drh. Chaidir, MM | Bola Tanggung Marzuki Alie | PERNYATAAN Marzuki Alie, Ketua DPR RI, sebagaimana diberitakan secara hebat oleh berbagai media cetak dan elektronik, menggelinding cepat ibarat bola tanggung. Bola itu tak dapat tidak harus diperebutkan, tapi kalau tak hati-hati benturan keras bisa terjadi, kaki kawan atau lawan bisa patah.

Pert
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bola Tanggung Marzuki Alie

Oleh : drh.chaidir, MM

PERNYATAAN Marzuki Alie, Ketua DPR RI, sebagaimana diberitakan secara hebat oleh berbagai media cetak dan elektronik, menggelinding cepat ibarat bola tanggung. Bola itu tak dapat tidak harus diperebutkan, tapi kalau tak hati-hati benturan keras bisa terjadi, kaki kawan atau lawan bisa patah.

Pertanyaannya, sengajakah bola itu disodorkan tanggung, atau karena penguasaan bola (ball keeping) yang kurang mumpuni. Denotasi Marzuki Alie yang terkesan bak bola tanggung memang sudah terjadi beberapa kali. Komentarnya seputar musibah tsunami di Mentawai, wabah ulat bulu, dan masalah tenaga kerja wanita yang sering bermasalah di luar negeri, misalnya, dianggap off-side dan menuai banyak kritik. Tak terkecuali beberapa hari lalu, Marzuki Alie kembali melepas umpan tanggung. "Kalau tudingan Nazaruddin terbukti, sebaiknya KPK dibubarkan saja." Terhadap korupsi yang semakin merajalela di negeri ini, juga membuat Marzuki geram. Sang Ketua malah membuat pernyataan yang mengagetkan. Kita sudah capek ngurusi koruptor, jadi maafkan saja mereka, kita kembali benahi dari titik nol, begitu kira-kira, sebagaimana dikutip berbagai media.

Pernyataan itu membuat banyak pihak tersentak. Kelompok pro koruptor dan kelompok penggembira, yang selama ini sesungguhnya selalu "menembak dari atas kuda" jelas mendukung "pemutihan" ala Marzuki Alie. Tapi kelompok anti koruptor seperti naik pitam.

Membunuh tikus dengan membakar lumbung jelas merupakan logika yang tak tidak benar. Lembaga superbodi seperti KPK selama ini sudah kelihatan sepak terjangnya. Lembaga ini berani memenjarakan bupati atau walikota bahkan gubernur, atau beberapa pejabat tinggi, mantan menteri dan sebagainya. KPK memang lembaga semacam adhoc, sifatnya sebuah terobosan sementara, karena ternyata lembaga-lembaga penegakan hukum yang ada selama ini, yang ditugasi memberantas korupsi, dianggap tidak punya nyali dan taji untuk menangkap koruptor. Masyarakat menggantungkan harapan tinggi pada KPK untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang bersih.

Namun, sudah menjadi rahasia umum. Semakin banyak institusi yang melakukan audit keuangan, semakin banyak oknum pejabat yang dipidanakan oleh KPK, praktik korupsi semakin merajalela. Para pelaku seakan tak memiliki syaraf takut. Kasus cicak vs buaya, kasus dugaan manipulasi dana talangan korban lumpur panas lapindo, kasus century, rekening gendut, illegal logging, kasus Gayus, mafia APBN dan terakhir mega kasus Nazaruddin, membuat KPK seakan tak berdaya. Menurut cerita burung, sekian banyak bupati/waklikota, bahkan gubernur yang tersangkut kasus korupsi, tidak diapa-apakan. Bahkan cerita tak sedap dari mulut ke mulut, oknum-oknum pejabat daerah tersebut menjadi ATM oknum di pusat.

Memahami lingkaran setan yang tak habis-habisnya itu, bola tanggung Marzuki Alie agaknya perlu. Pernyataan itu bolehlah merupakan tamparan bagi Anggota KPK, aparat penegak hukum, dan para politisi yang tak punya nurani. Pandanglah pernyataan Marzuki Alie semata sebagai sebuah shock therapy. Andai misalnya para koruptor itu dimaafkan, ini akan membuka jalan berlakunya pengadilan rakyat. Jangan lupa, rakyat punya buku rapor, siapa-siapa oknum pejabat rampok teriak maling.

kolom - Riau Pos 1 Agustus 2011
Tulisan ini sudah di baca 1308 kali
sejak tanggal 01-08-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat