drh. Chaidir, MM | Askar Bertuah | Tahun ini klub sepakbola Pekanbaru, PSPS bangkit dari kubur. Tidak tanggung-tanggung, dalam upaya memperebutkan satu tempat di jajaran elit sepakbola Indonesia di Liga Super, PSPS mempermalukan Persebaya Surabaya 5-1. Tidak berlebihan bila dicatat, ini untuk pertama kalinya Askar Bertuah menundukkan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Askar Bertuah

Oleh : drh.chaidir, MM

Tahun ini klub sepakbola Pekanbaru, PSPS bangkit dari kubur. Tidak tanggung-tanggung, dalam upaya memperebutkan satu tempat di jajaran elit sepakbola Indonesia di Liga Super, PSPS mempermalukan Persebaya Surabaya 5-1. Tidak berlebihan bila dicatat, ini untuk pertama kalinya Askar Bertuah menundukkan klub sepakbola elit dengan sebuah tradisi sepakbola yang kuat seperti Persebaya yang terkenal dengan supporter Bonek-nya.

Prestasi ini tentu mengagumkan dan kelihatannya disimpan untuk kado khusus Hari Jadi ke-225 Kota pekanbaru, teristimewa bagi masyarakat pencinta sepakbola di Pekanbaru dan sekitarnya. Walikota Herman Abdullah, Ketua Umum PSPS yang tak kenal putus asa, Manajer Destrayani "Ide" Bibra yang banyak ide dan Abdurahman "Gushiddink" Gurning, pelatih bertangan dingin layaknya Gus Hiddink, patut diberi ucapan tahniah. Tapi PSPS bilang, stop pujian, yang diperlukan adalah duit.

Liga Super tidaklah ringan, di sana bercokol tim-tim kuat. Kalau tidak ingin jadi bulan-bulanan, PSPS harus all-out di dalam dan di luar lapangan. Untuk itu PSPS memang memerlukan dukungan dari seluruh stakeholder. Di lapangan, kuncinya adalah kerja keras dan sikap professional seluruh pemain dan pelatih; solid dan tidak cengeng. Lihat Barcelona, juara antar klub Eropa, dengan pemain yang posturnya rata-rata setinggi pemain Indonesia, mereka bisa menguasai lapangan dan memenangkan pertandingan. Di luar lapangan tentulah menjadi urusan Ketua Umum dan Manajer. Pemain dan pelatih tidak perlu ragu.

Olahraga sepakbola ini olahraga masyarakat, olahraga yang paling banyak penggemarnya. Saya sangat yakin dana bisa dikumpulkan dari para sponsor. Rasanya para pengusaha kelas kakap di daerah ini tidak akan keberatan memberikan hiburan yang positif bagi masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya.

Yang merisaukan adalah kita tidak memiliki lapangan hijau yang memadai untuk pertandingan sepakbola kelas atas seperti di Liga Super. Rumput stadion Kaharudin Nasution, Rumbai, kondisinya rusak. Untuk seluruh kota Pekanbaru, kecuali satu buah yang berada di dalam kompleks Chevron, Rumbai, rumput lapangan sepakbola masyarakat semuanya dalam kondisi parah bahkan berbahaya, karena tidak rata, beberapa bagian bahkan berlobang-lobang. Cobalah lihat lapangan Kampung Bukit, lapangan SD Teladan, lapangan Baterai P, lapangan Simpang Tiga, lapangan Korem, dan lain-lain semua rumputnya dalam kondisi tidak terawat dengan baik. Kita umumnya hobby sepakbola, kita pun senang anak laki-laki kita bisa bermain sepakbola dengan baik, tapi kita hampir tidak pernah memikirkan lapangannya.

Dulu, ketika klub sepakbola oldcrack di Batam sering melakukan pertandingan persahabatan di Singapura, hal yang menarik adalah lapangan-lapangan sepakbola di lingkungan permukiman atau di stadion-stadion mini di negeri pulau itu semua rumputnya terawat dengan mulus. Ruang ganti dan tolietnya bersih, airnya pun lancar. Satu dan lain hal mungkin karena lapangannya banyak yang bagus, prestasi sepakbola Singapura kini melampaui kita.

Hemat saya kita pun bisa demikian. Ini bukan masalah ada atau tidak ada dana, ini masalah apresiasi. Belum ada kesadaran seluruh stakeholder untuk merawat lapangan dengan baik. Ke depan tidak bisa ditawar, kita harus memelihara beberapa lapangan sepakbola yang ada di Kota Pekanbaru, baik melalui anggaran Pemko Pekanbaru, atau anggaran Pemprov, maupun pengusaha besar. Kalau kita sudah banyak memiliki lapangan penunjang yang bagus maka akan muncul pemain-pemain muda berbakat. Kita tidak lagi perlu menggantungkan nasib pada pemain-pemain dari Benua Afrika, pemain lokal pasti tumbuh dan berkembang. Percayalah.

kolom - Riau Pos 15 Juni 2009
Tulisan ini sudah di baca 1407 kali
sejak tanggal 15-06-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat