drh. Chaidir, MM | Homo Homini Lupus | Bellum omnium contra omnes, begitu kata filsuf Thomas Hobbes. Manusia cenderung bersaing antara satu dengan lainnya. Karena apa? Karena kepentingan. Demi kepentingan orang rela melakukan apa saja. Bahkan menurut Hobbes, manusia yang satu bisa menjadi serigala bagi manusia lainnya  homo homini lupus
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Homo Homini Lupus

Oleh : drh.chaidir, MM

Bellum omnium contra omnes, begitu kata filsuf Thomas Hobbes. Manusia cenderung bersaing antara satu dengan lainnya. Karena apa? Karena kepentingan. Demi kepentingan orang rela melakukan apa saja. Bahkan menurut Hobbes, manusia yang satu bisa menjadi serigala bagi manusia lainnya homo homini lupus.
Kawan, Anda boleh setuju dengan Thomas Hobbes, boleh tidak. Tapi sebenarnya sepuluh abad sebelum Thomas Hobbes mengemukakan pendapatnya, Nabi Muhammad SAW (pada abad ke-7 Masehi), pada suatu senja yang murung di Madinah, lebih partikularistik dari Hobbes ketika Nabi memberi tauziah kepada para pengikutnya. Kelak kalian akan bertengkar bahkan akan saling bunuh antara sesama saudara sekalipun, karena memperebutkan harta dan kekuasaan, kecuali kalau kalian bertakwa. Begitu warning Nabi.

Kita tidak perlu menunggu berpuluh-puluh abad untuk menguji kebenaran tesis itu. Warga Madinah saja, yang terkenal sebagai cikal bakal masyarakat madani di zaman kekhalifahan Islam, hanya beberapa tahun pasca Nabi wafat, telah memberikan isyarat betapa rentannya kekuasaan itu terhadap kepentingan. Bahkan sesungguhnya ketika jasad Nabi belum lagi dimakamkan, telah terjadi pertengkaran antara kaum Ansor dan Muhajjirin. Dicatat dalam lembaran sejarah, di bawah Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal tegas dan keras, masyarakat Madinah patuh dan taat. Ketika Khalifah Usman bin Affan yang terkenal halus dan lembut menggantikan Umar, masyarakat malah berunjuk rasa anarkis dan membunuh Usman. Lalu ketika Yazid bin Mu'awiyah menjadi Khalifah dan terkenal kejam, masyarakat memberontak menentangnya.

Kekuasaan dan proses perebutan kekuasaan dari dulu memang sarat dengan intrik, propaganda kontra propaganda, bahkan fitnah kontra fitnah. Apatah lagi kemudian, ketika anatomi kekuasaan itu telah mengalami mutasi genetis melintasi zaman layaknya virus flu babi H1N1 atau virus flu burung H5N1, dari semula tidak berbahaya, kemudian jadi ganas. Kekuasaan politik yang diperoleh melalui suatu proses demokrasi memiliki legitimasi yang kuat. Apalah jadinya bila kekuasaan yang memiliki legitimasi kuat itu tidak dikelola secara baik dalam suatu selimut kesantunan akal budi.

Debat Capres dan debat Cawapres yang disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi dan ditonton oleh puluhan juta orang, lebih banyak mengemas persaingan perebutan kekuasaan dalam perspektif industri media telekomunikasi. Dari perspektif industri telekomunikasi, debat tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga atraktif dan sangat provokatif. Pihak-pihak yang berdebat diposisikan sebagai seteru yang harus saling cekau, saling hajar, bahkan saling bunuh. Supporter dan para pengamat, serta juru bicara dari masing-masing Tim Sukses digiring ke sudut untuk saling pukul dan saling menjatuhkan. Semakin brutal dan berdarah-darah semakin menggairahkan. Jika masing-masing kontestan mengemukakan argumentasi dengan bahasa dan cara santun, maka debat dianggap monoton, hanya seperti lomba pidato, atau bahkan disebut di bawah standar.

Sesungguhnya debat harus dijauhkan dari naluri homo homini lupus atau naluri purba sejenis dengan terlalu mengedepankan aspek industri media. Kedalaman dan kejernihan berpikir peserta debat harusnya lebih dieksplorasi, tidak hanya sekedar mengharapkan tepuk tangan. Apalagi tepuk tangan yang dimobilisasi.

kolom - Riau Pos 29 Juni 2009
Tulisan ini sudah di baca 1442 kali
sejak tanggal 29-06-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat