drh. Chaidir, MM | Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, | <strong>Menang Tanpa Ngasorake</strong>

<em>OBLIVIONE sempiterna delendam</em>, ujar filsuf Cicero, ketika kekaisaran Romawi berada di jurang perpecahan akibat terbunuhnya Julius Caesar. Biarlah kepedihan masa silam itu tenggelam dalam tidurnya yang abadi. Kata-kata mutiara filsuf yang juga orato
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake,

Oleh : drh.chaidir, MM

Menang Tanpa Ngasorake

OBLIVIONE sempiterna delendam, ujar filsuf Cicero, ketika kekaisaran Romawi berada di jurang perpecahan akibat terbunuhnya Julius Caesar. Biarlah kepedihan masa silam itu tenggelam dalam tidurnya yang abadi. Kata-kata mutiara filsuf yang juga orator terbilang itu, masih dikenang sampai sekarang.

Cicero benar. Masa depan, betapapun sarat dengan tantangan, tetap lebih penting daripada sebuah masa silam yang kelam. Pekanbaru tentu saja bukan Emporium Roma. Tidak ada sesuatu yang kelam di sini. Tapi Pekanbaru baru saja melalui sebuah masa sulit ketika pemilukada untuk memilih pemimpinnya berlarut-larut memalukan, yang bila tidak didekati secara tepat bisa menggoyahkan sendi-sendi kebersamaan dan persaudaraan. Mungkin itu terlalu berlebihan, terlalu lebai, tapi pemilukada Pekanbaru telah berlangsung secara tak sewajarnya. Pemungutan suara ulang yang tertunda-tunda dengan segala permasalahan yang inheren telah meninggalkan banyak catatan noda. Setuju atau tidak, pemilukada Pekanbaru telah mempertontonkan banyak karakter lakon.

Tapi orang bijak selalu mampu mengambil iktibar dari sebuah peristiwa. Pengalaman merupakan guru terbaik. Masyarakat kita memang baru belajar berdemokrasi. Sepuluh tahun era reformasi yang telah membuka kran demokrasi bukanlah waktu yang cukup untuk memahami perilaku demokrasi secara benar. Beberapa negeri maju membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun bahkan berabad-abad untuk mampu bersahabat dengan demokrasi. Sebab makhluk yang bernama demokrasi itu bisa lembut tapi dalam sekejap mata bisa bengis. Tapi kita tak mungkin tak bersatu dengannya.

Tidak hanya masyarakat awam yang harus belajar banyak, para penguasa dan politisi yang umumnya telah berpendidikan tinggi pun harus banyak belajar. Sebab demokrasi tak hanya menyangkut prosedur, atau musyawarah, tapi yang jauh lebih penting demokrasi menyangkut nilai-nilai. Kurang apa dengan prosedur kita? Semua sudah ada ketentuannya. Asas pemilu kita LUBER dan JURDIL secara terang benderang mengatur hak dan kewajiban kontestan dan pemilih. Tahap demi tahap pemilu legislatif dan pemilukada juga telah diatur dengan rapi. Bahkan ada deklarasi pemilu damai siap kalah siap menang. Musyawarah dengan berbagai tingkatan tak terhitung frekuensinya. Artinya, secara prosedural hampir semua keputusan ditetapkan secara kolektif kolegial. Tapi lihatlah, demokrasi prosedural itu belum membawa kebahagiaan massif. Kenapa? Karena demokrasi kita minus nilai.

Nilai-nilai kebebasan, kesamaan dan persaudaraan, yang merupakan nilai-nilai dasar demokrasi sebagaimana asal mula kelahirannya, memerlukan sentuhan kejujuran, tenggang rasa dan sportivitas. Teman kita di tanah Jawa memiliki kearifan lokal yang sangat indah betapa sebuah kemenangan tak berarti harus mengalahkan. “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” - berperang tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan pihak yang kalah.

Andai setiap orang berjiwa dan memiliki konsep menang tanpa ngasorake, maka tak akan ada pihak yang merasa kehilangan muka. Apalagi sesungguhnya dalam perspektif sufistik, pemenang dan pecundang itu hanya dipisah oleh rambut dibelah tujuh.

kolom - Harian Vokal 27 Desember 2011
Tulisan ini sudah di baca 2623 kali
sejak tanggal 26-12-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat