drh. Chaidir, MM | Bola Panas Marzuki | BOLA yang diumpan Marzuki Alie, Ketua DPR kita, kali ini tak lagi bola tanggung seperti yang sering disodorkannya, yang bisa bisa membuat kaki lawan atau kawan patah-patah. Kali ini bola itu bola panas. Dan karena bola panas tak ada yang berani pegang. Semua saling menghindar takut terbakar. 

Den
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bola Panas Marzuki

Oleh : drh.chaidir, MM

BOLA yang diumpan Marzuki Alie, Ketua DPR kita, kali ini tak lagi bola tanggung seperti yang sering disodorkannya, yang bisa bisa membuat kaki lawan atau kawan patah-patah. Kali ini bola itu bola panas. Dan karena bola panas tak ada yang berani pegang. Semua saling menghindar takut terbakar.

Dengan gagah berani Marzuki Alie mengambil sikap tegas melaporkan semua proyek di DPR RI sejak 2010 atau sejak dirinya diangkat menjadi Ketua DPR RI kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (Harian Vokal, 21/1/2012 halaman 1). Langkah yang berani itu menurut Sang Ketua agar tidak ada saling tuding dan fitnah satu sama lain di internal lembaga yang dipimpinnya. Langkah serius Marzuki Alie melaporkan berbagai proyek-proyek di Gedung DPR ini menepis keraguan publik selama ini, yang semula menganggap Marzuki Alie tidak serius. Bahkan pernyataan heroik Marzuki Alie yang bersedia mundur sebagai Ketua DPR jika ternyata terlibat kasus korupsi di lembaga yang dia pimpin mengundang apresiasi publik. Itu suatu sikap kesatria yang seharusnya dianut oleh setiap pemimpin.

Sikap tegas yang diambil Marzuki Alie dengan melapor ke KPK mengandung dua sisi yang sama strategisnya. Pertama, dipandang dari sudut DPR, langkah tersebut bisa menjadi momentum semua pihak untuk bersih-bersih, baik suprastruktur maupun infrastruktur politik. Momentum itu sudah sering terlewatkan. Kotak Pandora yang sudah beberapa kali hampir terbuka, tidak jadi terbuka. Akhirnya kesempatan untuk mengurai dosa-dosa dan merengkuh harapan, terkunci kembali. Jangan lupa, pemilu legislatif dan pemilu Presiden pada 2014 tidak lagi lama. Kalau rakyat sekarang tidak bereaksi terhadap aksi-aksi politik yang dilakukan oleh politisi-politisi di parlemen bukan berarti rakyat setuju dengan apa yang terjadi. Rakyat bukan berarti permissive terhadap berbagai statement yang menggaung di parlemen. Rakyat hanya menunggu saat yang tepat untuk menunjukkan kedaulatan yang berada di tangannya. Rakyat diam tapi mereka mencatat dalam hati sanubarinya.

Oleh karena itu awal 2012 ini adalah kesempatan bagi semua partai politik untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa mereka serius memberantas korupsi. Semua pihak harus bergegas, berpacu dengan waktu. Sisi kedua, saya sependapat dengan pengamat politik, Yudi Latief (sebagaimana dimuat inilah.com), bahwa laporan Ketua DPR tersebut, bisa menjadi pintu masuk sekaligus awal bagi Abraham Samad yang telah sebulan menduduki jabatan sebagai Ketua KPK untuk unjuk kebolehan. Bukankah Abraham Samad juga dengan gagah berani pernah berjanji akan mundur dari jabatannya jika tidak mampu menyelesaikan dan mencegah praktik korupsi?

Tempalah besi ketika masih panas. Bidal itu sering diucapkan orang-orang tua kita. Ketika masih panas besi masih bisa ditempa, tetapi ketika sudah dingin besi tak lagi bisa ditempa, arang habis besi binasa, tenaga tukang besi menjadi sia-sia. Kita sudah sering kehilangan momentum seperti itu. Pemeriksaaan pimpinan Banggar oleh KPK terhadap dugaan praktik mafia anggaran di DPR misalnya, hilang begitu saja dari perbincangan. Atau sudah masuk angin?

Praktik korupsi dan kolusi di DPR, apapun bentuknya, tak seharusnya terjadi. DPR adalah lembaga yang diharapkan oleh rakyat untuk mengawal agar pemerintah merencanakan dan menggunakan dengan baik anggaran yang ada. Bila DPR ikut bermain, itu berarti pagar makan tanaman. Jangan lupa, rakyat tidak lupa.


kolom - Harian Vokal 24 Januari 2012
Tulisan ini sudah di baca 2026 kali
sejak tanggal 24-01-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat