drh. Chaidir, MM | Cereka Bunyi - Riau Pos 13 Juni 2011 | PEMENANG Nobel Sastra asal Irlandia, William Butler Yeats (1865-1939), agaknya tidak berlebihan ketika mengatakan, sebuah negeri yang ideal adalah negeri yang ramai oleh lagu, sastra, puisi dan balada pada satu sisi, dan memiliki kemakmuran dan sistem yang kuat pada sisi lainnya.

Mudah dipahami.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cereka Bunyi - Riau Pos 13 Juni 2011

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMENANG Nobel Sastra asal Irlandia, William Butler Yeats (1865-1939), agaknya tidak berlebihan ketika mengatakan, sebuah negeri yang ideal adalah negeri yang ramai oleh lagu, sastra, puisi dan balada pada satu sisi, dan memiliki kemakmuran dan sistem yang kuat pada sisi lainnya.

Mudah dipahami. Kemakmuran selalu diukur dengan tingginya tingkat kesejahteraan ekonomi sebuah negeri. Penghasilan keluarga memuaskan, fasilitas pendidikan, kesehatan semua terjamin. Penduduk hidup aman dan nyaman. Tapi itu saja tidak cukup. Sebab, capaian itu mudah diwujudkan oleh sebuah pemerintahan otoriter. Kemakmuran seyogianya merupakan produk dari sebuah sistem pemerintahan yang kuat dengan tata kelola yang baik, bukan hasil dari pemerintahan sewenang-wenang atau buah kedekatan-kedekatan personal. Bila berawal dari sistem yang kuat, maka tak akan mudah digoyahkan oleh sebuah pergantian kepemimpinan.

Tapi sistem yang kuat saja belum ideal. Di samping kesadaran transendental ilahiah, jiwa masyarakat dan penguasa serta para politisinya harus pula disiram dengan kelembutan alunan lagu, kehalusan sastra, kesantunan sapaan sebuah puisi atau balada. Sebab politik sebagai instrumen kekuasaan bisa membengkok-bengkokkan kehidupan. Tapi mendiang Presiden AS, John F. Kennedy yakin, kehidupan yang bengkok-bengkok akibat ulah politik, bisa diluruskan oleh puisi. Iyakah? Mungkin, sebab senada dengan ungkapan itu, seorang filsuf terkenal, Voltaire menyebut, dunia boleh terbakar takhayul, filsafat memadamkannya.

Kita boleh setuju atau tidak dengan William Butler Yeats. Pada kenyataannya pementasan "Cereka Bunyi" enam komposer Riau di Anjung Seni Idrus Tintin Sabtu malam 11 Juni 2011 beberapa hari lalu, telah memikat hati penonton yang memenuhi gedung itu. Komposisi musik yang dibawakan oleh Bandar Serai Orchestra (BSO), seakan menyapa sebuah ruang hampa yang ditinggal oleh fragmentasi kehidupan. Komposisi musik itu tanpa terasa telah menyiram lembut jiwa yang kering kerontang diterpa badai politisasi di setiap sendi kehidupan tanpa ampun.

Bahasa musik adalah sebuah bahasa universal, bisa menyapa siapa saja. Mengertikah 80 negara peserta olimpiade musim dingin pada 2006 di Turino Italia terhadap lagu Nessun Dorma yang dinyanyikan oleh tenor kebanggaan Italia, Luciano Pavarotti? Tidak. Sebagian besar kita juga tidak paham komposisi Fur Elise karya Beethoven. Atau Sonata for Two Pianos in D Major karya Mozart yang mampu mengaduk-aduk jiwa dan menurut penelitian Frances H. Rauscher mampu meningkatkan nilai tes IQ. Dr. Raymon Bahr, direktur Unit Penyakit Jantung di Rumah Sakit St. Agnes di Baltimore, menggunakan musik Mozart dan Beethoven untuk membantu pasien mengatasi krisis. Ternyata, mendengarkan musik klasik selama 30 menit bisa menenangkan, setara dengan mengonsumsi 10 miligram valium (sumber www.resep.web.id).

Kita punya BSO, kita punya Malaka Strait Jazz. Keduanya pernah manggung menyapa para politisi kita di ruang paripurna DPRD Riau. Kita juga punya agenda Musik Hitam Putih for young generation. Dimana mereka gerangan? Adakah negeri yang disebut oleh William Butler Yeats itu hanya sebuah utopia?

kolom - Riau Pos 13 Juni 2011
Tulisan ini sudah di baca 1465 kali
sejak tanggal 13-06-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat