drh. Chaidir, MM | Bandar Serai | BANDAR Seni Raja Ali Haji, populer dengan akronim Bandar Serai,  berlokasi di jantung kota Pekanbaru, di tepi jalan protokol, Jalan Jenderal Sudirman, hanya sekitar lima menit dari bandar udara Sultan Syarif Kasim II. Apa istimewanya? Atau pertanyaannya barangkali lebih tepat, apa masalahnya?

Are
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bandar Serai

Oleh : drh.chaidir, MM

BANDAR Seni Raja Ali Haji, populer dengan akronim Bandar Serai, berlokasi di jantung kota Pekanbaru, di tepi jalan protokol, Jalan Jenderal Sudirman, hanya sekitar lima menit dari bandar udara Sultan Syarif Kasim II. Apa istimewanya? Atau pertanyaannya barangkali lebih tepat, apa masalahnya?

Areal seluas lebih kurang 3,5 hektar itu memiliki catatan sejarah sebagai tempat penyelenggaraan MTQ Nasional ke XVII, tahun 1994, di masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada masanya, MTQ Nasional ke XVII ini, adalah MTQ Nasional termegah yang pernah ada sebelumnya. Untuk pertama kalinya upacara pembukaan dimeriahkan dengan sinar laser yang membuat puluhan ribu massa terkagum-kagum.

Sampai saat ini sementara kalangan terutama orang-orang tua enggan melupakan kenangan indah tersebut, sehingga kegiatan apapun yang dilakukan di bekas arena MTQ Nasional itu harus tetap memperhatikan faktor sejarahnya. Bahwa tempat tersebut adalah tempat yang sakral, tempat keindahan dan kemerduan ayat-ayat suci Al Quran diperlombakan. Namun dalam realitasnya, areal tersebut kini hampir tak lagi menyisakan ornamen yang membawa ingatan kita kembali ke masa lalu. Di Arena MTQ tersebut kini telah berdiri gedung megah Anjungan Seni Idrus Tintin. Halaman Gedung Idrus Tintin, yang cukup luas, sering pula digunakan untuk pertunjukan band-band papan atas dan tempat anak-anak muda berjingkrak-jingkrak. Bekas arena MTQ ini juga sering dipergunakan untuk kegiatan kampanye parpol dan kandidat dalam pemilukada.

Sebagian fasilitas arena MTQ Nasional dipergunakan untuk Kantor Dewan Kesenian Riau, Pengelola Bandar Serai, Akademi Kesenian Melayu Riau, dan juga dimanfaatkan sebagai tempat pameran pembangunan. Salah satu unit bangunan yang kondisinya menyedihkan, dipergunakan pula sebagai gudang logistik Pemilukada. Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) sejak awal berdirinya pada tahun 2000 misalnya, sampai sekarang menggunakan salah satu sayap bangunan MTQ Nasional. AKMR didirikan dalam rangka mendukung Visi Riau 2020, menjadikan Provinsi Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, di samping sebagai pusat perekonomian.

Lokasi bekas arena MTQ tersebut juga sering digunakan sebagai tempat olahraga senam dengan instruktur yang umumnya tampil dengan pakaian ketat seronok. Bahkan sudut-sudut gelap dari arena tersebut di malam hari, tak jarang digunakan oleh muda-mudi bercengkerama.

Siapapun yang melihat kondisi bekas arena MTQ Nasional tersebut pasti sedih dan risau. Areal bernilai tinggi di pusat kota dengan bangunannya yang compang-camping memberi kesan pemerintah tak serius mengurusi asetnya. Oleh karena itu setiap ikhtiar re-enginering asset, seperti rencana pembangunan Bandar Serai Town Square And Convention itu layak diapresiasi. Konon rencana investasi senilai Rp 1,1 triliun sepenuhnya bersumber dari investor murni. Pemprov Riau akan memperoleh bagi hasil, dan setelah 30 tahun bangunan tersebut menjadi milik Pemprov Riau dalam skema Build Operation and Transfer (BOT). Lanjutkan.

kolom - Riau Pos 23 Januari 2012
Tulisan ini sudah di baca 2838 kali
sejak tanggal 23-01-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat