drh. Chaidir, MM | Lain di Bibir Lain di Hati | DENGAN atau tanpa kokok ayam jantan sekalipun, fajar sang surya hari Rabu, 18 Mei 2011, tiga hari lagi, rasa-rasanya akan tetap menyingsing di Kota Bertuah ini. Hari itu menjadi hari yang istimewa bagi warga Pekanbaru, karena warga akan berama-ramai menggunakan hak pilihnya, memilih Walikota Pekanba
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lain di Bibir Lain di Hati

Oleh : drh.chaidir, MM

DENGAN atau tanpa kokok ayam jantan sekalipun, fajar sang surya hari Rabu, 18 Mei 2011, tiga hari lagi, rasa-rasanya akan tetap menyingsing di Kota Bertuah ini. Hari itu menjadi hari yang istimewa bagi warga Pekanbaru, karena warga akan berama-ramai menggunakan hak pilihnya, memilih Walikota Pekanbaru untuk periode 2011-2016.

Pada hari itulah seorang Rusli Zainal atau seorang Mambang Mit, suaranya dihitung sama dengan seorang pedagang ikan di Pasar Sukaramai atau Alfonso, si pengamen. Tidak ada yang diistimewakan, suara mereka masing-masing tetap saja dihitung satu. Begitulah hukum demokrasi. Vox populi vox Dei. Suara rakyat suara tuhan. Maksudnya bukan rakyat sama dengan tuhan, tetapi bila mayoritas rakyat berkehendak, maka itulah yang menjadi keputusan.

Demokrasi itu mengorangkan orang, memanusiakan manusia, "nguwongke wong." Demokrasi memberikan penghargaan yang luar biasa kepada rakyat. Kalau ditanya, siapa pemilik sah negeri ini? Maka jawabannya adalah rakyat. Rakyatlah yang memiliki kedaulatan. Mau dijadikan apa negeri ini tergantung pada rakyatnya.

Oleh karena itu tidak jarang sebuah rezim atau bahkan sebuah dinasti tumbuh dan runtuh silih berganti. Ada sebuah siklus alam yang tak bisa dilawan. Pemimpin pemerintahan itu dipilih oleh rakyat, pemerintah kemudian memerintah rakyat yang memilihnya, membuat program pemberdayaan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan pendidikan rakyat, dan sebagainya. Namun ketika satu generasi lahir, tumbuh dan terdidik menjadi manusia-manusia cerdas, mereka kemudian mengkritisi lingkungannya dan menuntut perubahan.

Pemikir Islam terkemuka, Ibnu Khaldun, menyebut, sebuah dinasti lahir, tumbuh, kemudian mengalami masa keemasan, selanjutnya demikian saja terjadi pembusukan-pembusukan akibat ulah kroni dan kerabat sang penguasa yang tidak kompeten, akhirnya mengalami keruntuhan. Bukan oleh siapa-siapa.

Setiap kali pemilihan umum entah itu pemilu legislatif, pemilu pilpres atau pemilukada, kita senantiasa diingatkan pada nilai-nilai yang melekat pada agenda demokrasi tersebut. Bahwa pemilu itu sebenarnya adalah sebuah solusi terhadap kebuntuan kreatifitas pemerintah dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh sebuah masyarakat. Pemimpin yang tidak efektif dalam menggerakkan sumber daya pembangunan diganti dengan pemimpin yang lebih efektif. Pemimpin yang kurang paham diganti dengan pemimpin yang lebih paham. Pemerintahan yang korup deganti dengan pemerintahan yang tidak korup. Namun itu ternyata tidak mudah. Solusi demokrasi ternyata tidak instan. Kenapa demikian? Karena demokrasi kita belum lagi fungsional.

Disamping alasan pragmatis yang bisa kita perdebatkan, alasan yang lebih fundamental adalah, kita belum menghayati nilai-nilai demokrasi seperti yang dicatat oleh Revolusi Prancis pada 1789. Nilai-nilai liberte, egalite, dan fraternite, dalam revolusi yang menjadi gerbang demokrasi ke arah peradaban manusia itu, hanya tiga kata, dan tidak pula sulit untuk diterjemahkan: kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Kita bahkan menambahnya dengan kejujuran dan keadilan. Tapi begitulah terlebih terkurangnya, kata tinggal kata. Demokrasi kita masih lain di bibir lain di hati.

kolom - Riau Pos 16 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 1811 kali
sejak tanggal 16-05-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat