drh. Chaidir, MM | Soeharto dan Gus Dur, Pahlawankah | PAHLAWAN sejati bangsa tak pernah berpikir tentang anugerah gelar kepahlawanan. Mereka hadir demikian saja di tengah dari kalangan kita semua. Pahlawan sejati bangsa bukan rekayasa seperti superman, spiderman, atau naruto. Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dala
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Soeharto dan Gus Dur, Pahlawankah

Oleh : drh.chaidir, MM

PAHLAWAN sejati bangsa tak pernah berpikir tentang anugerah gelar kepahlawanan. Mereka hadir demikian saja di tengah dari kalangan kita semua. Pahlawan sejati bangsa bukan rekayasa seperti superman, spiderman, atau naruto. Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, seorang pejuang yang gagah berani.

Saban tahun, setiap kali memperingati Hari Pahlawan 10 November, setiap kali pula Pemerintah kita memberi anugerah gelar pahlawan kepada putra-putra bangsa yang dianggap pantas disebut pahlawan. Rasanya, tidak ada tokoh penerima anugerah gelar pahlawan yang tak pantas menyandangnya. Semua pantas-pantas saja dan semua sah-sah saja, apalagi telah melalui seleksi dan verifikasi oleh tim yang memiliki kredibilitas.

Yang patut menjadi catatan, ada tokoh yang rasanya pantas menerima anugerah, tetapi belum memperoleh anugerah. Di sisi lain, suka atau tidak suka, ada kesan anugerah gelar pahlawan menjadi hanya sebuah seremoni, tak lagi menggetarkan, atau tak lagi memiliki nilai-nilai sakral atau memiliki nilai yang “sesuatu banget” (maaf, pinjam frasa artis Syahrini).

Kita tak akan pernah berhenti memperingati Hari Pahlawan, kecuali Negara ini bubar, atau tiba-tiba dunia kiamat. Namun itu bukanlah berarti setiap tahun harus ada tokoh yang diberi gelar pahlawan. Bila dipaksakan, maka penerimanya pun diada-adakan, dicari-cari. Setiap daerah dan kelompok masyarakat akan berlomba-lomba mengusulkan tokoh untuk mendapatkan anugerah gelar pahlawan. Semoga saja euforia yang berlebihan tidak memunculkan pahlawan kesiangan, atau misalnya pahlawan baliho, karena balihonya sangat banyak dan tercatat dalam rekor MURI.

Pemberian gelar pahlawan kini menjadi sesuatu yang rutin, hanya masalah prosedural. Hal ini misalnya terlihat dari alasan Menko Polhukam Djoko Suyanto, selaku Ketua Dewan Gelar Tanda Jasa, Tanda Gelar, dan Tanda Kehormatan, sebagaimana dikutip berbagai media. Dijelaskan, mantan Presiden RI Soeharto dan Abdurrahman Wahid tidak mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional karena tidak ada yang mengusulkannya. Ternyata masalahnya, hanya karena tak ada usulan. Padahal, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, rasanya kedua mantan Presiden RI ini sangat berhak mendapatkan anugerah tersebut. Kedua tokoh ini bukan milik sekelompok orang atau golongan, tapi milik bangsa.

Barangkali dalam konteks kebangsaan, dan juga guna memenuhi prosedur, di tahun-tahun mendatang alangkah cantiknya bila misalnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur diusulkan oleh masyarakat Papua, sedangkan mantan Presiden RI Soeharto diusulkan masyarakat petani Indonesia. Sebab kedua entitas masyarakat tersebut merupakan bagian dari entitas bangsa yang punya kedekatan khusus dengan kedua tokoh ini.

Bila itu terjadi, di alam baka sana, Presiden Soeharto, the smilling general akan memberi petunjuk khas: usulan ‘daripada’ pahlawan nasional, terserah ‘daripada’ rakyat ‘daripada’ bangsa ini. Sementara Preisden Gus Dur dengan kalem berkomentar: usulan gitu aja koq repot.


kolom - Riau Pos 13 November 2011
Tulisan ini sudah di baca 2456 kali
sejak tanggal 13-11-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat