drh. Chaidir, MM | Mengenang Ramadhan | RINDU. Satu kata cukup untuk mengutarakan perasaan terhadap Ramadhan. Padahal bulan istimewa itu baru beberapa hari berlalu. Dan, selama matahari masih terbit di timur, bulan Ramadhan akan tetap setia mengunjungi umat manusia sekali dalam setahun perputaran waktu, sampai dunia kiamat kelak. Begitula
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengenang Ramadhan

Oleh : drh.chaidir, MM

RINDU. Satu kata cukup untuk mengutarakan perasaan terhadap Ramadhan. Padahal bulan istimewa itu baru beberapa hari berlalu. Dan, selama matahari masih terbit di timur, bulan Ramadhan akan tetap setia mengunjungi umat manusia sekali dalam setahun perputaran waktu, sampai dunia kiamat kelak. Begitulah senantiasa, sebelas bulan dalam penantian dan dalam kerinduan.

Pembaca tentu boleh setuju boleh tidak, namun Ramadhan, pada kenyataannya, dalam masyarakat majemuk religious seperti masyarakat nusantara kita ini, tak (lagi) hanya dinikmati oleh kalangan muslim, saudara non muslim pun merasakan denyut kehidupan yang beda selama Ramadhan. Ada peningkatan semangat solidaritas, toleransi, persaudaraan, kekeluargaan, kesetiakawanan sosial, hidangan masakan lauk-pauk dan kue-mue yang sangat bervariasi, bahkan juga sindrom kerinduan kampung halaman, selalu hadir menghinggapi siapa saja.

Ajaran agama yang melekat dalam ibadah puasa Ramadhan tak pernah berubah dan berubah-ubah sejak dahulu kala. Tidaklah misalnya, seperti yang heboh saling kirim pesan melalui SMS itu, bagi simpatisan Presiden SBY, yang terkenal dengan jargon "lanjutkan" maka puasa Ramadhan boleh dilanjutkan sepuas-puasnya. Atau, misalnya bagi simpatisan mantan Wapres JK, yang terkenal dengan jargon "lebih cepat lebih baik", maka puasa Ramadhan boleh dipersingkat. Itu hanya sebuah intermezzo
.
Namun pesan sosial puasa Ramadhan selalu kontekstual dengan dinamika yang terjadi dalam masyarakat sesuai dengan masanya. Pesan sosial tersebut selalu dikaitkan dan diinterpretasikan dengan kebutuhan kekinian. Puasa Ramadhan yang bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 misalnya, pesannya tentulah dikaitkan dengan keikhlasan berkorban, berjihat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Puasa Ramadhan dalam era reformasi, pesannya barangkali tentang persatuan dan kesatuan umat. Pesan sosial puasa Ramadhan di Libya tahun ini misalnya, tentu beda dengan pesan sosial di Mesir atau di Malaysia.

Bagi bangsa kita, pesan sosial puasa Ramadhan lalu, yang paling relevan dengan hiruk pikuk permasalahan, dan paling mudah dikenang adalah nilai-nilai kejujuran. Kejujuran sering dikumandangkan oleh para ulama dalam ceramah Ramadhan melalui corong-corong menara masjid. Mudah diucapkan tetapi berat dalam pelaksanaan. Kejujuran bisa dinilai oleh orang lain melalui reputasi yang mendahului seorang tokoh, apa yang diucapkan, bagaimana komunikasi dibangun. Tetapi yang lebih penting, kejujuran adalah urusan kita dengan serigala yang ada dalam diri kita, bukan yang berada di luar sana.


kolom - Riau Pos 12 September 2011
Tulisan ini sudah di baca 1515 kali
sejak tanggal 12-09-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat