drh. Chaidir, MM | Salah Pilih | RUMUSAN demokrasi itu sederhana. Abraham Lincoln menyebut, government from the people, by the people, for the people. Maksudnya, pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Secara sederhana, dapat diuraikan, pemerintah berasal dari rakyat artinya siapapun yang memerintah haruslah atas persetu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Salah Pilih

Oleh : drh.chaidir, MM

RUMUSAN demokrasi itu sederhana. Abraham Lincoln menyebut, government from the people, by the people, for the people. Maksudnya, pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Secara sederhana, dapat diuraikan, pemerintah berasal dari rakyat artinya siapapun yang memerintah haruslah atas persetujuan rakyat. Pemimpin berasal dari rakyat yang akan diperintah, dan dengan demikian akan berbuat yang terbaik untuk rakyat yang memilihnya.

Persetujuan rakyat diberikan melalui pemilihan umum yang menjunjung tinggi prinsip fair play. Artinya, bukan pemilihan akal-akalan yang sarat dengan rekayasa dan kecurangan. Semua yang berhak menggunakan suaranya harus diberi hak, didaftar sebagai pemilih. Persoalan mereka mau datang ke TPS atau tidak, itu hak mereka. Ada pemilih yang sudah terdaftar sebagai pemilih, tapi tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena sakit atau terhalang pekerjaan. Ada pemilih yang dengan kesadarannya sendiri tidak mau menggunakan hak pilihnya. Ada pemilih yang tidak memperoleh undangan. Kelompok ini terbagi dua, bisa karena undangannya disembunyikan setan alias kelalaian tak disengaja, bisa juga karena faktor kesengajaan.

Siapapun yang memenangkan mayoritas suara rakyat, dialah yang memerintah. Nah, Tuan dan Puan pembaca budiman, di sinilah perangkap demokrasi itu memperlihatkan wajahnya yang aneh. Nabi pun pernah bersabda - sahih atau tidak itu urusan ulama - manusia itu cenderung memilih pemimpin dari kalangannya sendiri.

Seperti apa kelakukan pemimpin, seperti itu pulalah kelakuan kaumnya. Masyarakat yang cerdas akan memilih pemimpin yang cerdas juga. Masyarakat yang religius akan memilih pemimpin yang religius. Tapi agaknya juga berlaku sintesa, masyarakat pemabuk akan memilih pemimpin pemabuk juga, masyarakat perokok akan memilih pemimpin perokok, masyarakat pencuri akan memilih pemimpin pencuri, masyarakat pembohong memilih pemimpin pembohong juga.

Mungkin tidak vulgar seperti itu. Tetapi rakyat sering salah pilih. Setelah dipilih, ternyata pemimpin tersebut melakukan korupsi sejadi-jadinya. Setelah terpilih secara demokratis, sang pemimpin justru membunuh demokrasi. Contohnya? Napoleon Bonaparte, Hitler, Hugo Chavez, terpilih melalui pemilu yang demokratis, tetapi setelah duduk di singgasana, mereka menjadi otoriter. Tak usah jauh-jauh di sekitar kita pun banyak contohnya.

Kenapa "teori" salah pilih itu ada? Karena masyarakat kita mudah lupa, terbuai oleh banjir hadiah, mabuk oleh bingkisan buah tangan, hanyut rayuan mulut manis. Alahai sayang...

kolom - Metro Riau 13 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 1362 kali
sejak tanggal 13-05-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat