, Pintu Harapan, atau kalau mau menggunakan kosa kata angin juga, namakan saja Pintu Angin Surga, ya kan?

Pintu, lazimnya tempat orang keluar masuk. Pintu angin mestinya tempat angin keluar masuk. Kalau pintu tempat angin keluar saja, kita sudah sama-sama tahulah, itu tempat yang sangat pribadi, eksklusif. Tapi tempat "yang sangat pribadi" itu, rasanya tidak pernah berfungsi sebagai tempat masuk angin. Masyarakat kita memang kaya dengan frasa. Orang Melayu menyebut makan angin untuk kegiatan berjalan-jalan mencari hawa bersih, relaksasi, mengendorkan otot sambil jalan-jalan sore. Dalam Kamus Bahasa Melayu, karya Arbak Othman, makan angin diartikan sebagai bersiar-siar untuk berehat. Makan angin bukan dalam arti yang sesungguhnya, memasukkan angin ke dalam mulut, dikunyah-kunyah kemudian ditelan. Bukan. Makan angin adalah sebuah perumpamaan. Kegemaran orang Melayu makan angin adakalanya menjadi bahan senda gurau. Konon, orang Jawa yang sedang bepergian, ketika disapa hendak kemana, dia menjawab mantap: pergi kerja. Orang Minang ketika disapa dengan pertanyaan yang sama, menjawab tanpa ragu: pergi menggalas. Terakhir ketika seorang pemuda Melayu disapa hendak kemana, dia acuh tak acuh menjawab: pergi makan angin. Alamaaak…

Lain di bumi Melayu lain pula di ibukota Jakarta. Di Jakarta, semua bisa diolah tak terkecuali angin. Angin tidak untuk dimakan, tetapi angin bisa jadi beras. Lihatlah, beberapa warga ibukota yang kreatif, menjadikan car free day (hari bebas kendaraan bermotor) di Tugu Monas, Jl MH Thamrin dan Jl Sudirman, sebagai peluang untuk mendapatkan uang. Bermodal sebuah pompa angin manual saja mereka siap memberikan jasa menjual angin memompa ban kereta angin masyarakat yang sedang bersepeda santai (funbike). Sebuah simbiose mutalistis.

Tetapi sesungguhnya bisnis menjual angin di Jakarta jauh lebih hebat dari sekedar menjual angin untuk kereta angin. Jakarta adalah biang kabar angin yang bisa diolah. Mafia hukum, mafia kasus, mafia pajak, mafia politik dengan mudah mengolah sebuah negosiasi bisnis yang semula wajar atau bargaining politik yang semula lumrah, menjadi masuk angin, menjadi sulit dan memerlukan biaya besar. Angin politik bisa membuat semua aspek berkontraksi dan bergoyang, kecuali kelambu yang bisa bergoyang sendiri tanpa ada angin. Haiyyaa…..

kolom - Riau Pos 5 Maret 2012
Tulisan ini sudah di baca 2258 kali
sejak tanggal 05-03-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat