drh. Chaidir, MM | Sang Kesatria | KETIKA Barack H Obama mengalahkan rivalnya John Mc Cain dalam pemilu presiden AS tiga tahun silam, dunia dibuat terkesima, betapa kesatrianya orang Amerika. Stigma adi kuasa yang selalu melekat pada AS dan dianggap bersahabat dengan kekuasaan yang sewenang-wenang, suka menindas, semau gue, sok kuasa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sang Kesatria

Oleh : drh.chaidir, MM

KETIKA Barack H Obama mengalahkan rivalnya John Mc Cain dalam pemilu presiden AS tiga tahun silam, dunia dibuat terkesima, betapa kesatrianya orang Amerika. Stigma adi kuasa yang selalu melekat pada AS dan dianggap bersahabat dengan kekuasaan yang sewenang-wenang, suka menindas, semau gue, sok kuasa, firaunisme, sama sekali tak kelihatan. Kesan yang menonjol, keduanya mempertontonkan semangat persaudaraan, saling menghargai. Mereka menampilkan, apa yang disebut sikap kesatria.

Barangkali diantara kita masih ingat, betapa dalam pidato kemenangannya yang disiarkan ke seluruh dunia, Obama menyebut McCain sebagai lawan yang tangguh. Memuji Mc Cain sebagai seorang pemimpin yang telah berbuat banyak memikul beban pengorbanan untuk Amerika; memuji kepemimpinan Mc Cain. Obama juga mengucapkan selamat kepada Mc Cain dan Gubernur Palin (Cawapres) atas capaian mereka, dan berjanji akan bekerjasama dengan rivalnya itu untuk bahu-membahu memperbaharui Amerika ke depan.

Dan lihatlah pula apa yang disampaikan Mc Cain dalam pidato kekalahannya. Mc Cain juga memuji Obama atas capaian hebatnya bagi Amerika. "Sen. Obama and I have had and argued our differences, and he has prevailed. No doubt many of those differences remain. These are difficult times for our country. And I pledge to him tonight to do all in my power to help him lead us through the many challenges we face." (Sumber: CNN Election Center2008 sebagaimana dimuat www.torayaprofessional.com). Maksudnya kira-kira, "Senator Obama dan saya telah adu argumentasi terhadap beberapa perbedaan dan dia telah memenangkannya. Tak ada keragu-raguan terhadap perbedaan-perbedaan itu. Negeri kita dihadapkan pada masa-masa sulit. Saya bersumpah malam ini kepada Obama untuk berbuat dengan semua kekuasaan yang saya miliki untuk membantunya menghadapi berbagai masalah yang dihadapi negeri ini."

Betapa indahnya. Sesungguhnya demokrasi itu indah bila semangat liberte, egalite dan fraternite (kemerdekaan, kesamaan dan persaudaraan) sebagaimana jargon Revolusi Prancis 1789, dihayati dan dilaksanakan secara jujur dan adil. Tapi di sinilah barangkali akar masalahnya. Di negeri timur yang non sekuler, dimana kita lahir dan dibesarkan, semangat persaudaraan selalu diagung-agungkan, semangat itu sering disebut ukhuwah, bahkan terkesan dimensi ukhuwah itu sering diklaim hanya negeri timur yang memilikinya. Namun pada kenyataannya, arogansi, politisasi rendahan dan kepentingan sempit yang berlebihan telah merubuhkan nilai-nilai persaudaraan itu. Bahkan juga memudarkan jiwa kesatria yang diwarisi turun temurun dari raja-raja nusantara kita. Sikap kesatria siap kalah siap menang hanya formalitas belaka. Pada kenyataannya jurus akal-akalan, pemutarbalikan fakta, lempar batu sembunyi tangan, maling teriak maling terjadi di depan hidung.

Terlalu banyak contoh buruk yang dipertontonkan dari cara kita berdemokrasi, terutama oleh pemilukada di negeri kita ini. Kejujuran, keadailan, sikap kesatria menghilang entah kemana. Kita merindukan pemimpin kesatria seperti Obama dan McCain. Atau barangkali rahim pertiwi kita tak lagi melahirkan pemimpin kesatria? Wallahualam.

kolom - Riau Pos 30 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 1423 kali
sejak tanggal 30-05-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat