box office alias film yang paling digrandrungi pada masa itu. Bintangnya, Onky Alexander menjadi pujaan remaja. Sampai Harry Sabar menciptakan sebuah lag" alt="drh. Chaidir, MM | Catatan Si Boy | DI ERA akhir 80-an siapa tak kenal Si Boy? Ikon remaja ini bermula ketika film "Catatan Si Boy" garapan sutradara Nasri Cheppy menjadi film box office alias film yang paling digrandrungi pada masa itu. Bintangnya, Onky Alexander menjadi pujaan remaja. Sampai Harry Sabar menciptakan sebuah lag" hspace="3" vspace="15"/>
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Catatan Si Boy

Oleh : drh.chaidir, MM

DI ERA akhir 80-an siapa tak kenal Si Boy? Ikon remaja ini bermula ketika film "Catatan Si Boy" garapan sutradara Nasri Cheppy menjadi film box office alias film yang paling digrandrungi pada masa itu. Bintangnya, Onky Alexander menjadi pujaan remaja. Sampai Harry Sabar menciptakan sebuah lagu yang kemudian dinyanyikan oleh Ikang Fawzi: Siapa tak kenal dia...Boy anak orang kaya...punya teman segudang...karena pergaulannya...baik budi dan tidak sombong...jagoan lagipula pintar...oh Boy...cermin anak muda...

Menjelang akhir 2011 ini, kita tidak akan membicarakan Si Boy Onky Alexander itu, yang kini entah berada dimana. Ada si Boy lain yang mencuri sekelumit perhatian. Si Boy 2011 dimaksud adalah Burhanuddin Husein, bupati incumbent Kabupaten Kampar, yang dikalahkan oleh penantangnya Jefri Noer dalam pemilihan bupati pada 10 Oktober 2011 baru-baru ini.

Apa istimewanya? Barangkali tidak ada yang istimewa. Kabupaten Kampar (Riau) itu, hanyalah satu dari 530 kabupaten/kota di Indonesia. Biasa-biasa saja. Bukan kabupaten terkaya seperti Kutai Kartanegara atau Bengkalis, bukan pula kabupaten termiskin. Pemilukadanya juga sama dengan pemilukada umumnya di daerah-daerah lain, meriah dalam seremoni miskin substansi. Stigma negatif pemilukada langsung di Indonesia (semangat terlalu berlebihan), belum sepenuhnya lekang: sarat mobilisasi massa, kepentingan elit politik dan kekuasaan, permainan partai, politisasi birokrasi, politik dinasti dan oligopoli, politik dagang sapi, aroma tak sedap politik uang jual-beli suara, fenomena dana bansos, sampai permainan isu pribadi, suku dan agama. Semua berbancuh laksana adonan emulsi, sehingga wajah demokrasi politik kita tampil dalam rupa terburuk: politik Machievelli.

Bedanya, bupati incumbent yang tumbang itu adalah Si Boy. Burhanuddin Husein dalam keluarga dan di lingkungannya memang dipanggil Boy. Tapi jelas bukan karena popularitas film Catatan Si Boy itu. Andai film Catatan Si Boy meledak pada 2011 ini, barangkali nasib sang incumbent akan beda. Tapi di Kampar memang ada sesuatu. Jefri yang menumbangkan Boy di 2011, adalah Jefri yang ditumbangkan Boy dalam pilkada langsung 2006. Jefri sendiri pernah terpilih sebagai Bupati Kampar definitif 2001-2006 dengan format lama (pemilihan oleh DPRD) dalam suatu pemilihan yang sangat dramatis. Sampai kartu suara ke-44 dibuka, skor masih imbang antara calon unggulan Zulher (Sekda ketika itu) dengan sang kuda hitam Jefri yang kurang diperhitungkan: 22 vs 22. Dan, suara terakhir untuk Jefri. Malangnya di tengah jalan, pada 2004, Jefri diturunkan dari singgasananya oleh gelombang aksi unjuk rasa ketidakpuasan yang dipelopori oleh guru-guru di Kabupaten Kampar. Tapi 2011 beda, dari berbagai informasi, guru-guru yang dulu menurunkan Jefri, kini ramai-ramai mendukung Jefri.

Kegagalan Si Boy memikat hati masyarakatnya adalah sebuah catatan penting bagi penguasa di negeri ini. Tak selamanya pedang kekuasaan yang berada di tangan penguasa bisa memberi rasa sejahtera dan aman bagi masyarakatnya. Mendengarkan suara hati masyarakat ternyata sangat penting. Tapi catatan Si Boy tidak hanya itu. Last but not least, dengan berlapang dada dia menerima kekalahan dan minta masyarakat mendukung program bupati terpilih. Jefri pula tetap rendah hati dan meminta pendukungnya tidak meneriakkan yel-yel kemenangan. Kampar mungkin tak penting di tengah luasnya peta negeri zamrud khattulistiwa ini, tapi Kampar telah mengirim catatan penting.

kolom - Riau Pos 24 Oktober 2011
Tulisan ini sudah di baca 2400 kali
sejak tanggal 24-10-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat