drh. Chaidir, MM | Selamat Tinggal Politik Etnik | MASIH terlalu pagi untuk mengatakan mobilisasi kelompok etnik tak lagi relevan dalam pemilukada. Tapi gambaran itu sekurang-kurangnya terlihat dari hasil pemilihan Walikota Pekanbaru pada 18 Mei 2011 beberapa hari lalu. Testimoni atau bahkan manuver politik yang dilakukan beberapa tokoh yang menyere
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Selamat Tinggal Politik Etnik

Oleh : drh.chaidir, MM

MASIH terlalu pagi untuk mengatakan mobilisasi kelompok etnik tak lagi relevan dalam pemilukada. Tapi gambaran itu sekurang-kurangnya terlihat dari hasil pemilihan Walikota Pekanbaru pada 18 Mei 2011 beberapa hari lalu. Testimoni atau bahkan manuver politik yang dilakukan beberapa tokoh yang menyeret gerbong etnik untuk mendukung salah satu pasangan calon, tak menunjukkan hasil signifikan.

Tak bisa dipungkiri perilaku pemilih agaknya sudah mulai berubah, setidaknya untuk wilayah perkotaan (urban). Sebagai sebuah kota besar, struktur masyarakat kota Pekanbaru lebih heterogen daripada komposisi masyarakat yang tinggal di kawasan pedesaan yang mendominasi wilayah kabupaten. Secara sosilogis, masyarakat yang heterogen cenderung lebih maju pola pikirnya. Masyarakat kota juga lebih dinamis, tak terlalu terikat dengan pendekatan tradisi dan status, sehingga kepatuhan masyarakat lebih sulit dimobilisasi.

Faktor lain yang juga patut menjadi catatan dalam perubahan perilaku pemilih adalah tingkat pendidikan di perkotaan yang rata-rata lebih tinggi daripada masyarakat di pedesaan pada umumnya. Hal ini tentu sesuatu yang wajar sebab institusi pendidikan juga menumpuk di kota. Mahasiswa dan orang-orang terpelajar pada umumnya berbaur dengan masyarakat biasa, sehingga masing-masing bisa melakukan up dating isu-isu terkini baik yang panas maupun yang panas-panas dingin. Akses ke dunia informasi, jangan tanya. Jauh lebih terbuka. Bayangkan saja, kota Pekanbaru misalnya, memiliki sebelas surat kabar harian. Dengan gegap gempitanya industri media cetak tersebut, sedikit banyak pasti memberi pengaruh pada pola pikir dan perubahan perilaku masyarakatnya.

Pemilukada memang bukan memilih pemimpin etnik, apalagi kepala suku. Tapi pemilukada juga bukan hanya memilih seorang kepala pemerintahan. Lebih dari itu, pemilukada memilih seorang kepala daerah. Secara formal kepala daerah adalah CEO bagi daerah yang dipimpinnya, dan oleh karena itu harus menampilkan kepemimpinan yang efektif dalam menggerakkan seluruh sumber daya pembangunan. Birokrasi sebagai instrumen kemepimpinannya harus ditingkatkan kapasitasnya dengan pendekatan the right man on the right place; anggaran dikelola secara efektif dan efisien; mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Secara informal, seorang kepala daerah odiposisikan sebagai pemimpin masyarakat, harus mampu memberi keteladanan, bahkan orang pertama yang harus menyingsingkan lengan baju untuk berbuat kebajikan tak peduli waktu.

Pemilih di Pekanbaru telah mengungkapkan suara hati nuraninya. Mereka punya harga diri. Dan itu sebuah fakta. Ini tentu peringatan dini bagi para politisi, bahwa mobilisasi dukungan melalui pendekatan etnosentris, parokialistik, materialistik, tak lagi menentukan. Mempelajari fakta-fakta sosial seperti disebut sosiolog Emile Durkheim agaknya jauh lebih menarik daripada sekedar mencari kambing hitam.

kolom - Riau Pos 23 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 1918 kali
sejak tanggal 23-05-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat