drh. Chaidir, MM | Berburu ke Padang Datar | <i>Berburu ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Ibarat bunga kembang tak jadi</i>

Sejatinya, pantun pusaka itu selalu didedikasikan kepada guru, dan peringatan bagi murid. Gurulah yang mengajari murid tulis baca, tak peduli apakah setelah besar sang murid sukses jadi ca
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berburu ke Padang Datar

Oleh : drh.chaidir, MM

Berburu ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Ibarat bunga kembang tak jadi


Sejatinya, pantun pusaka itu selalu didedikasikan kepada guru, dan peringatan bagi murid. Gurulah yang mengajari murid tulis baca, tak peduli apakah setelah besar sang murid sukses jadi camat, bupati, walikota, gubernur, pengusaha, atau bahkan jadi presiden sekali pun. Semuanya berangkat dari bangku sekolah.

Dalam skala yang lebih luas, berguru sesungguhnya tak hanya di bangku sekolah. Berguru juga bisa dari pengalaman, bahkan ada ungkapan, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman pihak lain, baik atau buruk bisa dicontoh. Tetapi lazimnya, pengalaman baiklah yang ditiru, pengalaman buruk dijadikan pelajaran. Kita juga bisa belajar dari kesalahan-kesalahan sendiri. Orang-orang bijak sering mengingatkan, keledai saja tak pernah terjerumus ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Padahal keledai telah diberi stempel dungu.

Pemilihan Walikota Pekanbaru 2011 telah memberi banyak pelajaran yang berharga bagi masyarakat kita pada umumnya. Kita ingin menyontoh demokrasi di Negara maju yang telah memberi kesejahteraan bagi rakyatnya. Kenapa demokrasi? Karena menurut Churchill belum ditemukan sistem lain yang lebih baik. Tapi karena kita berguru kepalang ajar, maka demokrasi kita masih miskin substansi. Banyak lika-liku, tikungan-tikungan tajam, tanjakan-tanjakan terjal, penurunan curam, lereng-lereng licin yang harus kita lalui. Politik hukum pada era otonomi daerah sangat dinamis. Semula kita merasa peraturan perundangan yang ada sudah memadai sebagai sebuah aturan main, tetapi ternyata masih banyak kelemahan dan lubang-lubang kosong yang belum terjamah sehingga mantra yurisprudensi menjadi sebuah pilihan jalan keluar.

Prof Soepomo benar ketika ikut merumuskan UUD 1945 sesaat menjelang kemerdekaan bangsa kita puluhan tahun silam. Bahwa, tidak menjadi masalah UUD kita disusun secara singkat dan supel, yang penting adalah semangat penyelenggara Negaranya. Kalau semangatnya baik maka negara akan berjalan dengan baik, sebaliknya bila semangat penyelenggara negaranya yang tidak baik, maka serinci apapun UUD disusun, tetap tak akan mampu menjawab permasalahan. UUD 1945 sudah empat kali diamandemen, bahkan amandemen kelima sedang dirancang. Tetapi lihatlah realita dalam masyarakat kita, semakin rinci klausul konstitusi kita, semakin banyak yang terasa kurang. Masalahnya, semangat para penyelenggara Negara kita dari pusat sampai ke daerah, bukan semangat komplementer, saling isi mengisi, tetapi justru semangat untuk mencari celah-celah kelemahan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan sempit.

Pemilukada Pekanbaru 2011, hanyalah masalah kecil dalam sistem ketatanegaraan kita, tetapi banyak sisi-sisi sosio-politik-hukum menarik sebagai kajian akademis untuk memperbaiki sistem yang ada, sehingga demokrasi kita tidak seperti bunga kembang tak jadi.

kolom - Riau Pos 26 September 2011
Tulisan ini sudah di baca 2601 kali
sejak tanggal 26-09-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat