drh. Chaidir, MM | Pawai Alegoris Pancasila | BANGSA Indonesia beberapa hari lalu menikmati sebuah pawai alegoris yang tak biasa. Ini baru pertama kali terjadi sejak Indonesia merdeka. Yang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pawai Alegoris Pancasila

Oleh : drh.chaidir, MM

BANGSA Indonesia beberapa hari lalu menikmati sebuah pawai alegoris yang tak biasa. Ini baru pertama kali terjadi sejak Indonesia merdeka. Yang "berpawai" tak tanggung-tanggung, Presiden ke-3 RI Prof BJ Habibie, Presiden ke-5 RI Megawati Sukarnoputri dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Peristiwa itu patut diukir dengan tinta emas dalam sejarah modern bangsa Indonesia. Tiga Presiden RI pada masanya, menyampaikan orasi tentang makna yang terkandung dalam peringatan hari lahir Pancasila. Seluruh petinggi negeri hadir dalam acara tersebut. Bukankah sudah selayaknya bangsa ini memperingati hari lahirnya rumusan Pancasila yang kemudian menjadi dasar Negara itu? Wajar. Tetapi masalahnya, perilaku komunal bangsa kita dewasa ini, seakan kita tak pernah memiliki falsafah bangsa, seakan tak pernah memiliki pandangan hidup bangsa. Bangsa ini seakan tak lagi memiliki kepribadian. Masyarakat kita tumbuh dan berkembang menjadi sebuah masyarakat yang anomi, seperti yang disebut sosiolog Prancis Emille Durkheim, yaitu masyarakat yang ditandai dengan pandangan sinis terhadap norma. Terjadi disorganisasi hubungan antar manusia. Masyarakat kita seakan mengidap gejala ketidakseimbangan psikologis sehingga memunculkan perilaku menyimpang.

Sekedar menambah panjang catatan kita, sebuatlah misalnya, politik tanpa etika, hukum rimba, mafia kasus, korupsi, kolusi, bom bunuh diri, pembunuhan, perampokan, isu NII, dan seterusnya, dan seterusnya.

Kita kehilangan sesuatu yang bisa menjadi perekat kemajemukan. Akibatnya, sesuatu berkembang menjadi berlebihan. Kalau kaya, ingin menumpuk harta tujuh keturunan. Kalau berkuasa, ingin membangun dinasti. Perbedaan menjadi menghancurkan. Pengendalian diri, rasa senasib sepenanggungan, hormat menghormati, yang dulu didoktrinkan melalui Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), sekarang dianggap jadul, nggak gaul.

"Dimanakah Pancasila kini berada?" Hentak Prof Habibie mengawali orasinya yang berapi-api. "Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi, justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik." Apa yang diungkapkan Prof Habibie seakan mewakili perasaan bangsa ini. Ada sesuatu yang hilang, tetapi kita tidak mampu mengartikulasikannya secara tepat. Prof Habibie melakukannya.

Prof Habibie menambahkan, "Pertanyaan itu penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dibahas, dan apalagi diterapkan, baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan." Prof Habibie agaknya tidak berlebihan. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat sangat mendesak, sebelum bangsanya ini menjadi lebih karut marut. Kemasan aktualisasinya saja barangkali yang dibuat gaul. Presiden AS, Obama dalam pidatonya di UI Jakarta, November 2010 lalu menguraikan dengan menarik Pancasila dalam perspektif Amerika Serikat. Semangat toleransi, persatuan dalam keragaman, pulau-pulau yang menyembul indah dari samudera dihuni oleh orang-orang yang bebas memilih Tuhan yang ingin mereka sembah. Islam berkembang, demikian pula ajaran lain. Ah...kita tentu tak ingin belajar Pancasila dari Obama dan studi banding ke Amerika.

kolom - Riau Pos 6 Juni 2011
Tulisan ini sudah di baca 1316 kali
sejak tanggal 06-06-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat