drh. Chaidir, MM | Politik Tikus | ORANG-ORANG politik sering disebut politikus. Sebenarnya tak ada hubungan sanak famili antara politikus dan tikus. Namun keduanya ada kesamaan. Politikus suka di cafe-cafe hotel berbintang, tikus juga suka di hotel berbintang, tapi got-got hotel berbintang.  Dalam kompetisi meloloskan diri dari luba
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Tikus

Oleh : drh.chaidir, MM

ORANG-ORANG politik sering disebut politikus. Sebenarnya tak ada hubungan sanak famili antara politikus dan tikus. Namun keduanya ada kesamaan. Politikus suka di cafe-cafe hotel berbintang, tikus juga suka di hotel berbintang, tapi got-got hotel berbintang. Dalam kompetisi meloloskan diri dari lubang, keduanya sama-sama jago. Tikus mampu lolos di lubang yang jauh lebih kecil dari tubuhnya, namun politikus lebih handal, karena sering bisa lolos dari lubang jarum.

Tikus memiliki rekam jejak sebagai politikus ulung. Karena bisa menggigit mangsanya tanpa korban merasa sakit. Dan ini sudah dibuktikannya di India ketika hewan pengerat itu mengerat kelamin seorang pria, yang menyebabkan pria tersebut akhirnya tewas. Kepiawaian tikus menghindar dan melarikan diri dari kejaran predator kucing, diperankan dengan lincah oleh tikus kecil (Jerry) dalam film kartun Tom and Jerry, sehingga kucing hitam besar (Tom) tidak pernah bisa menaklukkannya.

Terkesan kehebatan hewan pengerat ini, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakri, suatu ketika dalam sambutannya pada acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Wilayah Jawa-Bali-NTB Partai Golkar di Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Minggu, pada 4 Juli 2010 silam, tanpa sungkan menyebut, tirulah tikus. Selengkapnya Ical menguraikan, "Kita politisi bekerja keras, main taktis. Jangan kemudian kita dalam permainan itu menggigit terus. Golkar harus berprinsip seperti tikus, ngendus, baru gigit." (sumber detiknews.com 4/7/2010).

Sambutan itu tentu saja membuat heboh di media. Pengamat politik Arbi Sanit menilai perumpamaan itu tidak lebih dari perumpamaan vulgar dengan pengertian negatif. Katena sosok fabel tikus di Indonesia tidak pernah dalam artian positif. Arbi menganggap perumpamaan tersebut tidak tepat diajarkan kepada kader politik. Politikus yang ideal seharusnya diajari terampil dan cerdas dalam memecahkan masalah tanpa harus mengendus dan menggigit layaknya hewan pengerat, kata Arbi Sanit. (Kompas.com 6/7/2010).

Namun tikus tak selamanya dicontohkan dengan hal negatif seperti koruptor, Sebab tikus ternyata lebih gigih dari manusia (panturabisnisonline.com 19/2/2011). Spencer Johnsons dalam bukunya Who Moves my Cheese menggambarkan keunggulan naluri tikus dari kebanyakan manusia. Manusia adalah makhluk yang terprogram dengan rutinitas, tindakannya dikendalikan oleh kebiasaan (habit) sehingga cenderung berorientasi pada masa lalu bukan masa depan. Cheese (keju) diartikan sebagai sesuatu yang dicari manusia, bisa berupa kebahagiaan, makanan, rezeki, harta atau apa saja. Jika manusia menemukan sesuatu di suatu tempat secara berulang-ulang maka ia akan selalu kesana. Suatu ketika cheese itu mendadak tak ada di tempat itu, apa yang dilakukan manusia? Dia akan komplain, berteriak, dan meminta siapapun yang mengambil untuk mengembalikannya. Ketika cheese tak juga dikembalikan, dia hanya diam menunggu sampai tua. Bagaimana dengan tikus? Tikus rajin. Saat cheese tersebut hilang. Dia tak akan pernah berhenti, terus bergerak mencari kesana -kemari tak kenal lelah . Sampai suatu ketika mereka menemukan sesuatu yang baru di tempat yang baru. Dia mendapatkan sesuatu yang baru karena berorientasi pada tindakan dan terus bereksperimen. Tikus tak kenal putus asa atau trauma. Dia terus bergerak dan mencoba tanpa ada kata berhenti.

Di India, tikus bahkan dianggap keturunan dewa. Nah.

kolom - Koran Riau 21 Februari 2012
Tulisan ini sudah di baca 2216 kali
sejak tanggal 22-02-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat