drh. Chaidir, MM | Nasi Kucing | Nasi kucing memang bukan dialokasikan untuk kucing. Entah siapa yang beri nama. Nasi kucing pertama kali populer di Yogyakarta, porsinya memang kecil, bahkan kucing pun tak akan kenyang dengan satu porsi. Ada sejumput nasi putih, ada sepotong kecil tempe, ada sedikit oseng-oseng, ada secuil sambal.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Nasi Kucing

Oleh : drh.chaidir, MM

Nasi kucing memang bukan dialokasikan untuk kucing. Entah siapa yang beri nama. Nasi kucing pertama kali populer di Yogyakarta, porsinya memang kecil, bahkan kucing pun tak akan kenyang dengan satu porsi. Ada sejumput nasi putih, ada sepotong kecil tempe, ada sedikit oseng-oseng, ada secuil sambal. Harganya murah meriah. Konon, sekarang Rp500,- perbungkus. Penjajanya si mbok bakul, tak pernah bermuka masam kendati ada yang ngutang.

Bagi anda yang penasaran sekedar ingin mencoba atau bernostalgia, di Kota Bertuah kita, kini telah tersedia menu kenangan tersebut. Tapi jangan terkejut, nasi kucing ala Pekanbaru telah mengalami rekayasa genetika. Bungkusannya cukup besar, nasinya banyak. Hanya lauknya belum direformasi: sepotong kecil ikan, sedikit sayur, sedikit sambal. Penjajanya beda. Di sini menggunakan mobil box eks Jepang. Transaksinya cash and carry, tak boleh ngutang. Harganya pun cukup mahal, Rp3.500,- perbungkus. Tempat mangkalnya bergengsi, yakni di taman kota Pekanbaru, di belakang gedung perpustakaan Soeman Hs yang megah itu.

Tak ada yang istimewa dari nasi kucing. Ini hanya hukum dagang semester 1, ada supply and demand: ente jual ana beli. Yang menjadi sorotan sebenarnya, bukanlah nasi kucing itu sendiri, tapi kenapa ada keramaian pada malam hari di belakang mobil box nasi kucing? Kebutuhan masyarakat kita terhadap taman kota sudah cukup tinggi. Orang tua siang hari sibuk bekerja, malam hari makan angin di taman kota sedikit berbagi waktu bercengkrama dengan keluarga, anak dan istri. Jalan-jalan ke mall bukan solusi; sangat konsumtif, pelajaran yang diperoleh anak-anak hanya ilmu belanja. Hasilnya, kalau sudah besar, kelak, sang anak jadi Sutan Balanjo.

Tempat yang juga ramai dikunjungi warga kota pada malam minggu adalah air mancur di bundaran jalan raya di depan Kantor Walikota. Padahal itu bukan taman kota, itu jalan raya dan berbahaya. Tapi warga tak peduli. Sebenarnya ada air mancur lain, yang ruangnya lebih luas, yakni di halaman Kantor Gubernur, sayangnya berpagar tinggi layaknya istana raja. Padahal dulu, lokasi dimana sekarang berdiri Kantor Gubernur dan gedung sembilan lantai yang megah itu, adalah lapangan rumput luas taman kota, tempat anak-anak bermain berlari-larian. Apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Dalam hal kebutuhan terhadap taman kota, pemerintah daerah kita tidak visioner. Kini susah mencari taman kota padahal warga kota sudah sangat memerlukannya. Taman kota adalah sebuah open space (ruang terbuka) berupa halaman rumput luas yang terawat rapi, bersih, indah berbunga cantik, terang benderang menyenangkan di malam hari, dan disediakan gratis oleh pemerintah kota untuk warganya. Bukan taman remang-remang.

Dalam semangat memperingati Hari Jadi ke-225 Pekanbaru, hasrat warga terhadap open space ini agaknya perlu menjadi pemikiran bersama. Untuk kompensasi sementara, Walikota agaknya perlu melakukan uji coba, untuk setiap malam Minggu sampai Minggu tengah hari berikan ruang bagi warga. Stop semua lalu-lintas kendaraan di Jalan Sudirman mulai dari bundaran pesawat sampai pertigaan Jl Tuanku Tambusai (d/h Jl Nangka), dengan demikian jalan raya lingkar Kantor Gubernur, perpustakaan, Bank Indonesia, Kantor Walikota, secara penuh diperuntukkan bagi warga kota. Secara kebetulan wilayah ini tak berpenghuni. Warga kota bisa memanfaatkan dengan leluasa air mancur, taman nasi kucing itu, ruas-ruas jalan di sekitarnya serta menikmati keindahan gedung perpustakaan dan gedung sembilan lantai bermandi cahaya, sambil bercengkrama dengan petinggi-petinggi negeri yang inkognito. Semua akan menikmati akhir pekan di pusat kota, termasuk sektor non-formal. Bila masuk waktu sholat, ada pula masjid Ar-Rahman yang indah. Amboi.....

kolom - Riau Pos 22 Juni 2009
Tulisan ini sudah di baca 1560 kali
sejak tanggal 16-06-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat