drh. Chaidir, MM | Malu Bertanya Sesat Di Jalan | Ada sebuah teka-teki humor, kenapa anak babi kalau berjalan menunduk? Jawaban yang pontennya 100 adalah, karena malu mereka anak babi. Bahkan konon, hantu pun marah bila anaknya disebut anak babi. Kecian ya...

Reputasi satwa babi kini benar-benar runtuh di seluruh dunia. Setelah wabah flu babi me
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Malu Bertanya Sesat Di Jalan

Oleh : drh.chaidir, MM

Ada sebuah teka-teki humor, kenapa anak babi kalau berjalan menunduk? Jawaban yang pontennya 100 adalah, karena malu mereka anak babi. Bahkan konon, hantu pun marah bila anaknya disebut anak babi. Kecian ya...

Reputasi satwa babi kini benar-benar runtuh di seluruh dunia. Setelah wabah flu babi mencemarkan dan mencemaskan, kini vaksin untuk pencegahan penyakit radang otak alias meningitis yang sudah digunakan jutaan orang jemaah haji Indonesia, divonis haram karena mengandung enzim babi. Alamaaaak...

Belum lama, produk abon daging sapi yang diproduksi oleh sebuah pabrik, diisukan dicampur daging babi. Untung produk tersebut sudah ditarik dari pasar. Isu yang sudah agak lama, ada sejenis penyedap makanan yang dituduh mengandung lemak babi karena menggunakan media lemak babi sebagai kultur pembiakan bakteri yang kemudian dipakai untuk proses fermentasi. Setelah ketahuan, maka kultur untuk pembiakan bakteri tersebut kini tidak lagi menggunakan lemak babi.

Tentu tidak semua penduduk mengharamkan babi, pada bagian lain negeri kita yang heterogen ini, babi bahkan dianggap ternak prestisius karena menggambarkan status sosial ekonomi pemiliknya; babi digunakan sebagai mas kawin. Semakin banyak babi sebagai mahar semakin tinggi gengsinya. Tapi dengan opini yang berkembang luas, apalagi yang menyangkut penyakit menular flu babi, hewan ini seakan menjadi musuh bersama. Padahal sebenarnya hanya namanya saja flu babi. Di Mexico sendiri, tempat wabah bermula, babi malah aman-aman saja. Virus flu babi H1N1 yang terkenal itu, diduga karena mutasi genetik, malah berbahaya antar manusia. Tapi dunia sudah terlanjur salah kaprah. Di Negara Bagian Victoria, Australia, sampai pekan lalu sudah 400 kasus ditemukan pada manusia, tidak ada sangkut pautnya dengan babi. Lantas kenapa babi yang disalahkan? Untung satwa ini tidak pandai berunjuk rasa. Kalau pandai, apalagi kalau mereka mampu membuat kalkulasi, berapa juta jemaah haji yang telah terselamatkan dari kemungkinan penyakit meningitis. Berapa komisinya, coba!

Pertanyaan yang berbondong-bondong di kepala adalah, kenapa baru sekarang diketahui bahwa enzim yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin meningitis itu enzim babi? Tidakkah ada formula lain? Tidakkah ada proses tender pengadaan vaksin meningitis setiap tahun? Bukankah kebutuhan vaksin sangat banyak? Adakah juga jemaah haji Pakistan, Malaysia, Iran, Irak, Turki, Mesir, Tunisia, Aljazair, dan lain-lain wajib divaksin? Negara-negara muslim manakah yang menggunakan merek sama dengan Indonesia? Kalaulah benar Malaysia menggunakan vaksin meningitis dengan formula enzim sapi, seperti yang disebut Prof Dr Mahdini, MA, Ketua MUI Riau (Riau Pos, Ahad, 7 Juni 2009 halaman 1), berarti kita sudah ketinggalan kereta. Berarti ada vaksin dengan merek dan formula lain yang tidak berurusan dengan babi.

Bisnis vaksin ini adalah bisnis yang sangat profitable. Berapa besar dana APBN yang sudah kita belanjakan untuk pengadaan vaksin flu burung? Sebagian besar vaksin itu kemudian kadaluwarsa. Agaknya dalam waktu dekat kita juga akan berbelanja besar untuk vaksin flu babi, mungkin tidak lama kemudian menyusul pengadaan vaksin flu kuda, flu kambing, flu musang, flu kucing garong, dan seterusnya. Ini perang dagang, kawan. Propaganda kontra propaganda tak kan terelakkan, sasaran akhir tetaplah konsumen. Jangan-jangan pemegang saham terbesar di pabrik produsen vaksin meningitis itu adalah Yahudi, siapa tahu? Kita dalam banyak kesempatan suka telmi. Tanya-tanyalah ke Negara sahabat. Jangan segan-segan. Kata orang tua-tua, malu bertanya sesat di jalan.

kolom - Riau Pos 8 Juni 2009
Tulisan ini sudah di baca 1451 kali
sejak tanggal 08-06-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat