drh. Chaidir, MM | Berkawan Biarlah Seribu | UNGKAPAN tersebut selengkapnya berbunyi, berkawan biarlah seribu, bermusuh biarlah satu. Tapi ada juga yang bilang, berkawan biarlah seribu berkasih biarlah satu. Apapaun namanya, perkawanan itu tetap lebih penting.

Manusia adalah makhluk sosial. Fitrahnya memang demikian, manusia bukan makhluk s
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berkawan Biarlah Seribu

Oleh : drh.chaidir, MM

UNGKAPAN tersebut selengkapnya berbunyi, berkawan biarlah seribu, bermusuh biarlah satu. Tapi ada juga yang bilang, berkawan biarlah seribu berkasih biarlah satu. Apapaun namanya, perkawanan itu tetap lebih penting.

Manusia adalah makhluk sosial. Fitrahnya memang demikian, manusia bukan makhluk soliter yang betah hidup menyendiri seperti beruang kutub. Barangkali hanya dalam imajinasi pengarang sufi bangsa Persia, Nizami Ganjafi, tokoh Majnun bisa hidup menyendiri sampai mati demi keagungan cintanya kepada Laila, sang kekasih, selebihnya tidak, apalagi dalam alam nyata. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Dia membutuhkan orang lain dalam lingkungan kehidupannya untuk berinteraksi.

Filsuf Aristoteles (tahun 300 Sebelum Masehi), murid Plato, menggunakan istilah zoon politicon. Zoon berarti hewan, politicon berarti bermasyarakat. Secara harfiah istilah itu berarti hewan yang bermasyarakat. Tetapi istilah tersebut sebenarnya dipakai oleh Aristoteles dalam menerangkan sifat naluri manusia yang memerlukan masyarakat dalam hidupnya satu hal yang membedakannya dari hewan pada umumnya.

Adam Smith, seorang filsuf yang berlatar belakang ekonomi, menyebut homo homini socius, manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya. Penghargaan, anugerah, harga diri, marwah, respek, apresiasi, reputasi, martabat, dan sebagainya baru akan memiliki makna bila ada lingkungan sosial. Manusia adalah makhluk yang mencari kesempurnaan dirinya dalam tata hidup bersama. Manusia lahir, tumbuh dan menjadi dewasa karena dan bersama manusia lain. Adam Smith lebih jauh menyebut, manusia merupakan makhluk ekonomi (homo economicus), makhluk yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.

Dalam persaingan memperebutkan kebutuhannya manusia bahkan tidak segan-segan menjadi homo homini lupus, sebuah gagasan yang dipopulerkan oleh filsuf Thomas Hobbes. Manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya. Kendati manusia bersaing satu dengan lainnya demi mempertahankan kepentingan, dan itu jamak terjadi dalam masyarakat modern, tetap saja gagasan homo homini lupus itu terasa sangat kejam. Namun sayangnya kekejaman itu nyata terjadi di tengah masyarakat, ketika akal budi dikalahkan oleh kepentingan sempit.

Manusia adalah homo sapiens, makhluk pemikir, yang dengan mudah sebenarnya bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang penting mana yang ugent, mana yang prioritas mana yang tidak. Tak kira seberapa besar gelombang yang menghadang hubungan sosial, perilaku organisasi, hubungan pertemanan, sehingga kebenaran diketepikan tanpa basa-basi, akal budi tetaplah harus menjadi pilar utama, sesuatu yang menjadi ruh pertemanan, sesuatu yang membedakan kelompok makhluk yang bernama manusia dengan kelompok satwa. Alamaaak...

kolom - Harian Vokal 17 Januari 2012
Tulisan ini sudah di baca 4046 kali
sejak tanggal 17-01-2012

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat