drh. Chaidir, MM | Komedi Itu Perlu | MUSYAWARAH Daerah Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) di Pekanbaru beberapa hari lalu berlangsung panas. Demikian hebatkah persaingan memperebutkan Ketua PaSKI Riau? Atau, adakah kekuatan politik (seperti lazimnya) yang melakukan intervensi? Atau barangkali terimbas panasnya pemilihan Walikot
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Komedi Itu Perlu

Oleh : drh.chaidir, MM

MUSYAWARAH Daerah Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) di Pekanbaru beberapa hari lalu berlangsung panas. Demikian hebatkah persaingan memperebutkan Ketua PaSKI Riau? Atau, adakah kekuatan politik (seperti lazimnya) yang melakukan intervensi? Atau barangkali terimbas panasnya pemilihan Walikota Pekanbaru?

Ternyata tidak, Tuan! Musda itu panas karena memang ruangannya panas. Tak ada AC, tak ada kipas angin. Kalau pun benda itu ada, tak akan bisa dihidupkan karena tak ada aliran listrik. Nasib...

Untung peserta MUSDA tak mempersoalkannya, sebab di depan sudah menanti kue tart ulang tahun PaSKI lumayan besar yang siap diserbu. Dan khas gaya PaSKI, pisau pemotong kuenya adalah sebuah gergaji sungguhan. Namun apa daya, harapan untuk menikmati kue tart pupus karena ternyata kue tart itu hanyalah buah pepaya yang dionggokkan seperti kue tart. Tak ada seorang pun peserta MUSDA yang bernafsu menikmati "kue tart" jadi-jadian tersebut. Mereka tak mau senasib burung beo.

Tak ada yang penting betul dari organisasi seniman komedi. Komedi itu hanyalah sebuah sandiwara kehidupan, ringan, penuh kelucuan dan seringkali merupakan sindiran terhadap kehidupan itu sendiri. Tapi, di sinilah titik sentuh sesungguhnya dengan kehidupan nyata. Ketika negeri ini dipenuhi banyak penguasa egois, kaku, otoriter, serakah, tak memiliki rasa humor, dan bertelinga tipis alias tak tahan terhadap kritik, komedi adalah solusinya. Dengan demikian, sang penguasa diharapkan bisa tertawa dengan sindiran-sindiran ringan dan lucu, sehingga membuat kebijakan yang manusiawi. Tapi kalau dikritik tak bisa, disindir tak mempan, muka selalu masam, maka komedian tinggal berdoa semoga sang penguasa kembali ke jalan yang benar. Kalau tak kembali-kembali juga, doa terakhir dipanjatkan: semoga diterima di sisinya dengan tenang.

Sayang sekali, yang menjamur sekarang adalah komedi banyolan, yang hanya sekedar membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal, tapi tak berisi pesan apa-apa. Tak ada lagi komedi stambul, komedi berbahasa Melayu yang berkisah tentang Hikayat 1001 Malam, yang sarat makna.

Di tengah masyarakat kita yang letih dihimpit permasalahan politik, hukum, ekonomi, mafia, korupsi, kolusi, dan sebagainya, kehadiran komedian perlu untuk menyindir dan membuat masyarakat tertawa. Sebab tertawa itu sehat. Sebuah penelitian di Universitas Stanford misalnya, menemukan bahwa 2 menit tertawa - walau pun palsu - sama manfaatnya pada tekanan jantung dengan 10 menit berolahraga di mesin dayung. Selain itu, tertawa juga akan melemaskan otot-otot, memperbaiki pernapasan, meningkatkan kadar oksigen, memberi energi, mengurangi ketegangan, menghilangkan depresi, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh (sumber: google.com). Seseorang yang telah mencapai tingkat kedewasaan psikologis (orang yang kesehatan mentalnya terjaga) ditandai pula dengan kemampuan menertawakan dirinya sendiri, sekurang-kurang begitulah menurut Gordon Allport (1897-1967) seorang psikolog Harvard. Maka, tertawalah biarpun dibuat-buat, nanti Tuan akan tertawa sungguhan ketika menyadari Tuan telah tertawa dibuat-buat. Kalau belum bisa juga tertawa, undang PaSKI. Tidak perlu amplop honor, yang perlu adalah isinya...ha..ha..ha...

kolom - Riau Pos 20 Juni 2011
Tulisan ini sudah di baca 1686 kali
sejak tanggal 20-06-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat