drh. Chaidir, MM | Melodrama Bagan Siapiapi | ROKAN Hilir tentu tak hanya Bagan Siapiapi. Tapi harus diakui, tanpa Bagan Siapiapi, Rokan Hilir ibarat malam sepi bintang.

Salah satu baris lirik lagu paduan suara yang dibawakan dengan rancak oleh ibu-ibu keluarga DPRD Kabupaten Rokan Hilir mengawali prosesi pelantikan Annas Maakmun dan Suyatno
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Melodrama Bagan Siapiapi

Oleh : drh.chaidir, MM

ROKAN Hilir tentu tak hanya Bagan Siapiapi. Tapi harus diakui, tanpa Bagan Siapiapi, Rokan Hilir ibarat malam sepi bintang.

Salah satu baris lirik lagu paduan suara yang dibawakan dengan rancak oleh ibu-ibu keluarga DPRD Kabupaten Rokan Hilir mengawali prosesi pelantikan Annas Maakmun dan Suyatno sebagai Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hilir beberapa hari lalu, agaknya tepat mengekspresikan posisi Bagan Siapiapi kini. "Kota nelayan kota kenangan." Begitulah. Bagan Siapiapi masih di sana, di kuala Batang Rokan, di bibir Selat Melaka. Ikan bakar, udang rebus, terasi kelas satu, telur penyu, masih ada. Tetapi status kota nelayan sebagai kiblat daerah penghasil ikan, agaknya memang tinggal kenangan.

Bagan Siapiapi memiliki catatan sejarah yang pantas dikenang. Kota ini merupakan kota nelayan, yang pada era 1980-an tercatat sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar dan pelabuhan nelayan teramai di Indonesia. Bahkan pada suatu masa dulu, Bagan Siapiapi pernah terukir namanya sebagai kota penghasil ikan nomor dua terbesar di dunia setelah Norwegia.

Kejayaan Bagansiapiapi dimulai sejak 1886, ketika gelombang orang Tiongkok (sekarang Republik Rakyat Cina) mendatangi daerah ini karena termasyhur dengan jumlah ikan yang luar biasa banyaknya. Oleh karena itulah menurut catatan sejarah, kota Bagansiapiapi memiliki komunitas etnis Tionghoa terbesar dibandingkan dengan kota-kota pantai lainnya di Indonesia (wikipedia.org). Menurut sebuah artikel di Detik.com, kota ini memang dikembangkan oleh suku Tionghoa. Diungkapkan, hingga 1948, kota ini seluruhnya berpenduduk warga Tionghoa. Masa keemasan Bagansiapiapi mencapai puncaknya pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1930-an. Saat itu, pelabuhan Bagansiapiapi menghasilkan ikan sebanyak 300.000 ton per tahun. Kota pelabuhan Bagan Siapiapi ramai disinggahi saudagar Tionghoa dari berbagai penjuru dunia.

Namun kejayaan ini tak bertahan hingga masa kini, terutama setelah mulai meredupnya hasil perikanan sejak tahun 1970-an. Potensi perikanan Selat Melaka memang masih tetap besar namun sebenarnya sudah over fishing (kelebihan tangkap). Menurut data terakhir, potensi pengembangan di Selat Malaka adalah sebesar 84.928 ton, tapi pemanfaatannya mencapai 84.994 ton atau 100,07 persen (Prof Irwan Effendi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Riau, sebagaimana dimuat KOMPAS.com 31/1/2011). Biang keladi penyebab over fisfhing ini adalah trawl alias 'pukat harimau'. Untunglah sejak jauh hari pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 1980, yang melarang pukat harimau beroperasi. Namun kebijakan itu ibarat pisau bermata dua, potensi perikanan memang terlindungi, tetapi kapasitas perikanan pelabuhan Bagan Siapiapi menurun drastis. Akibatnya, banyak warga Bagansiapiapi yang mengungsi ke daerah lain, karena mata pencaharian sebagai nelayan tak lagi menjanjikan.

Di masa jaya-jayanya, Bagan Siapiapi tidak hanya menghasilkan ikan, tetapi juga menjadi pusat industri pembuatan kapal kayu. Namun semenjak tahun 1980-an industri kapal kayu ini satu persatu tumbang. Perairan kuala Batang Rokan tak lagi bersahabat. Sedimentasi terjadi demikian hebat sehingga perairan menjadi sangat dangkal. Pelabuhan Bagan Siapi-api yang dulu terkenal memiliki perairan yang dalam sehingga tongkang-tongkang ukuran besar nyaman berlabuh, kini sudah jauh berada di darat. Tidak hanya faktor sedimentasi, kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kayu untuk pembuatan kapal juga menjadi masalah ketika hutan di sepanjang Batang Rokan sudah habis dibabat baik legal maupun ilegal.

Icon Bagan Siapiapi sebagai kota perikanan dan industri kapal kayu memang tak lagi bisa dipertahankan. Namun bukan berarti Bagan Siapiapi sudah tamat riwayatnya. Menyaksikan Bagan Siapiapi sekarang, kota ini seakan-akan telah mengalami reinkarnasi - bangkit kembali dengan penampilan beda. Bagan Siapiapi kini terlihat cemerlang. Bangunan-bangunan berkubah megah terlihat dimana-mana. Jalan-jalan yang sempit menjadi lapang dan memberikan kenyamanan.

Bagan Siapiapi memang berupaya keras mencari icon baru. Dan icon itu kelihatannya adalah sektor pariwisata. Ritual Bakar Tongkang misalnya, dalam beberapa tahun terakhir ini melejit menjadi sebuah peristiwa wisata yang atraktif. Upacara ritual Bakar Tongkang atau Go Cap Lak diadakan berkaitan dengan penanggalan Imlek Tionghoa. Ritual ini mampu menyedot puluhan ribu wisatawan baik domestik maupun manca negara, terutama suku Tionghoa keturunan Bagansiapiapi yang berada di perantauan seperti di daratan Cina, Singapura, Hongkong, Taiwan, Malayia, dan juga yang bermukim di Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan dan Pontianak.

Bagan Siapiapi memiliki prospek yang bagus di bidang pariwisata. Obyek sejarah yang memiliki dimensi hubungan emosional dengan leluhur suku Tionghoa perlu terus digali dan dikemas, sebagai sesuatu keunggulan komparatif Bagan Siapiapi yang tak dimiliki daerah lain. Tak bisa dipungkiri Cina daratan dan Taiwan adalah potensi pasar terbesar pariwisata di masa depan.

Tantangan terbesar yang harus dikembangkan di Rokan Hilir adalah segera merampungkan prasarana transportasi. Selesainya jembatan Padamaran 1 dan Padamaran 2 yang menghubungkan Bagan Siapi-api dengan Kubu akan membuka akses Bagan Siapi-api. Apalagi nanti terbuka pula jalan Bagan Siapiapi-Dumai. Dengan demikian Bagan Siapiapi akan bisa diakses dari tiga jalur utama: Ujung Tanjung, Kubu dan Dumai. Di samping itu yang tak kalah pentingnya adalah pembangunan sebuah bandar udara.

Terbukanya jalur udara akan menjadikan Bagan Siapiapi tidak hanya sebagai gerbang pesisir Riau, bahkan lebih hebat lagi menjadi gerbang kawasan barat Indonesia yang menghadap ke Selat Melaka, di samping Dumai, Rupat dan Bengkalis. Pantai timur Sumatera akan gemerlapan. Hore..

kolom - 17 Juni 2011
Tulisan ini sudah di baca 2138 kali
sejak tanggal 17-06-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat