drh. Chaidir, MM | Sayonara Herman | SEPULUH tahun bukanlah masa yang panjang bagi sebuah kekuasaan. Kekuasaan Dinasti Ming di Tiongkok misalnya, mencapai hampir tiga abad. Dinasti Abbasiyah di Jazirah Arab berkuasa selama enam abad. Dinasti Ummayyah pula, ketika menguasai Kordoba di Spanyol berkuasa lebih kurang 275 tahun. Dan dinasti
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sayonara Herman

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPULUH tahun bukanlah masa yang panjang bagi sebuah kekuasaan. Kekuasaan Dinasti Ming di Tiongkok misalnya, mencapai hampir tiga abad. Dinasti Abbasiyah di Jazirah Arab berkuasa selama enam abad. Dinasti Ummayyah pula, ketika menguasai Kordoba di Spanyol berkuasa lebih kurang 275 tahun. Dan dinasti Raja-raja Majapahit di Pulau Jawa baru runtuh setelah berkuasa selama 169 tahun.

Kekuasaan pemerintahan di zaman modern dewasa ini, hampir tak lagi mengenal kekuasaan turun temurun, kecuali di beberapa negara yang menganut sistem kerajaan (monarkhi). Di berbagai penjuru dunia, kekuasaan umumnya dibatasi masanya oleh konstitusi. Itu jugalah yang terjadi di Kota Pekanbaru. Walikotanya silih berganti, tak ada dinasti. Dalam paradigma otonomi daerah, sepuluh tahun adalah masa terlama yang memungkinkan seorang walikota memegang tampuk pemerintahan. Sesudahnya harus mundur, lengser keprabon, segemilang apapun torehan prestasinya.

Tapi, untuk sebuah pertanggungjawaban, sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Jangankan sepuluh tahun, satu hari saja berkuasa, sudah cukup untuk menggiring seorang penguasa ke hotel prodeo. Betapa banyak bupati, walikota, atau bahkan gubernur harus menghitung hari di penjara karena gagal mempertanggungjawabkan kekuasaan yang digenggam. Itu baru pertanggungjawaban di dunia fana.

Oleh karenanya ketika Herman Abdullah turun tahta, mengakhiri masa jabatannya hari ini dengan aman setelah berkuasa selama dua periode (sepuluh tahun) sebagai Walikota Pekanbaru, tentu patut diberi apresiasi. Sebab banyak yang menyadari, semakin kaya dan semakin besar potensi ekonomi suatu daerah, godaan dan perangkap kekuasaan juga semakin besar. Bentuk godaannya beraneka rupa, mulai dari uang berkoper-koper, harta benda intan berlian, sampai bisa pula berupa iblis cantik dan seksi tak kalah dari Melinda Dee atau Syahrini.

Dalam banyak kasus di berbagai daerah di tanah air, kendati sistem pengawasan dan pemeriksaan keuangan terhadap pelaksanaan APBD sudah berlapis-lapis, tetapi tetap saja banyak yang bisa ditembus dan dikelabui. Ada koruptor tunggal, tapi yang berjemaah juga tak kalah hebatnya. Modusnya pun beraneka ragam.

Sepuluh tahun tentu banyak yang sudah dikerjakan oleh Herman Abdullah, tapi lebih banyak lagi yang belum dikerjakan. Wajar. Sebab, kebutuhan program pembangunan untuk masyarakat bergerak seperti deret hitung, yakni seperti suatu barisan penjumlahan bilangan, sedangkan aspirasi masyarakat berkembang seperti deret ukur, suatu barisan perkalian bilangan. Maknanya, nilai harapan masyarakat terhadap berbagai aspek yang menyangkut pelayanan publik semakin hari semakin meningkat cepat melebihi daya dukung sumber daya yang ada. Maka, sudah menjadi dalil, kebutuhan dan keinginan masyarakat tak akan pernah terpuaskan. Walikota tak mungkin memenuhi semua keinginan masyarakatnya dalam waktu tertentu sekaligus.

Herman Abdullah juga manusia, bukan malaikat. Dinamika politik di tengah masyarakat adakalanya melampaui batas ambang yang tak terjangkau oleh logika biasa. Tapi begitulah resam dunia. Setiap masa ada orangnya setiap orang ada masanya, ujar sejarawan Inggris Arnold Joseph Toynbee. Sayonara Herman, sampai berjumpa pula.

kolom - Riau Pos 18 Juli 2011
Tulisan ini sudah di baca 1359 kali
sejak tanggal 18-07-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat