drh. Chaidir, MM | Kabinet Impian | PEROMBAKAN kabinet alias reshuffle atau bisa juga disebut kocok ulang kabinet, menjadi berita hangat dalam pekan-pekan terakhir ini. Tidak seperti isu yang berkembang beberapa bulan lalu, kali ini Presiden SBY kelihatannya sungguh-sungguh akan melakukan reshuffle. Beberapa tokoh yang merasa pantas d
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kabinet Impian

Oleh : drh.chaidir, MM

PEROMBAKAN kabinet alias reshuffle atau bisa juga disebut kocok ulang kabinet, menjadi berita hangat dalam pekan-pekan terakhir ini. Tidak seperti isu yang berkembang beberapa bulan lalu, kali ini Presiden SBY kelihatannya sungguh-sungguh akan melakukan reshuffle. Beberapa tokoh yang merasa pantas didudukkan, mulai terkena gejala panas-dingin tak tentu sebab.

Dari beberapa jajak pendapat, tingkat kepuasan publik terhadap Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II memang menurun tajam. Kinerjanya dianggap tidak memuaskan. Penyebabnya, sudah menjadi perbincangan umum, dan mudah diketahui. Pertama, beberapa menteri diragukan kapasitasya; kedua, terlalu berorientasi partai politik. Hal itu wajar, karena beberapa menteri itu adalah tokoh-tokoh partai dan diusulkan oleh parpol yang bersangkutan. Nama mereka mencuat dan dikenal di pentas nasional karena mereka aktivis partai. Partai politik pastilah berbicara kepentingan partai, setelah itu baru kepentingan umum. Jadi, reshuffle itu wajar.

Tak ada yang salah dalam metoda rekrutmen kabinet. Penunjukan menteri itu hak prerogatif Presiden. Presiden SBY bahkan secara demonstratif memamerkan betapa transparan dan obyektifnya proses audisi atau fit and proper test dilakukan. Proses pemanggilan sang calon menteri ke Cikeas merupakan tontonan menarik melalui televisi. Sehingga belum lagi sang calon secara definitif terpilih dan dilantik, rumah sang calon sudah dipenuhi karangan bunga ucapan selamat. Mungkin karena sekarang era keterbukaan, sehingga proses seperti itu tak bisa dihindari. Bila dibandingkan dengan rekrutmen menteri di era Presiden Soeharto misalnya, sang calon menteri tanpa diketahui telah dipantau sejak jauh hari. Rekam jejaknya sudah dipelajari, bahkan juga latar belakang kehidupannya. Kendati proses rekrutmennya tidak teaterikal, tapi pilihannya tak diragukan oleh masyarakat, sebutlah beberapa nama seperti Prof Soemitro Djoyohadikusumo, Prof Dorodjatun Kuncoro Jakti, Radius Prawiro, Prof Emil Salim, Ali Wardana, Arifin Siregar, Prof BJ Habibie, dan lain-lain. Mereka merupakan nama-nama yang tidak diragukan kapasitasnya oleh dalam dan luar negeri. Yang disebut terakhir bahkan terpilih sebagai Wapres dan kemudian sebagai Presiden RI menggantikan Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto beruntung tidak mendapat tekanan hebat dari parpol dalam pembentukan kabinet seperti yang dialami oleh Presiden SBY. Padahal Presiden SBY dipilih langsung oleh rakyat, sehingga memperoleh legitimasi yang sangat kuat, apalagi dengan sistem pemerintahan presidensil yang kita anut.

Kini wacana sangat kuat agar Presiden SBY membentuk Zaken Kabinet, yakni kabinet yang diisi oleh tenaga-tenaga ahli dan profesional dalam bidangnya. Bisakah? "Harus Bisa" Itu judul buku tentang kepemimpinan SBY yang ditulis Dino Patti Jalal. Ibarat pertandingan sepakbola, Presiden SBY telah banyak membuang peluang di depan gawang. Ini peluang terakhir bagi Presiden SBY untuk menyusun kabinet impian bangsanya, yang mampu membawa bangsa ini keluar dari berbagai himpitan masalah, bukan kabinet mimpi atau kabinet tinggal mimpi.

kolom - Riau Pos 17 Oktober 20011
Tulisan ini sudah di baca 1705 kali
sejak tanggal 17-10-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat